My Diary

Ampuni Kami Sekali Lagi

“Kak coba lihat keluar deh, sepertinya sedang hujan abu.”

Hujan abu? Aku melangkah cepat ke arah balkon lantai dua. Sudah jam lima lewat tapi terlihat masih gelap. Aku menatap sekeliling. Ada seperti kabut tebal yang menutupi udara di sekitar tempat tinggalku. Atap teras ibu kos yang terlihat dari lantai dua tidak lagi biru tapi berubah menjadi abu-abu. Sengaja kusentuh pagar pembatas balkon, hem… tanganku kini dipenuhi debu yang tebalnya kira-kira mencapai 3-5 mm. Orang-orang keluar memakai payung dan jas hujan padahal pagi ini tidak sedang kejatuhan air dari langit.

Aku segera masuk kembali, mengambil hape, dan mengecek facebook, jika benar sedang hujan abu, teman-teman fb pasti akan ramai membicarakannya. Tidak perlu menunggu lama, satu persatu status teman-teman muncul di beranda. Dan benar, hampir semua teman membahas hujan abu pagi ini, hujan abu pertama aku di Jogja.

Dari status teman-teman fb saya bisa tahu ternyata hujan abu pagi ini adalah imbas dari meletusnya gunung Kelud yang terletak di Jawa Timur semalam. Masya Allah, betapa dahsyat letusan itu bahkan kami yang di Jawa Tengah merasakan hujan abu yang cukup tebal. Lalu bagaimana dengan mereka yang berada di sana, yang hanya terletak beberapa kilo meter dari pusat bencana?

Ada yang menulis bahwa gunung Kelud semalam meletus sebanyak empat kali sekitar pukul 22.50 wib. Ada juga yang menulis kalau Kediri dan Malang bukan hanya dihadiahi hujan abu tapi juga hujan kerikil, lantas ada juga yang menulis tentang bencana yang akhir-akhir ini banyak menimpa Negara Indonesia.

Aku hanya bisa beristighfar berulang-ulang. Semua nampak dan terbaca begitu cemas serta ketakutan. Hujan abu masih terus turun. Jalanan, rumah-rumah, serta pepohonan terselimuti debu putih. Aku, teman-teman, dan ibu kos kembali mengamati jalanan dari lantai dua. Abu semakin tebal. Ibu kos bahkan melarang kami untuk keluar rumah . Jarak pandang semakin pendek saja.

Diam. Aku duduk dan merenung. Tepat tanggal 14 Februari Kelud memuntahkan isinya. Tentu saja ini hanya teguran kecil dari Allah. Bukan hanya karena ini tanggal 14 Februari dimana sebagian besar orang-orang merayakan hal yang tidak perlu, merayakan sebuah kemaksiatan mengumbar nafsu, tapi ini juga teguran atas semua kelalaian yang kita lakukan baik secara pribadi maupun bersama, dari yang kecil hingga yang besar.

Saat ini semua orang merasa ketakutan, takut abunya semakin tebal, takut akan bencana yang lebih besar, takut akan mati. Ya, begitulah sebagian dari kita. Kita hanya akan merasa takut dan menyadari semua kesalahan kita jika sedang mendapat musibah dan bencana. Tapi setelahnya, tapi setelah Allah bermurah hati menghentikan bencana tersebut kita kembali dalam kemaksiatan, bergelut seolah-olah tidak pernah terjadi apapun.

“Dan apabila manusia itu ditimpa bencana, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan bencana yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: “Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka.” (Az-Zumar: 8)

Namun paling tidak itu masih lebih baik dari mereka yang sama sekali tidak sadar pada teguran kecil dari Tuhan. Ada yang hanya menganggapnya sebagai siklus alam yang memang sudah seharusnya, ada pula yang tenang-tenang saja dan tetap dalam kemaksiatannya. Bahkan yang lebih menyesakkan dada, ada yang dengan musibah malah semakin gencar berbuat dosa, meminta pertolongan pada selain Allah, menyajikan sesaji demi sesaji. Naudzubillah…

Teman, tahukah mengapa musibah datang secara beruntun menghampiri kita? Tidakkah kita mengambil pelajaran sedikit saja? Sungguh, kita hanya makhluk yang amat sangat lemah. Tidak ada kekuatan secuil pun untuk sekedar menunda musibah satu detik dari seharusnya.

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kamu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari dosa-dosamu.” (QS. As Syura, 42 : 30)

Teman, jika kita mau, kita pasti akan tahu bahwa sungguh kita tidak punya banyak waktu untuk berleha-leha. Setiap jam, menit, detik yang akan datang tak ada yang bisa menebak dengan pasti. Sungguh, kita tidak punya waktu untuk bersantai. Allah bisa mengirimkan bencana kapan pun Dia mau. Jadi, mengapa kita masih berdiam diri? Mengapa tidak bersegera menyiapkan diri menghadap Ilahi dengan memperbanyak amal shalih?

Aku masih duduk merenung. Mencoba menghitung kelalaian yang tak terhitung. Ah, kenapa aku melakukan hal yang tidak berguna? Menghitung dosa tentu tidak akan ada habisnya. Lalu aku sedikit menegakkan badan dan membatin; Ya Rabb, kami memohon, ampuni kami sekali lagi.

_Nurhudayanti Saleh_ (Jogja, 14 Februari 2014)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s