Akhlak dan Nasehat · My Diary

Tertular Kebaikan

Jogja, Ahad 04 Mei 2014

Dari tujuh hari dalam seminggu, hari sabtu dan minggulah yang paling saya nantikan. Di dua hari itulah kami benar-benar menyibukkan diri pada perkara-perkara akhirat dan jauh dari kesibukan dunia; menuntut ilmu dan mengajarkannya lagi, dari matahari terbit hingga matahari terbenam.

Seperti hari ini, pagi-pagi sekali kami sudah sibuk untuk mengikuti seminar yang diadakan oleh Wahdah Islamiyah Yogyakarta dan Al Madinah. Seminar Akbar ‘Metode 40 Hari Menghafal Al-Qur’an’, begitulah yang tertulis besar di spanduk dan terbentang gagah di depan Gedung Multi Purpose UIN Yogyakarta. Peserta yang datang benar-benar membanjiri lokasi. Menurut hasil laporan ketua panitia, jumlah peserta yang memenuhi gedung mencapai angka seribu, Masya Allah.

Pertama menginjakkan kaki di dalam gedung, hati kami sudah merasakan haru. Kerinduan akan seminar-seminar dan daurah-daurah akbar seperti ini memuncah seketika. Kami (saya dan akhwat lain dari Makassar) sudah sangat terbiasa dengan acara-acara berskala besar dengan jumlah peserta lebih dari seribu. Karena ini pertama kalinya di Jogja (acara besar yang diadakan Wahdah Islamiyah), maka pantaslah jika haru ini berkecamuk dan rindu ini sedikit terobati.

Ruangan dibagi dua oleh hijab hitam yang terbentang tinggi. Di atas panggung telah tesedia tiga kusri kosong yang akan diisi oleh dua narasumber dan satu moderator. Peserta semakin berdatangan. Akhwat dan ikhwan semakin memenuhi ruangan, bahkan untuk ikhwan, ada yang harus duduk melantai di lantai dua.

Acara pun dimulai. MC membuka acara dengan sangat bersemangat, sambutan dari ketua panitia pelaksana dan ketua Wahdah Islamiyah menyusul bergatian. Lalu setelah itu, inilah momen yang kami tunggu-tunggu; acara inti yang akan diisi langsung oleh Syaikh Karamallah Abdallah Bin Asy-syaikh Bin Abdillah dari Sudan, seorang syaikh yang menemukan metode cepat menghafal Al-Qur’an untuk siapa saja.

Menurut beberapa pakar Al-Qur’an, seharusnya Syaikh Karamallah bisa mendapatkan sebuah nobel atas penemuannya ini. Ah, tapi apalah arti nobel pemberian manusia jika ternyata di sisi Allah ada sebuah penghargaan yang jauh lebih baik dan mulia.

Syaikh membuka seminar pagi ini dengan memaparkan keutaman orang-orang yang menghafal Al-Qur’an. Beliau yang berusia masih sangat muda itu yakni 28 tahun menjelasakan bahwa penghafal Al-Qur’an mendapat kedudukan yang mulia, yang agung, dan yang istiewa baik di dunia, di alam kubur, terlebih lagi di surga kelak.

Setelah beliau memberi nasehat dan motivasi, laki-laki yang berkulit gelap itu melanjutkan dengan bercerita tentang awal mula lahirnya metode 40 hari menghafal Al-Qur’an yang ternyata terinspirasi dari kebiasaan menghafal anak-anak pesantren-pesantren yang ada di Sudan. Beliau ingin, bukan hanya anak-anak pesantren yang bisa menghafal Al-Qur’an tapi juga seluruh ummat muslim di mana pun berada dan apapun profesinya saat ini.

Awalnya metode ini diuji coba pada sebuah unversitas jurusan teknik yang jauh dari kegiatan menghafal Al-Qur’an. Selama 40 hari mereka dibina dan menjalani serangkain proses yang pada akhirnya, tepat di hari ke-40, lahirlah penghafal-penghafal Al-Qur’an dari jurusan teknik tersebut, Masya Allah. Metode itu berhasil dan dari situ mulailah metode ini dikenal bukan hanya di Sudan tapi juga beberapa negara lain, termasuk di Indonesia.

Begitulah yang bisa disampaikan oleh Syeik. Lalu materi seminar berganti pada nara sumber kedua yang tidak lain poduk dari metode tersebut. Beliau adalah dr. Faizal Abdillah Shabib, seorang dokter yang rela meninggalkan pekerjaannya, kliniknya, karyawannya selama kurang lebih 40 hari untuk berangkat ke Sudan.

Alhamdulillah, beliau berhasil menghafalkan Al-Qur’an dan pulang kembali ke Indonesi membawa tekad di dalam hati, kelak dia akan mengadakan program yang sama untuk melahirkan penghafal-penghafal Al-Qur’an di Indonesia. Dan benar, di tahun 2013 kemarin beliau mengadakan program tersebut di kota Makassar (kota asal beliau) untuk pertama kalinya. Dari kurang lebih 50 peserta ikhwan, ada 12 orang yang berhasil menghafalkan Al-Qur’an dalam rentan waktu 40 hari. Sementara yang lain berhasil menghafalkan Al-Qur’an sebanyak 20 juz bahkkan lebih.

Dr. Faizal tak lupa memberikan kiat-kiat dalam metode tersebut, juga tak lupa memperlihatkan rekaman singkat tentang kegiatan yang diikuti berbagai lapisan usia, dari yang masih anak-anak sampai yang bapak-bapak. Dari rekaman video, kami bisa melihat secara nyata bahwa metode ini benar-benar berhasil mencetak penghafal Al-Qur’an dalam waktu singkat. Tak terasa mata kami menghangat tat kala melihat rekaman 12 orang tadi, satu-persatu dari merea sujud syukur karena telah berhasil menghafalkan Al-Qur’an, ayat-ayat Allah.

Adzan dhuhur pun sayup-sayup berkumandang, pertanda seminar sebentar lagi berakhir. Rasanya tentu tidak cukup. Kami masih ingin diberi ilmu oleh dua nara sumber yang merupakan guru dan murid itu. Sebelum MC benar-benar menutup seminar, Syaikh memberikan kami hadiah kecil, beliau melantunkan surah Al-Fatihah dan lima ayat pertama surah Al-Baqarah dari 10 macam qira’ah yang terkenal.

Ketika beliau baru melafazkan ta’awuzd, kami (terutama saya pribadi) sudah tak sanggup mengangkat muka. Kepala saya tertunduk mendengar lantunan ayat demi ayat dan bersamaan dengan itu buliran bening dari kedua mata saya jatuh tak terbendung. Kami semua terharu, sangat-sangat terharu. Kami semakin ingin seperti mereka yang mampu menghafal Al-Qur’an. Kami ingin berlomba membuat makota yang kelak akan kami pakai di atas kepala-kepala kami di surga kelak, insya Allah

Pulang dari seminar, tak ada keinginan lain selain ingin menghafal Al-Qur’an sabanyak mungkin dalam waktu singkat dan mencoba semua cara dari metode tersebut meski tentu saja belum bisa sesempurna dan secepat mereka yang mengikuti karantina. Tapi setidaknya kami harus mencoba, harus komitmen serta konsisten, dan kami tidak boleh menunggu kata nanti. Sepulang dari seminar kami tertular kebaikan dan sepertinya seluruh peserta juga tertula hal yang sama ^_^

_Nurhudayanti Saleh_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s