Diposkan pada Akhlak dan Nasehat

Di Antara Hitbah dan Walimah

Menikah atau biasa disebut dengan walimah menjadi sesuatu yang sangat istimewa bagi siapa pun yang merasa telah siap membangun sebuah mahligai rumahtangga. Sebelum sampai pada hari-H (walimah) ada beberapa proses yang tentunya harus dilewati oleh si calon pengantin, salah satunya adalah hitbah atau pinangan.

Hitbah biasanya dilakukan setelah kedua calon (akhwat dan ikhwan) setuju melanjutkan proses ta’aruf ke proses selanjutnya. Biasanya dan memang sudah selayaknya jarak antara hitbah dan walimah tidak terlalu jauh. Mengapa? Nah itulah inti dari catatan saya kali ini ^_^

Baik si akhwat maupun si ikhwan, memiliki prinsip yang sama yaitu TIDAK PACARAN. Karenanya mereka sama sekali tidak melewati tahap yang biasa orang-orang sebut sebagai tahap penjajakan. Pada tahap ini, tidak jarang dua orang yang melabelkan hubungan mereka sebagai label pacaran melakukan hal-hal yang melanggar aturan agama, dari gandengan sampai yang membuat perut sang wanita membuncit.

Namun, tidak melewati tahap pacaran bukan berarti si akhwat dan ikhwan bebas dari hal-hal yang bisa menodai bersihnya hati. Di antara hitbah dan walimah, di situlah tempat Syetan berupaya keras untuk menyusup. Mungkin si akhwat dan ikhwan berhasil lolos dari jerat pacaran, tapi berhati-hatilah karena ada ujian lain yang siap menanti.

Setelah hitbah kedua keluarga tentu akan sibuk mempersiapkan acara walimah. Kedua keluarga harus saling berhubungan dan membuat beberapa kesepakatan agar tidak terjadi tumpang tindih nantinya. Dan di sinilah Syetan bekerja. Ia membisikkan subhat-subhat pada keduanya untuk saling menghubungi. Awalnya mungkin hanya sekedar membahas tentang persiapan walimah tapi lama-kelamaan pembahasan mulai melenceng ke hal-hal yang lebih pribadi. Awalnya mungkin hanya menanyakan tentang pendapat kedua keluarga, lama-kelamaan malah menanyakan kabar, udah shalat atau belum, atau bentuk perhatian lainnya.

Syetan tentu terus akan berbisik bahwa semua hal tersebut adalah hal yang wajar, hal yang tidak mengapa dilakukan dua orang yang akan menikah. Toh sebentar lagi kita menikah, toh sebentar lagi aku suaminya, toh sebentar lagi aku menjadi isterinya, dan masih banyak lagi alasan-alasan yang menjadi pembenaran kedua calon pengantin. Pada akhirnya, ketika syetan berhasil menyusup ke hati kedunya, maka walimah yang dulu mereka harapkan, walimah yang murni tanpa dinodai setitik dosa sirna sudah.

Begitulah kerja Syetan. Jika ia gagal pada satu cara, maka ia akan mengambil cara yang lain. Jika mereka gagal menjerumuskan kita pada pacaran, maka mereka akan mencoba menjantuhkan kita di antara hitbah dan walimah, jeda waktu yang ujiannya jauh lebih besar. Karenanya, berhati-hatilah bagi kalian yang sedang berada pada tahap tersebut. Semoga Allah tetap menjaga hati-hati kita.

Dan sebagai seorang yang belum menikah, saya tentu berharap; kelak ketika nanti saya menikah, saya ingin pernikahan itu benar-benar suci dalam arti yang sebenar-benarnya ^_^

_Nurhudayanti Saleh_

Iklan

Satu tanggapan untuk “Di Antara Hitbah dan Walimah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s