Akhlak dan Nasehat

Ingin Seperti Apa?

Kelak, ketika di alam kubur, setiap hamba akan didatangi seseorang yang berwajah tampan atau berwajah buruk. Siapakah kedua orang itu? Merekalah amal perbuatan kita ketika ada di dunia.

Kepada seorang yang beriman, ia didatangi oleh seseorang yang berwajah tampan. Dikatakan kepadanya, ‘Akulah amal shalihmu, akulah shalatmu, akulah kebaikan dan sadaqah yang pernah kau infakkan. Akulah tangis dan rasa takutmu. Akulah umrah dan hajimu. Akulah bacaan Al Qur’anmu, akulah kecintaanmu terhadap Ar-Rahman.

Akulah tahajjudmu di sepertiga malam terakhir dan puasamu di siang hari. Akulah rasa takutmu pada Allah. Akulah sikap baikmu terhadap kedua orang tuamu. Akulah ‘thalabul ilmi’mu. Akulah dakwahmu kepada Allah, akulah jihadmu fi sabilillah’.

Ketika seorang Mukmin menyaksikan datangnya amal yang berwujud seseorang yang berwajah tampan, ia bergembira. Ketika ia mengamati sekeliling, niscaya ia sadar kuburnya menjadi lapang. Disediakan kasur dari Surga di dalamnya.

Ketika ia melihat bajunya, ia sadar baju itu dari Surga. Ia juga yakin bahwa nikmat yang ia rasakan di alam kubur itu sama sekali berbeda dengan nikmat Surga. Maka ia berdoa kepada Rabbnya, ‘Wahai Rabb, segerakan kiamat, sehingga aku bisa kembali kepada keluarga dan hartaku’.

Sementara kepada orang kafir/fasik, ia didatangi seorang yang buruk wajahnya. Dikatakan kepadanya,  ‘Akulah amalmu yang buruk, akulah syirik yang pernah kau lakukan, akulah ucapan janji yang kau ucapkan menggunakan nama selain Allah, akulah wujud peribadatanmu di kubur, akulah khamar yang kau minum.

Akulah zina yang kau lakukan dan riba yang kau makan. Akulah musik yang kau dengarkan dan kesombongan terhadap para pemberi nasehat. Akulah penentanganmu terhadap Rabbul ‘Alamin’. Saat itu si hamba sangat menyesal. Namun, apakah arti penyesalan saat itu?

Penyesalannya semakin mendalam. Tetapi -sekali lagi- apa gunanya? Di mana tangismu saat ini, ketika kau asyik melanggar larangan Allah, terpuruk dalam jurang kekejian dan syahwat? Berapa kali kau dinasehati agar menjaga kemaluan, menjaga pandangan, dan pendengaran. Menangislah sekarang atau tidak sama sekali, karena semua itu tak akan menolongmu terhindar dari adzab.

Hamba tadi yakin bahwa apa yang akan ia tempuh setelah alam kubur lebih dahsyat dan kekal. Ia berkata, ‘Wahai Rabbku, jangan berlakukan kiamat’.  Setelah itu ia menjadi buta, tuli, dan bisu.

(Dikutip dari buku Malam Pertama di Alam Kubur oleh Dr. A’idh Al-Qarni, M.A. Hal. 41 dan 43)

***

Pertanyaan sederhananya, lalu ingin seperti apa kita nanti di alam kubur? Inginkah kita bertemu dengan seseorang berwajah tampan? Atau kita ingin bertemu dengan seseorang yang berwajah buruk? Semua tergantung dari diri kita hari ini dan sampai ajal menjemput nanti.

_Nurhudayanti Saleh_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s