Cerpen · My Diary

Selamat Tinggal Anting

Lagi-lagi kukatakan bahwa hidup itu seperti roda yang terus berputar. Adakalanya kita di atas, ada kalanya juga kita di bawah. Tapi di manapun posisi kita saat ini, rasa syukur tetaplah menjadi kunci kebahagiaan dalam mengarungi kehidupan.

Saat itu usiaku 12 tahun, baru saja menamatkan pendidikan di sekolah dasar dan melanjutkannya ke MTs, seperti jejak saudara-saudaraku sebelumnya. Untuk sebagian besar anak-anak seusiaku, sifat kekanakan begitu masih melekat. Sikap manja dan kurang mandiri ala anak SD masih tergambar jelas. Tapi tidak buatku. Sedari kecil aku diajarkan untuk menjadi anak yang mandiri, kuat, dan tidak cengeng. Terpaan hiduplah yang mengajarkan aku dan saudara-saudaraku akan hal itu.

Aku masih ingat, saat harus mendaftar sekolah dasar, aku tidak ditemani satupun keluargaku. Aku hanya mengekor pada tetanggaku yang kebetulan juga akan mendaftarkan anaknya ke sekolah yang letaknya tidak jauh dari rumah. Saat itu Bapak sakit parah dan harus dirujuk keluar kota. Saking parahnya, mama dan saudara-saudaraku tak bisa meninggalkan Bapak dan menemaniku mendaftar ke sekolah dasar. Jadi senyum-senyum sendiri saat membayangakan aku yang masih berusia 6 tahun mendaftarkan diriku sendiri masuk sekolah, hehehe.

“Namanya siapa nak?” Tanya seorang guru yang bertugas mendata murid baru saat itu.

“Namanya Nurhidayanti…” Kata orangtua tetanggaku cepat. Ia berniat membantuku kala itu.

“Bukan Nurhidayanti tapi Nurhudayanti…” Gumamku dengan suara pelan. Guru itu pun tidak mendengar ucapanku. Dan jadilah saat itu namaku Nurhidayanti. Setiap kali namaku disebut saat guru kelas mengabsen, maka setiap kali itu pula aku akan membenarkan namaku…

“Bukan Nurhidayanti Buk/Pak. Tapi Nurhudayanti…”

Tahun ajaran baru menjadi masa-masa sulit tersendiri bagi Mama saat itu. Kelima anaknya yang masih sekolah tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Apalagi saat itu dua kakakku tercatat di salah satu Universitas di Makassar yang tentu saja membutuhkan biaya kuliah dan biaya hidup yang besar.

“Kira-kira kita bisa minta bantuan siapa ya Pak…” Kata Mama di suatu malam. Ia bingung memikirkan dari mana lagi kiranya ia mendapat uang untuk dikirimi ke anak-anaknya yang kuliah di luar kota. Penghasilan Bapak sebagai PNS saat itu tidak bisa menutupi seluruh keperluan keluarga. Tapi ah, materi bukanlah tolak ukur kebahagiaan sebuah keluarga. Dan aku salut pada Mama dan Bapak, dalam keadaan apa pun mereka tetap bisa tersenyum bahkan bercanda. Kami anak-anaknya kadang tidak tahu bahwa sebenarnya mereka sedang dilanda masalah perekonomian yang pelik. Kami hanya tahu makan, tidur, sekolah, main, dan mengira semuanya baik-baik saja.

“Jual aja anting punya Anti Ma…” Celetukku seketika. Mama dan Bapak kaget mendengarku. Mereka mengira saat itu aku sudah tertidur pulas seperti saudara-saudaraku yang lain.

“Kamu belum tidur?” Tanya Mama coba mengalihkan pembicaraan.

“Iya, belum. Mama jual anting aku aja. Gak papa kok…” Kataku lagi. Ya, buatku bukan masalah besar tidak memakai anting. Lagi pula aku tidak terlalu suka dengan perhiasan. Dan karena itu jugalah hingga hari ini, tak ada anting yang menghiasai telingaku seperti kebanyakan kaum wanita di luar sana.

Selain karena memang tidak terlalu suka dengan perhiasan, lebih dari itu aku sangat sedih. Malam itu aku baru meyadari betapa Mama dan Bapak berusaha keras menghidupi kami, bahkan mereka rela utang sana sini.

“Ngomong apa kamu? Mama gak akan menjual antingmu. Mana ada anak perempuan gak pakai anting. Sudah kamu tidur saja.” Kata Mama sedikit marah mendengar ucapanku. Entah ia marah karena aku terlalu mencampuri urusan mereka atau marah karena tak bisa berbuat apa-apa saat itu hingga ia terpaksa mendengar anaknya yang berusia 12 tahun rela mengorbankan antingnya demi membantunya.

Malam itu aku tidur dengan mata basah. Bukan karena ucapan Mama tapi karena aku sedih tak bisa berbuat apa-apa demi Mama dan Bapak meski tentu saja mereka sama sekali tidak berharap bantuan dari anaknya yang masih kecil.

***

“Anti, bangun Nak…” Mama berbisik padaku lembut. Saat itu masih subuh. Aku membuka mata perlahan dan mendapati Mama menangis di sampingku. “Mama ambil antingnya untuk dijual ya. Mama janji, Mama akan menggantinya nanti. Beneran gak papa kan sayang?” Sambung Mama tak tega melepas anting itu dari telingaku. Saat itu Mama tidak menemukan jalan keluar dan terpaksa menerima usulanku.

Aku tersenyum meyakinkan Mama kalau aku sama sekali tidak keberatan. Bahkan merasa sangat bahagia karena bisa meringankan beban Mama meski tak seberapa. Jangan menangis Ma, rasanya aku ingin mengucapkan kalimat itu tapi tak sanggup. Aku takut kalimat itu malah semakin membuat Mama sedih.

“Gak papa kok Ma…” Kataku sambil pelan-pelan melepaskan anting yang sudah bertahun-tahun menghiasi telingaku itu dan memberikannya pada Mama yang akan menjualnya pada tukang emas di pasar. Selamat tinggal anting. Semoga kau terjual dengan harga mahal,batinku kala itu.

Selesai

NB:

Pernah ada seorang teman bertanya…

“Kok kamu gak beli anting?”

“Tunggu dibeliin suami…” Jawabku sambil tersenyum ^^

_Nurhudayanti Saleh_ (04 Oktober 2011)

One thought on “Selamat Tinggal Anting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s