Diposkan pada Akhlak dan Nasehat, My Diary, Sosok

Atheis Menemukan Islam

Malam itu Dede memperlihatkan sebuah video seorang Atheis yang akhirnya memeluk Islam. Mungkin kalian sudah tahu siapa yang aku maksudkan. Dialah seorang pria Australia yang dulu bernama Ruben, namun setelah memeluk Islam ia mengganti namanya menjadi Abu Bakar. Di video yang berdurasi kurang lebih 14 menit itu, Abu Bakar mencoba menceritakan bagaimana akhirnya ia bisa memeluk agama Islam, agama yang paling ia benci selama ini.

Abu Bakar menceritakan, saat itu ia baru saja memasuki bangku kuliah. Di minggu itu banyak peristiwa yang harus ia hadapi, orang tuanya bercerai, anjing kesayangannya mati, dan teman terdekatnya meninggal dunia. Karena peristiwa yang beruntun itu, ia mulai bertanya-tanya dalam hati; Jika memang setelah mati tidak ada apa-apa lagi, lalu untuk apa seseorang itu hidup? Untuk apa aku hidup?

Pertanyaan itulah yang akhirnya membuatnya (seorang Atheis) mau mencari tahu tentang agama. Karena ia orang Australia, tentu saja agama yang ia pelajari pertama kali ada Kristen, agama yang mayoritas dipeluk oleh orang-orang Australia. Mulailah ia mendatangi sebuah gereja, bertemu dengan pastur dan bertanya tentang hidup, tentang apa saja yang sedang mengganggu pikirannya akhir-akhir itu.

Setelah beberapa lama mendalami agama Kristen, ia merasa ada yang aneh. Setiap kali ia datang dan bertanya, pastur tidak pernah mengambil injil untuk menjawab pertanyaan Abu Bakar. Pastur itu menjawab sesuai pendapatnya atau pemahamannya sendiri. Begiitu pun ketika ia datang ke gereja lainnya, sehingga dalam satu pertanyaan ada banyak jawaban yang berbeda dari pastur-pastur tersebut. Lalu Abu Bakar kembali bertanya pada dirinya sendiri; Bagaimana bisa jawabannya berbeda padahal Injil mereka sama. Pertanyaan ini membuatnya mengambil keputusan untuk tidak memeluk Kristen.

Abu Bakar kembali melakukan pencarian agama, ia mempelajari Katolik, Hindu, dan juga Budha. Ia pernah bertanya pada temannya yang beragama Hindu; Mengapa kepala tuhanmu harus kepala gajah (Patung Ganesa)? Ada apa dengan gajah? Mengapa tidak diganti dengan kapala singa atau kepala hewan yang lebih baik?

Saat melihat pemeluk agama Budha yang mayoritas berkulit putih (China) dengan komunitas mereka, Abu Bakar merasa telah mendapatkan agama yang benar. Ia kagum dengan kebersamaan orang-orang berkulit putih. Namun setelah ia mendalami, Abu Bakar menemukan jawaban bahwa itu bukanlah sebuah agama tapi sebuah perkumpulan yang baik.

Di saat Abu Bakar mulai merasa lelah mencari, seorang teman bertanya padanya; Agama apa saja yang sudah kau dalami?

“Aku sudah mendalami Kristen, Katolik, Hindu, Budha, tapi aku belum menemukan apapun.”

“Kenapa kau tidak mencoba mendalami Islam?”

Saat mendengar pertanyaan temannya, wajah Abu Bakar serta merta berubah memerah dan berkata; Hai Islam itu teroris! Yang benar saja. Aku tidak akan mendekati Islam. Ah apa kau sudah gila?! Begitulah reaksi pertama Abu Bakar saat itu. Namun, pada suatu hari ia akhirnya memberanikan diri menuju ke sebuah masjid. Rasa penasarannya menuntunnya ke sana.

Saat ia melihat ke dalam masjid, ia mendapati beberapa orang sedang melakukan shalat. Ia kemudian berfikir, mengapa orang-orang ini sujud, tidakkah mereka takut kepala mereka akan terinjak orang lain.

Karena belum berani untuk masuk, Abu Bakar terus saja melihat-lihat dari luar. Seketika itu datanglah seorang laki-laki menghampirinya. Saat laki-laki berjenggot tebal itu mendekat, hal pertama yang ada di kepala Abu Bakar adalah ia akan mati, itulah hari terakhirnya, karena sebentar lagi ia akan ditembak mati.

Tapi pikiran itu runtuh seutuhnya ketika laki-laki berjenggot itu menghampirinya dengan senyuman dan bertanya; Apa kabar saudaraku? Abu Bakar terkejut; Bagaimana mungkin aku menjadi saudaranya, bertemu dengannya saja baru kali ini. Laki-laki berjenggot itu mempersilahkan Abu Bakar masuk dan duduk bersama. Disambut seramah itu, keberanian Abu Bakar muncul satu-persatu. Mulailah ia mengajukan pertanyaan yang sama yang ia tanyakan pada pemuka agama lain sebelumnya.

Laki-laki berjenggot itu mengambil Al-qur’an, membukanya, dan memperlihatkan pada Abu Bakar jawaban dari pertanyaannya. Begitu seterusnya, setiap kali dia bertanya, setiap kali itu pula laki-laki berjenggot mebukakan Al-Qur’an untuknya. Semua pertanyaan yang ia ajukan bisa dijawab oleh Al-Qur’an.

Selagi laki-laki berjenggot itu menemani Abu Bakar berdiskusi, laki-laki berjenggot lainnya membuatkan teh dan menyuguhkan biskuit untuknya. Setiap tehnya habis, setiap kali itu pula datang teh baru. Abu Bakar senang karena dijamu dengan sangat baik, olehnya keesokan hari ia datang kembali untuk menikmati biskuit dan tentu saja untuk mendapatkan jawaban-jawaban lainnya dari Al-Qur’an.

Suatu hari Abu Bakar meminta izin untuk membawa pulang sebuah Al-qur’an. Ia berjanji akan memperlakukan Al-Qur’an dengan baik, dia tidak akan meninggalkannya di sova atau yang lainnya. Ia berjanji untuk membacanya. Maka hari itu pulanglah Abu Bakar dengan sebuah Al-Qur’an.

Di rumahnya, ia terus membaca Al-Qur’an. Ia bisa merasakan bahwa Al-Qur’an bukanlah buku biasa. Al-qur’an berbeda dengan novel atau buku lainnya yang ditulis oleh manusia. Semakin ia membacanya, semakin ingin ia memeluk agama Islam.

Tibalah di sebuah siang yang cerah. Ia menutup pintu kamar, membuka jendela, dan menyalakan sebuah lilin. Ia duduk di depan lilin sambil memegang Al-Qur’an dan berkata; Allah, inilah saatnya aku memeluk Islam, tapi sungguh aku masih membutuhkan satu hal yaitu tanda. Ibaratnya, aku sedang berdiri di ujung tebing. Aku hanya membutuhkan satu dorongan untuk jatuh ke dalam jurang itu. Ya Allah, itulah yang aku butuhkan sekarang. Sebuah tanda darimu bahwa betul, inilah agama yang benar sehingga aku tanpa ragu memeluknya. Tidak perlu tanda yang besar, yang kecil-kecil saja. Sebuah kilat menyambar di langit mungkin, atau rumahku rubuh setengah, atau lilin ini tiba-tiba meloncat empat meter. Ya, yang kecil-kecil bagi-Mu.

Lama ia menunggu, tidak ada yang terjadi. Tanda-tanda yang ia minta sama sekali tidak muncul. Tapi Abu Bakar tidak menyerah, ia kembali berkata; Ayolah Allah. Ini adalah kesempatanmu membuktikan padaku. Aku tidak kemana-mana. Aku akan tetap di sini menunggu. Hem, mungkin Kamu lagi sibuk mengurus dunia ini, karena dunia ini memang penuh dengan masalah. Okey, mari kita lupakan tentang kilat dan lilin itu. Berikan aku tanda yang lebih kecil. Karpet terbang mungkin atau burung yang kentut di udara, atau apalah yang kecil-kecil. Kamu tahu kan maksudku? Tentu Kamu bisa melakukannya. Ini kesempatan terakhir-Mu Allah.

Lama menunggu, lagi-lagi tak ada yang terjadi. Bahkan sekedar untuk mengatakan; Hai itu dindingnya retak, itulah tandanya, juga tidak ada kesempatan. Abu Bakar merasa sangat kecewa dan wajahnya cemberut. Ia merasa sudah menyerah memeluk Islam, ia harus bersiap untuk mencari agama baru. Ia bangkit dari duduknya dan menuju tempat tidur. Ia membuka lembar berikutnya (melanjutkan bacaannya) dalam Al-Qur’an. Dan Subhanallah, ia membaca beberapa ayat yang menjawab kegalauannya…

Untuk kalian yang meminta petunjuk? Tidakkah sudah Kami tunjukkan kepada kalian? Lihatlah bintang-bintang yang menghias langit, lihatlah matahari yang bersinar, lihatlah sungai yang mengalir. Semua itu petunjuk bagi mereka yang mengetahui.

Seketika itu juga Abu Bakar tertegun. Seluruh tubuhnya gemetar. Ia menutup matanya dan pura-pura tertidur saking takutnya. Ia tersadar bahwa betapa sombongnya ia telah menantang Allah, meminta tanda untuknya padahal tanda-tanda itu sudah terhampar luas di sekitarnya. Lihatlah langit, lihatlah bumi, lihatlah gunung, itulah tanda-tanda kebesaran Allah.

Saat itu juga ia memutuskan memeluk Islam. Malamnya ia ke masjid yang sering ia kunjungi. Betapa terkejutnya ia mendapati ada lebih kurang seribu jama’ah yang sedang melakukan shalat berjamaah. Ia belum pernah menemukan jama’ah sebanyak itu. Belakangan ia tahu, saat itu ternyata malam pertama Ramadhan 😀

Abu Bakar duduk di depan lautan jenggot. Ia siap untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Saat dituntun, ia merasa kesulitan; Ass? Apa maksudmu dengan ass? Tanyanya keheranan.

“Bukan ass tapi Asyhaduallah Ilaha Illalllah wa asyhaduanna muhammadarrasulullah.”

“Tidak bisakah kita mengucapkannya dalam bahasa Inggris saja?” Tanyanya.

“Tidak bisa. Kita harus mengucapkan dalam bahasa Arab.”

Keringat Abu Bakar bercucuran. Ia kembali menatap lautan jenggot yang sedang menatapnya. Ia takut salah mengucapkan syahadat. Jika ia salah, ia merasa akan mati lagi. Pelan-pelan ia mengucapkan syahadat sebaik dan sebenar mungkin. Seketika itu juga, lautan jama’ah bertakbir tatkala Abu Bakar mengucapkan syahadat. Dalam hati ia terheran-heran; What’s wrong? 😀

Malam itu ia merasa hujan baru saja menyirami seluruh tubuhnya. Ia seperti lahir kembali dan menjadi orang yang baru. Seluruh jama’ah memeluk dan menciuminya. Ia mengatakan bahwa itulah kali pertamanya dipeluk dan dicium oleh banyak lelaki 😀

***

Begitulah perjalanan Abu Bakar, seorang Atheis yang akhirnya menemukan jawaban atas semua pertanyaannya dan memilih Islam sebagai agamanya. Sejak ia menjadi seorang muslim, ayahnya memuji bahwa ia berubah menjadi anak yang lebih baik dan dapat diandalkan.

Subhanallah, sungguh Allah Maha Besar. Tidak ada tuhan selain Dia. Sungguh agama Islam satu-satunya agama yang benar dan diridhai oleh Allah. Bukankah sudah sepatutnya kita sebagai ummat Islam merasa bangga dan tidak goyah sedikitpun? Jika seorang Atheis saja yakin dengan Islam lalu megapa kita yang Islam sejak lahir masih saja ragu?

“Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Kami telah menjelaskan tanda-tanda (kebesaran Kami) kepada orang-orang yang mengetahui.” (Al-An’am: 97)

“Dan (Al-Quran) ini adalah penjelasan (yang sempurna) bagi manusia agar mereka diberi peringatan dengannya, agar mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (Ibrahim: 52)

_Nurhudayanti Saleh_ (Jogja, 07 Februari 2014)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s