Akhlak dan Nasehat

Pacaran = Praktek Kebohongan

Ayo siapa yang masih pacaran atau berharap punya pacar? Udah deh, kamu putus aja atau hapus keinginan itu dari hatimu. Pertama, karena hukum pacaran itu haram. Dalam Al-qur’an sudah jelas dituliskan: Dan janganlah kalian mendekati zina (Al-Isra: 32). Nah, orang (maaf) bego aja ngerti maksud kalimat ini, apalagi kamu-kamu yang ngaku cerdas. Ya, kecuali buat kamu yang ‘cerdas banget’, yang sukanya membolak-balik makna sebuah ayat hanya untuk membenarkan semua perbuatan dosa yang kamu lakukan, pasti kalau nemu ayat-ayat semacam ini sukanya ngeyel.

Selain emang haram, pacaran itu sebenarnya praktek kebohongan antar kedua belah pihak. Ketika pacaran, yang diperlihatkan hanya sisi baiknya saja. Selalu ingin tampil sempurna di mata pasangan sehingga semua kekurangan disembunyikan dengan sebaik-baiknya, baik berupa kekurangan fisik maupun kebiasaan-kebiasaan buruk.

Cewek dengan lincahnya akan menutupi semua jerawat yang membuatnya kelihatan jelek dengan bedak beberapa centi. Tak lupa beberapa sapuan make up warna-warni untuk membuatnya terihat semakin cantik meski pada kenyataannya ada juga yang gagal total dengan berubah menjadi seperti badut. Atau ada yang pengin kelihatan lebih tinggi dengan memakai high heel, tapi malangnya pulang-pulang kaki pada pegal bahkan tidak jarang lecet karena kesempitan, maklum sepatu punya teman. Atau ada juga yang ingin terlihat ramping. Perut yang buncit dililit dengan korset super ketat. Pas diajak makan, alasannya sih lagi diet padahal sesak nggak bisa nafas apalagi buat nampung makanan.

Cowok lain lagi. Mereka berupaya tampil keren dengan kendaraan yang mereka gunakan. Tidak jarang dia harus meminjam pada teman atau bahkan merogoh uang kiriman orangtua untuk menyewa sebuah mobil biar dibilang berduit, padahal pas udah nikah beli pakaian dalam untuk dirinya sendiri aja belum bisa *eh😀

Ada sebuah kisah. Ini dialami oleh seseorang yang cukup dekat denganku. Sebelum menikah, si pacar (cowok) begitu perhatian. Bentuk perhatiannya macam-macam, mulai dari nanyain kabar setiap jam sampai beliin kompor gas calon mertua. Sang cewek dan juga sang calon mertua sangat membanggakan si laki-laki ini. Dia itu mapan, baik, tampan. Apalagi coba yang kurang dari dia? Begitulah kalimat yang sering terlontar dari bibir sang wanita.

Nah, tibalah hari pernikahan. Mulanya semua berjalan lancar. Namun setelah beberapa bulan, mulailah nampak watak asli si suami yang begitu dibanggakan oleh sang isteri. Sang suami selalu pulang larut malam. Tidak jarang ditemani bau alkohol yang menyeruak dari mulutnya. Setelah sang isteri menyelidiki, ternyata sang suami kerap kali bermain judi.

Akhirnya, perhatian yang dulu mulai menghilang, bahkan berganti dengan gertakan dan kata-kata kasar yang sebelumnya tidak pernah terucap ketika masih pacaran. Bukan hanya itu, kemapanan yang dulu ia bangga-banggakan dan pamerkan pada sang isteri dan mertua kini mulai terkuras akibat kebiasaan buruknya bermain judi. Walhasil, kebahagiaan hanya bisa sang isteri rasakan pada awal-awal pernikahan dan sisanya tinggallah kepedihan. Lalu apa gunanya wajah tampan jika perbuatan tak ada beda dengan (maaf) hewan? Ah, sepertinya seekor kucing jantan akan terlihat jauh lebih manis dan menawan.

Itu kan tergantung pribadi masing-masing orang. Emang dasar si laki-lakinya aja yang kurang ajar. Suamiku nggak kayak gitu kok, dari pacaran sampai sekarang dia nggak berubah. Dia tetap baik.

Beruntunglah jika suami kita orang yang baik. Itu artinya Allah masih sayang sama kita. Allah itu Maha Baik, meski dulu kita membuat-Nya kecewa dengan pacaran (melanggar syariat-Nya), tapi Dia masih mau menolong kita dari pasangan yang buruk. Tapi jangan lupa, hukum pacaran tidak akan menjadi halal hanya karena pacar kita baik loh. Hukum pacaran tetaplah haram, dan perbuatan di masa lalu (pacaran) tetaplah sebuah dosa.

Lalu bagaimana jika kita baru menyadari/mengetahui kesalahan kita itu sekarang (setelah menikah)?

Itulah indahnya agama kita, Islam. Orang yang pernah berbuat dosa masih bisa dibersihkan dosanya dengan cara bertaubat. Sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penerima taubat. Sekarang, tugas kita adalah mendidik anak-anak kita, menamamkan pada mereka nilai-nilai Islam yang sebenarnya, sehingga mereka tak mesti mengulangi kesalahan kita yang dulu.  

Ingat, praktek kebohongan hanyalah satu dari sekian hal negatif yang kerap kita temui dalam pacaran. Selain itu, masih banyak praktek-praktek lain yang tentu saja tak kalah buruknya, salah duanya…, eh dua di antaranya adalah praktek pemborosan dan juga praktek zina, Asghfirullah …

Sahabatku yang baik, sesungguhnya Allah begitu mencintai kita. Kecintaannya tak ada tandingan. Dialah yang menghidupkan, Dia pula yang memberi kita nafas, dan juga rezeki yang berlimpah. Jika Allah melarang sesuatu, maka pastilah sesuau itu mendatangkan banyak mudharat (keburukan) untuk kita. Ingatkah ketika kita masih kecil, orang tua kita selalu melarang kita untuk bermain pisau. Kenapa? Karena pisau bisa melukai tangan kita dan membuatnya berdarah.

Sahabatku, Allah pun seperti itu. Sebagai ciptaan-Nya yang paling sempurna, Allah tidak ingin kita ditimpa sebuah keburukan. Karenanya Allah selalu mengingatkan (melarang) kita pada sesuatu yang lebih banyak memberi dampak negatif  dibandingkan dampak positif.

Sahabat, Allah telah menciptakan kita dan menjadikan kita ciptaan-Nya yang paling sempurna, maka sudah tentu Dia tidak ingin kita hancur dan terluka. Lalu mengapa kita masih saja melaggar aturannya? Tidak percayakah kita pada-Nya?

_Nurhudayanti Saleh_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s