Diposkan pada My Diary

Hari Terakhir PM Pertama

Jogja, Jumat 02 Mei 2014

Cerita kali ini diawali dengan sebuah kejadian yang menegangkan, membuat lutut gemetar, dan jantung serasa lengser sampai ke dengkul. Pagi ini seperti biasa aku turun dari bis 15 dan siap menyeberangi jalan ketika lampu berwarna merah tengah menyalah. Dengan percaya diri aku melangahkan kaki di atas zebracoss yang mulai mengabur. Tiba-tiba seorang wanita paruh baya yang mengayuh sepeda di belakangku sedikit menjerit…

“Awas Mbak…!!!”

Tidak lama kemudian, suara klakson dari arah kiri terdengar nyaring. Aku tidak sempat menoleh. Seketika itu juga aku menghentikan langkah dan sekejap itu pula sebuah motor tepat melintas di antara aku dan barisan kendaraan di hadapanku yang tengah berhenti. Beberapa pasang mata menatapku takjub bercampur cemas sekaligus tegang melihat adegan tadi. Aku, jika saja tetap melangkah maju maka sudah tentu akan tertabrak oleh motor yang entah bagaimana bentuknya. Baiklah, mungkin si pengendara motor tidak bisa mengenali warna, atau dia sedang buru-buru karena pacarnya nikah sama orang lain *nah kan, makanya gak usah pacaran, atau mungkin dia sedang kebelet mencret *mungkin, sehingga ia menyerobot antrian lampu merah tanpa peduli ada seorang wanita dengan jilbab besar berkibar-kibar yang tidak mungkin tidak terlihat, menyeberang di tempat dan waktu yang benar.

Aku tersenyum kepada semua yang menatapku, mereka balas tersenyum pahit. Mungkin mereka berpikir bagaimana bisa aku masih tersenyum sementara aku baru saja selamat dari maut, sementara ibu paruh baya tadi tak henti-hentinya berucap ‘Ya Allah Mbak…’

Ah, mereka tidak tahu saja bahwa setelah beberapa meter meninggalkan TKP aku langsung berucap syukur ratusan kali, aku memegang dadaku yang tiba-tiba berdetak hebat, lututku lemas, dan aku merasa baru saja kehilangan sepuluh tahun usiaku, kelalaian-kelalaian yang pernah aku lakukan bermunculan satu-persatu. Astaghfirullah, yang tadi itu apa? Beruntung responku cukup cerdas dengan tetap mematung di tempat. Jika tidak, ah aku tidak ingin membayangkannya. Satu hal, aku belum menikah! *nah loh, hubungannya…???!!!

Okey, mari kita tinggalkan prolog yang tidak mengenakkan di atas 😀

Hari ini adalah hari terakhirku PM (praktek mengajar) di TK Khalifah Kabupaten. Menurut isi surat penugasan PM kedua, aku akan dipindah ke TK Khalifah Pandeansari yang berarti aku harus adaptasi lagi *bagus, bagus, bagus. Rasanya tentu saja sedih. Satu bulan memang bukan waktu yang lama, tapi bukan pula waktu yang singkat untuk mengenal dan mengakrabkan diri dengan anak-anak TK Khalifah Kabupaten. Selama sebulan aku merasa menemukan dunia baru. Dunia yang semua orang dewasa pernah melewatinya namun tidak semua orang dewasa bisa mengerti. Yup, itulah dunia anak-anak. Dunia yang di dalamnya hanya ada bermain dan bermain.

Satu bulan aku berteman baik dengan bis 15, satu bulan Bunda Lina mengizinkanku menggantikan posisi Bunda Tiwi di hatinya eh di motornya :D, satu bulan aku bertemu dengan anak-anak yang kadang membuat kening mengerut tapi lebih sering membuat bibir tertarik ke samping kanan dan kiri membentuk senyum, bahkan tak jarang mereka berhasil membuat kami tertawa oleh tingkah polos mereka.

Aku masih ingat betul saat hari pertama PM dulu, aku datang pagi-pagi sekali setelah menggenjot sepeda kurang lebih 38 menit lamanya dan saat pulang aku berhasil tepar dibuatnya, paha dan kakiku sukses pegal-pegal tiga hari tiga malam. Sejak hari itu aku berjanji tidak akan lagi naik sepeda ke TK 😀

Aku masih ingat saat menemani mereka berenang dan bibir Alif berdarah karena terjatuh. Aku masih ingat saat mereka pentas di JEC dan kami harus mengejar mereka satu-satu yang entah ‘nyasar’ kemana karena ramainya wahana permaianan di sana. Aku masih ingat saat aku, Bunda Linda, dan Bunda Wiwik lomba lari memindahkan bola. Aku masih ingat saat Air menanyakan tetang jilbabku selama beberapa hari berturut-turut. Dan aku masih ingat betul saat suaraku berubah serak dan akhirnya habis karena mereka 😀

Di hari terakhir ini aku berharap semua anak-anak bermain dan belajar dengan senang. Aku diminta menghandle TK B, kelas yang selama ini paling sering aku masuki. Tidak heran jika aku lebih mengenal karakter mereka yang berada di TK B di banding mereka yang berada di kelas lain.

Ataya, si cerdik yang kadang menjadi pemicu timbulnya pem-bully-an. Rasyid, paling pintar dalam hal agama, mulai dari menghafal doa-doa sampai cerita nabi-nabi. Lionel, anak yang patuh dan terlihat lebih dewasa dibanding teman-temannya yang lain. Anan, si mata sedih yang penyabar. Yuda, karena keterlambatannya dalam beberapa hal, dia sering terlihat sibuk sendiri. Fatir, si rajin yang selalu datang pagi-pagi sekali. Fikar, si endut yang manja. Manda, anak yang egoisnya masih sangat terbaca. Nayla, anak yang patuh dan kalem. Dan Keke, anak perempuan yang sudah cukup dewasa, ia sabar dan gampang mengalah.

Hari ini aku mengajak anak-anak TK B main di halaman belakang. Aku ingin membuat hari terakhir ini berkesan dengan mengajak mereka belajar di luar kelas. Mereka semua bersorak gembira, bermain di luar apalagi tanah-tanahan adalah hobi setiap anak. Kami bermain lempar dan sembunyi batu. Antusias begitu terlihat di wajah-wajah mereka meski permainan yang kami mainkan begitu sederhana dan mungkin bagi sebagian orang dewasa tidak berarti sama sekali.

Setelah bermain di halaman belakang anak-anak istirahat kamudian masuk kembali. Kali ini kami bermain warna. Anak-anak bertugas mewarnai gambar yang sudah dipersiapkan. Mewarnainya boleh dengan cara dan gaya apa saja. Semua terlihat sibuk dengan kertas masing-masing dan juga sibuk menertawai kombinasi warna temannya yang menurut mereka sangat aneh. Aku tersenyum dan mengatakan pada mereka bahwa tidak ada yang salah dan aneh, semua terlihat bagus dan indah.

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Aku sudah harus menutup pelajaran hari ini dan sekaligus sudah harus berpisah dengan mereka. Sebelum benar-benar berpisah, aku meminta maaf dan menitipkan sebuah pesan…

“Anak-anak mulai senin besok Bunda sudah tidak mengajar di sini lagi. Jadi Bunda mau minta maaf ya kalau selama ini Bunda pernah buat kalian nangis. Ada yang pernah nangis karena Bunda gak?”

“Nggak…!!!”

“Ada yang pernah sakit hati atau marah karena Bunda gak?”

“Nggak…!!!”

“Alhamdulillah…, okey sebelum kita bepisah, Bunda ada pesan buat kalian. Kalian semua harus bisa jadi anak yang shaleh dan shalehah ya. Apa itu anak shaleh? Anak yang …”

“Yang rajin shalat, yang rajin belajar, yang sayang sama Mama Papa, yang sayang sama teman, yang nurut sama Bunda, yang nggak mukulin teman, nggak dorong-dorongan…”

Dan terdengarlah sahut-sahutan mereka dari segala sisi kelas. Aku tersenyum dan diam-diam mengaminkan setiap kata yang mereka ucapkan. Begitulah.

Hari terakhir juga ditutup dengan perpisahan ala kadarnya dengan kepala sekolah dan pengajar lain. Salah satu alasan yang membuatku merasa nyaman di sini adalah tim pengajar yang sangat welcome dengan kedatangan kami. Mereka semua sangat bersahabat dan menghargai keberadaan kami sebagai pelaksana PM.

Well, selamat tinggal TK Khalifah Kabupaten, selamat tinggal anak-anak, selamat tinggal Dek Raka, Zidan, Air, Alif, Kenzi, Farhan, Fikri, Rizki, Dd Bayi, Rangga, Caca, Ara, Ilona, Muti, dan Dek Syifa. Selamat tinggal Kakak Aa’, Arkan, Abi, Arya, Tita, Balqis, Air, Bia, Kak Lionel, Ataya, Rasyid, Anan, Yuda, Fikar, Fatir, Manda, Nayla, dan Keke. Semoga kelak kita masih bertemu entah kapan dan di mana, mungkin ketika kalian telah dewasa dan aku sudah memiliki anak seusia kalian. Entahlah…

_Nurhudayanti Saleh_

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s