Akhlak dan Nasehat

Daun Gugur Akan Hancur

Tengoklah daun di ujung tangkai sana. Tersentuh angin lalu gugur kemudian hancur, entah terinjak atau sepi dimakan waktu. Dulu daun itu hijau nan segar, namun entah mengapa ia lalu membenci air, ia mulai lusuh dan layu. Ia terbuai dengan sentuhan angin yang palsu, lembut dan syahdu di awal namun menyeret dan ganas di akhirnya.

Begitulah aku mengumpamakan sang penuntut ilmu (agama). Kita ibarat daun, air ibarat ilmu, dan angin ibarat dunia. Daun sangat membutuhkan air, tanpa air ia layu dan lusuh. Kita pun sama, membutuhkan ilmu, tanpa ilmu semua ibadah atau apapun yang kita lakukan akan sia-sia. Kita shalat, kita butuh ilmu tentang shalat; rukunnya apa, gerakannya bagaimana, bacaannya seperti apa, dan lain sebagainya. Kita ingin menikah, kita butuh ilmu; bagaimana pernikahan yang syar’i, apa yang boleh dan tidak boleh ada pada saat acara pernikahan, bagaimana memulai malam pertama, dan sebagainya.

Semua hal butuh ilmu. Dari kita bangun sampai tidur kembali. Dengan ilmu kita tahu mana yang halal dan mana yang haram. Dengan ilmu kita bisa menjawab pertanyaan orang lain, dengan ilmu kita bisa beribadah dengan khusyu, dengan ilmu kita bisa melipatgandakan pahala. Ilmu adalah kunci kebahagiaan. Ilmu yang membuat kita bersyukur, bersabar, dan berserah diri kepada Allah.

Lalu bagaimana jika kita mulai menjauhi ilmu? Mulai membenci sumber kebahagiaan kita sendiri? Daun tanpa air, begitu pula kita tanpa ilmu. Kita akan merasa kering, kosong, dan nelangsa, tidak bahagia. Akan selalu ada yang kurang dalam hidup dan hati-hati kita. Semua yang kita lakukan akan sia-sia di sisi Allah karena semuanya tidak dilandasi oleh ilmu. Ilmu adalah air, sumber kesejukan hati kita, sumber energi pikiran kita, sumber kedewasaan dan kebijaksanaan sikap kita. Ilmu adalah kebutuhan kita.

Angin memang tak kalah menyejukkan, sama seperti dunia. Bahkan di mata kita, banyak hal dunia yang sangat menarik jiwa. Laki-laki akan begitu tertarik dengan wanita. Wanita akan sangat tertarik dengan perhiasan dan harta. Dunia begitu pandai, ia akan berubah menjadi sesuatu yang sangat kita idam-idamkan dan damba-dambakan. Dia akan membuat kita sibuk dengannya sehingga kita melupakan kebutuhan kita yang paling utama yakni ilmu.

Daun mulai membenci air dan terbuai tiupan angin. Kita sama saja. Di antara kita ada yang lebih memilih disibukkan dunia ketimbang disibukkan menuntut ilmu agama. Ada yang lebih bisa meluangkan waktu untuk hal-hal dunia, namun tak punya waktu untuk ilmu agama. Ada yang memilih menyiapkan seratus alasan untuk tidak menuntut ilmu agama, namun tak punya satu alasan pun untuk hal yang sesunguhnya tidak akan membantu di akhirat kelak.

Daun lupa, bahwa sentuhan lembut angin akan berubah menjadi topan dan menggugurkannya. Kita lupa bahwa dunia hanya sementara, tidak akan pernah abadi. Kita lupa bahwa dunia hanya tempat singgah, suatu hari kita akan mati. Kita lupa dunia hanya sebentar dan akhirat itu sejati. Kita lupa dunia tidak lebih berharga dari sayap seekor nyamuk. Kita lupa bahwa dunia tidak akan pernah ikut bersama kita dan menjadi pembela kita di hadapan Allah kelak. Kita lupa dan mungkin juga pura-pura lupa.

Daun akhirnya gugur lalu hancur. Setelah terperdaya dengan dunia, setelah tidak lagi menuntut ilmu agama, setelah kita tak lagi peduli dengan nasehat orang-orang shaleh, tunggulah, kita juga akan hancur seperti daun kering nan lapuk. Hancur karena sudah tidak peduli tentang mana yang wajib dan mana yang mubah. Kita mulai melakukan berbagai cara untuk mencari pembenaran bukan kebenaran. Kita mulai cuek-cuek saja tanpa ada rasa bersalah dan rindu di dada untuk kembali pada barisan para talabul ilmi.

Kita mungkin terlihat baik-baik saja di luar, tapi Allah paling tahu tentang hati kita. Hati kita mulai tertutupi noda-noda hitam yang semakin hari semakin bertambah dan bertumpuk-tumpuk. Hati kita mulai benci dengan seruan oran lain. Hati kita mulai marah setiap kali ada yang bertanya mengapa dan mengapa. Lalu lama-kelamaan, kebencian kita semakin besar hingga tak mau lagi mendengar ajakan untuk kembali. Inilah yang namanya hancur. Dunia kita terlihat baik-baik saja di mata manusia tapi sebenarnya kehancuran akhirat tengah menanti tanpa kita tahu pasti.

Begitulah, daun yang gugur tentu akan hancur. Bertanyalah sekarang, jangan menunda besok; maukah kita menjadi daun yang gugur? Hati yang bersih nan bening tentu akan menjawab tidak. Palung hati terdalam pun akan menjawab sama, tidak. Kita tentu ingin bahagia dunia dan akhirat karena itu kita semestinya tidak pernah lelah, bosan, dan jenuh memelajari serta menambah ilmu agama.

Daun jangan lagi membenci air. Nasehat kecil untuk hati yang mulai mengecil.

_Nurhudayanti Saleh_        

One thought on “Daun Gugur Akan Hancur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s