My Diary

Trik Sulap (PM Hari Ketiga)

Sejak tanggal 01 April 2014 kemarin, saya dan teman-teman diklat PAUD Alif-A Yogyakarta mulai memasuki masa PM alias Praktek Mengajar ke beberapa TK Khalifah yang tersebar di kota Jogja. Alhamdulillah, saya ditugaskan di TK Khalifah Kabupaten tidak sendiri, ada Bunda Lina yang menjadi partner setia😀

Awalnya, saya diserang kegalauan. Bingung mau ke tempat PM (jaraknya kira-kira 6-8 km) mengendarai apa. Bis? Setahu saya tidak ada bis yang langsung menuju ke sana. Ada, tapi harus jalan lagi sekitar 1.5 km. Mau naik motor nggak punya motor. Mau sewa motor nggak punya SIM. Mau ngurus SIM mesti balik ke Sulsel. Mau ke Sulsel nggak ada uang buat bayar pesawat bolak balik. Singkatnya saya nggak bisa berangkat naik motor sendiri.

Sewa ojek perempuan? Hem, bisa saja sih bahkan saya sudah dapat linknya. Hanya saja setelah saya pikir masak-masak rasanya butuh biaya yang tidak sedikit, sementara masih ada banyak hal yang lebih penting dari sekedar membayar tukang ojek, misalnya biaya menyogok perut yang keroncongan😀

Oke, akhirnya saya memilih alternatif terakhir yaitu mengayuh sepeda Dede. Keputusan saya yang satu ini sampai membuat sahabat saya Mega melongo tak percaya. Dia berulang kali menanyakan keputusan saya mengayuh sepeda putih pink itu dari kosan sampai TK Khalifah Kabupaten. Setiap kali dia bertanya, setiap kali itu pula saya menjawab mantap; Aku yakin!

Tibalah hari H. Pagi-pagi sekali, sekitar jam 6, saya sudah siap berolahraga mengayuh sepeda. Masker dan sarung tangan sudah terpasang mantap. Jika diperhatikan, saya sudah layaknya pesepeda professional dengan jilbab terjuntai panjang. Singkat cerita, saya tiba dengan selamat di TK. Saya mengayuh kurang lebih 38 menit. Tidak lama dan cukup menyegarkan.

Tapi, jangan salah paham. Pergi naik sepeda ke tempat PM memang menyegarkan tapi saat pulang, masyaAllah saya benar-benar kepayahan. Bahkan saya sampai istirahat tiga kali. Istirahat pertama, saya tarik nafas panjang. Istirahat kedua saya merogoh tas, mengeluarkan donat dan minuman yang tinggal sedikit sekali. Lalu istirahat ketiga, saya merogoh uang lima ribu rupiah untuk membayar jus melon😀

Tiba di kosan saya langsung tepar, kaki saya pegal-pegal, dan keringat saya mengalir bak air keran, basah sebasah-basahnya. Dalam hati saya berikrar tidak akan lagi naik sepeda ke tempat PM. Melihat saya kepayahan, Mega hanya bisa tertawa pasrah😀

Hari kedua pun tiba. Saya memutuskan untuk naik bis 15. Saya pikir inilah solusi terbaik untuk saat ini. Saya tentu sangat berterimakasih pada Bunda Lina yang baik hati, tidak sombong, rajin menabung, dan rajin gosok gigi. Saya selalu menunggu partner PM saya yang manis ini di depan lorong, lalu bersama-sama ke TK dengan mengendarai motor metik ungunya tanpa harus jalan kaki. Paling tidak, dengan begini (naik bis plus nebeng ama Bunda Lina), saya hanya perlu mengeluarkan ongkos transportasi enam ribu rupiah perhari, yippiiii …😉

Dan tibalah hari ini, hari ketiga PM. Hari yang Alhamdulillah lebih baik dari dua hari sebelumnya. Jika dua hari sebelumnya kami belum cukup mengenal anak-anak murid di TK, di hari ketiga ini kami …, masih belum hafal juga sih. Tapi paling tidak di hari ketiga ini, kami sudah lebih banyak mengenal mereka. Bahkan menurut saya, di hari ketiga ini saya berhasil menaklukkan beberapa anak.

Setiap anak punya keunikan tersendiri. Mereka seolah punya dunianya masing-masing. Kadang tingkah mereka membuat kami kelabakan. Semua teori yang sudah dipelajari di diklat buyar seketetika. Yah, teori memang tidak selalu sama dengan kenyataan yang dihadapi di lapangan.

Tiara, anak perempuan yang paling pendiam. Dia sebenarnya masih usia Play Group, tapi selalu mengekor pada Amanda, kakak perempuannya yang sudah TK B. Saking pendiamnya, kami menggelarinya silent kid.

Air dan Laut, kakak adik yang satu ini bertolak belakang. Air, anak perempuan yang periang selayaknya anak kecil seusianya. Sementara Laut, anak laki-laki yang sangat melankolis, gampang menangis, tapi paling gampang memejamkan mata dan tidur lelap meski anak-anak lain berlarian di sekitarnya.

Zidan dan Raka, dua anak laki-laki usia PG ini sangat lucu dan menggemaskan. Zidan, dia selalu asyik dengan dunianya, sangat pandai berinteraksi sosial, dan paling suka main air.

Raka, kalau yang satu ini sukanya pegang wajah temannya, hobinya memukul apa saja mirip seorang drummer, dan berwajah ‘terpesona’. Maksudnya kalau si Raka sudah menatap seseorang, maka tatapannya adalah tatapan terpesona oleh seseorang yang ia tatap itu. Waktu pertama kali bertemu, saya sempat dibuat bingung oleh Raka. Saya bingung, entah dia yang terpesona oleh saya atau saya yang terpesona oleh dia *nah loh😀

Aak, nah kalau yang ini paling sulit diatur. Dia selalu ingin terlihat berbeda dari teman-temannya. Kalau yang lain berbaris rapi, dia malah lari ke sana ke mari. Kalau yang lain main kejar-kejaran, dia memilih main balok. Dia juga paling suka menjadi pembuat masalah. Jika ada yang melempar, maka itu Aak. Kalau ada yang berbicara aneh, maka itu dipastikan Aak. Imajinasinya pun sedikit beda, Jika teman-temannya memikirkan Superman, maka dia lebih suka memikirkan zombie, hantu, pocong, dan teman-temannya.

Fikar, kalau yang ini anak mama. Sepanjang sekolah, ditunggui oleh mamanya. Sedikit saja mamanya hilang dari pandangan, maka dia akan sedih dan keluar mencari. Dibanding dengan teman-temannya di TK B, dia sedikit lamban dalam beberapa hal. Fikar belum lancar membaca dan belum bisa menulis dengan huruf kecil.

Lalu masih banyak lagi anak-anak lainnya; Caca yang centil, Alif yang suka diajak main sama Caca, Syifa yang imut-imut, Talita yang hebat bahasa inggris, Keke yang sukanya diam-diam makan dan minum di kelas ngajak Amanda, Nayla yang kalem bak seorang puteri, dan sekelompok anak laki-laki yang beranggotakan Leonel, Rasyid, Ataya, Yudha, dan yang lain yang saya lupakan namanya😀

Mencuri atau menarik hati anak-anak untuk tertarik atau paling tidak menoleh pada kita memang susah-susah gampang. Apalagi anak laki-laki yang aktif dan seringkali lebih suka dan lebih gencar melakukan banyak hal over untuk diperhatikan. Jika kita ingin diakui sebagai guru dan teman mereka, maka kita harus punya trik atau cara yang belum pernah sekalipun mereka dapatkan. Yah, namanya juga anak-anak, mereka suka hal-hal baru apalagi yang membuat mereka penasaran.

Nah, karena itu hari ini saya mencoba satu trik untuk menggaet hati mereka, terutama hati anak-anak lelaki. Trik saya adalah trik sulap. Yup, yup, saya memperlihatkan pada mereka sebuah atraksi sulap sederhana yang pernah diajarkan oleh kakak saya sewaktu saya masih seusia mereka; mengeluarkan tutup botol dari dalam mulut kosong.

Awalnya mereka terlihat malu-malu untuk tertarik, tapi lama-kelamaan, semakin saya mengulang sulap itu, semakin mereka penasaran. Di akhir permainan saya mengajari mereka trik sulap tersebut. Semua tertawa setelah mengetahui rahasianya dan berlomba-lomba mempraktekkan dengan improvisasi mereka masing-masing. Mereka bergantian menampilkan kemampuan mereka di depan saya. Saya tertawa dan berusaha memberikan perhatian pada setiap anak. Diam-diam, detik itu juga saya bersorak; Yes, hari ini saya berhasil membuat mereka melihat dan memperhatikan saya!

Begitulah. Hari ketiga PM rasanya sangat menyenangkan. Dua hari sebelumnya saya merasa belum bisa memasuki dunia mereka, ada dinding tinggi yang mereka bangun dengan sangat kokoh. Tapi hari ini saya merasa lebih baik, dinding itu sudah sedikit rubuh meski belum sepenuhnya. Saya berharap besok dan besoknya lagi akan jauh lebih baik. Yah, semoga saja saya masih punya trik sulap lain untuk diajarkan di hari esok😀

_Nurhudayanti Saleh_ (03 April 2014)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s