My Diary · Sosok

Mutiara Di Balik Hijab

Apa yang paling sering dinilai dari seorang wanita? Jawabannya tentu akan beragam. Ada yang menjawab kecantikannya, sifatnya, pendidikannya, hartanya, bahkan body-nya. Namun, jika pertanyaan ini dikembalikan pada agama kita, yaitu Islam, maka jawabannya hanya satu yaitu ketakwaan kepada Allah, sama seperti ketika menilai seorang pria.

Karena itu, sangatlah beruntung seorang wanita ketika ia dikaruniai wajah yang cantik, otak yang cerdas, harta yang berlebih, dan ketakwaan yang mantap. Wanita seperti ini ibarat mutiara di balik hijab, seorang wanita dengan semua kelebihan namun ter-cover rapi oleh ketakwaannya kepada Allah. Dan wanita seperti ini salah satunya adalah dia, insya Allah.

Ya, dia. Seorang wanita yang kukenal baru saja. Sekitar satu bulan yang lalu, Allah menakdirkan aku bertemu dan berkenalan dengannya di salah satu Universitas di Jogja. Dia wanita yang sangat ceria, ramah, dan suka tertawa, begitulah kesan pertama yang bisa kutangkap darinya. Sejak saat itu hingga sekarang, dia mulai akrab denganku dan akhwat yang lain.

Dulu, saat pertama kali bertemu, dia masih mengenakan kerudung sebatas dada, tapi Alhamdulillah setelah dua minggu perkenalan kami, dia memutuskan untuk berjilbab syar’i. Dia juga memutuskan untuk tarbiyah (menuntut ilmu agama) secara rutin. Rasa ingin tahunya dan semangatnya untuk menjadi lebih baik semakin mengakrabkan kami, apalagi semenjak ia bergabung di komunitas muslimah yang sama dengan kami dalam rangka mengemban dakwah ilallah di kampus-kampus Jogja.

Karena sudah merasa akrab, kami kerap kali saling mengunjungi kos masing-masing. Ketika aku main ke kosnya bersama Mega, kata yang pertama kali terucap oleh kami adalah Masya Allah. Kosnya termasuk kosan elit. Kamarnya besar dengan kamar mandi yang juga besar. Tempat tidur dan televisinya pun berukuran besar. Bahkan tempat tidurnya hampir seukuran dengan kamar kosku sekarang. Jangan tanyakan sewa kosnya sebulan, biayanya hampir sama dengan gaji seorang pegawai negeri.

Meski begitu, sungguh tak pernah sekalipun ia membanggakannya pada kami bahkan sekedar untuk membicarakannya. Sebaliknya, dia lebih suka merendah. Masih teringat jelas saat pertama kali kami akan ke kosannya, dia mengatakan kalau kosannya termasuk kosan yang jelek.

Setelah aku mengenalnya lebih dekat lagi, aku tahu jika adik manis ini berasal dari keluarga yang sangat berada. Aku tidak tahu apa pekerjaan ayahnya karena lagi-lagi ia tidak pernah membanggakannya. Aku hanya sempat membaca kiriman status seseorang di salah satu akun sosial medianya dan menyimpulkan kalau dia adalah anak dari seorang profesor. Saat liburan, tidak jarang tujuan liburannya bersama keluarganya adalah luar negeri, seperti tahun lalu ia pergi ke Tailand. Hal itu juga terungkap saat kemarin aku melihat tasnya yang bergambar gajah dan menanyakan asal usul tas unik itu.

Selain diberikan nikmat harta yang berlimpah, adik manis ini juga diberikan nikmat kecerdasan. Sejak SMA ia mendapat beasiswa dan tidak lagi bergantung pada orang tua. Sekarang ia pun kembali mendapat beasiswa, bukan hanya satu tapi beberapa. Ada beasiswa dari kampus, dari Gubernur Balik Papan (asal daerahnya), dan entah dari mana lagi. Ramadhan tahun lalu ia mendapat beasiswa ke Perancis bersama dua orang Indonesia lainnya selama 3 minggu. Subhanallah …

Sungguh, tak sekalipun adik manis ini berniat menceritakan dan menyombongkan apapun dari dirinya. Semua terungkap begitu saja tanpa sengaja di sela-sela cerita dan canda kami. Lebih dari itu, meski ia berasal dari keluarga berada, ia sebisa mungkin tidak ingin bergantung pada orang tua. Ia berusaha membiayai dirinya sendiri dari beasiswa-beasiswa yang ia dapatkan. Ia juga berusaha dengan mencoba berdagang.

Karenanya diam-diam aku mengaguminya. Kagum dengan sifat rendah hati yang ia miliki. Di luar sana, banyak orang yang berusaha dan berniat ingin dipuji atas semua kelebihan yang ia punya, bahkan ada sebagian yang suka bercerita seolah-olah dia memiliki banyak kelebihan agar dipuji padahal kenyataannya ia sama sekali tidak memiliki apapun. Tapi dia, sekali lagi kutuliskan, tidak pernah berusaha dan berniat seperti itu, ingin dipuji.

Dia memang belum bisa disejajarkan dengan Khadijah (bahkan masih sangat jauh); seorang wanita yang sangat kaya, cantik, pintar namun sangat rendah hati dan bertakwa kepada Allah, seorang wanita yang menjadi isteri dari seorang Rasul dan dijamin masuk Surga oleh Allah dan Rasulullah. Namun, aku dan akhwat yag lain terus berharap dan berdoa agar ia tetap istiqamah di atas agama Allah, senantiasa berusaha menjadi wanita yang shalehah, yang menjalankan agama Islam secara kaffah, sehingga segala nikmat yang diberikan Allah kepadanya bernilai pahala. Karena sungguh, jika seorang wanita itu kaya, cantik, dan pintar tapi tidak dibarengi dengan ketakwaan, maka hasilnya sama dengan nol, semua nikmat yang ia miliki tidak bernilai apa-apa di sisi Allah. Allah hanya melihat ketakwaan seorang hamba.

_Nurhudayanti Saleh_ (Jogja, 06 Januari 2014)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s