Akhlak dan Nasehat

Ninja? Lalu Mengapa?

Kakiku sudah terasa pegal. Berjalan kaki siang hari seorang diri dari GSP UGM kembali ke kosan di daerah Pogung Dalangan benar-benar menguras tenaga. Beruntung, aku memakai sebuah masker yang warnanya senada dengan warna jilbabku, sehingga sengatnya mentari tak repot menembus kulit wajahku dan memanggangnya.

Sejuk. Terotoar yang terbentang sepanjang Fakultas Kedokteran sampai ke gerbang stasiun sepeda Biologi dipayungi atap pelastik. Rancangan bangunan yang benar-benar memanjakan pejalan kaki. Aku sudah hampir sampai di ujung terotoar ketika dua orang pemuda di atas sebuah motor terdengar cekikikan. Awalnya aku tidak tahu apa yang membuat kedua pria itu tertawa, sampai akhirnya salah satu dari mereka berteriak dan berbalik menatap ke arahku.

“Ninja…!!!”

Aku mencoba mencerna apa yang baru saja kudengar.

“Ninja…!!!”

Pria itu kembali berteriak. Saat itu aku benar-benar mendengar dengan jelas kata itu dan sangat mengerti kepada siapa ‘kata manis’ itu mereka tujukan.

***

Ninja. Ya, dua pemuda itu baru saja mengolok-olok diriku yang sedang memakai penutup wajah (masker). Mereka mengolok-olok jibab panjang yang aku padu padankan dengan sebuah masker. Olok-olokan seperti ini memang bukan hal baru untuk kalangan akhwat, hanya saja ini pengalaman pertama untukku.

Selama ini aku memang lebih sering tampil dengan tidak menutup wajah, baik dengan masker ataupun cadar. Tapi bukan berarti aku tidak setuju dengan mereka yang menutup wajahnya. Sebaliknya, aku sangat mengagumi wanita-wanita yang telah berkomitmen untuk menutup wajah dari pandangan laki-laki yang bukan mahram mereka. Keputusan memakai cadar bukanlah keputusan yang mudah, karenanya aku selalu merasa bangga pada mereka.

Mungkin ada yang bertanya, kenapa sih wajah mesti ditutup-tutup segala?

Selain karena alasan bahwa sebagian para ulama menghukumi menutup wajah adalah wajib dan sebagian besar lagi menganggapnya sunnah, juga karena di wajahlah letak fitnah terbesar seorang wanita. Jika telapak kaki saja harus ditutup padahal ia kecil fitnahnya (selain karena dia aurat), maka apatah lagi wajah seorang wanita. Bukankah seorang laki-laki akan tertarik pertama kali pada seorang wanita karena melihat wajahnya bukan telapak kakinya?

Nah, karena hal inilah aku mencoba belajar untuk menutup wajah ketika keluar rumah, meski masih menggunakan masker dan meski masih sedikit-sedikit. Seperti hari ini ketika berangkat dan pulang dari acara Japan Education Fair di gedung GSP, ketika dua pemuda itu beteriak mengolok-ngolokku.

Ninja? Lalu mengapa? Haruskah aku marah? Atau balas berteriak memaki? Atau melaporkan ke polisi?😀 Tidak sama sekali. Olokan seperi itu sudah biasa bahkan menjadi sarapan beberapa akhwat sehari-hari. Aku coba berfikir positif, mungkin olokan itu hasil kekecewaan mereka karena tidak bisa melihat wajahku yang sebenarnya biasa saja. Ya mungkin😀

Seorang ustads yang tinggal di Jepang pernah berkata; saya teramat heran dengan sebagian masyarakat kita yang mengolok-olok akhwat bercadar dengan mengatakan ‘Ninja’, padahal di negeri Ninja sendiri (Jepang) akhwat bercadar tidak pernah diolok seperti itu karena mereka tahu, penampilan akhwat bercadar jauh dari penampilan seorang ninja.

Dan yang paling memiriskan hati, kebanyakan yang mengolok-olok adalah orang Islam itu sendiri. Mengutip kalimat Mega; mereka sangat menjaga perasaan orang-orang non muslim dengan tidak mengolok-oloknya bahkan mengucapkan selamat pada hari raya mereka, tapi pada saudara sendiri mereka seperti tidak punya perasaan. Seseorang yang menjalankan syariat diejek seenak hati, tapi yang mengumbar aurat bahkan yang kafir disanjung setengah mati.

***

Aku masih bisa melihat kedua pemuda itu berlalu di depanku. Tawanya masih terdengar samar-samar. Aku diam-diam berdoa semoga keduanya mendapat hidayah dari Allah. Sesungguhnya mereka hanyalah orang-orang yang belum tahu, belum belajar ilmu agama.

Ninja? Lalu mengapa? Mejalankan syariat Allah (dakwah) itu memang berat. Bersyukurlah, ketika diolok dan itu karena kita melakukan sebuah kebenaran, karena kita istiqamah berjalan di atas jalan yang lurus, yaitu di jalan Allah Ta’ala.

_Nurhudayanti Saleh_ (Jogja, 26 Januari 2014)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s