My Diary

Drama Pindah Kos

Jogja, 02 Januari 2014

Barang-barang sudah siap diangkut. Ada 3 kardus; 2 kardus buku dan 1 kardus kompor listrik. Ada 2 travel bag, 4 tas, dan satu tikar gulung. Aku dan Mega memutuskan pindah ke kos yang lebih dekat dari kampus UGM, tempat Mega kuliah. Terlalu sering naik bis trans tentu tidak nyaman bagi kami para akhwat, berdesak-desakan, itulah alasan yang paling utama.

Kami menuju terminal Jombor untuk menyewa sebuah taksi. Dengan langkah pelan, akhirnya kami sampai dan mendapati beberapa supir taksi sedang berkumpul di atas dipan, entah apa yang sedang mereka obrolkan, mungkin tentang pemilu, mencoba mendiskusikan siapa calon presiden yang sekiranya bisa mengubah nasib mereka dengan terus menaikkan harga BBM yang tentu akan berimbas pada biaya taksi yang semakin tinggi *eh😀

“Pak, kalau ke Pogung Dalangan berapa ya?” Tanyaku was-was. Sedikit berbeda dengan Makassar, taksi di Jogja kebanyakan nggak makai argo. Mereka lebih suka dengan sistem lobi-melobi. Semakin kamu pandai melobi, maka semakin murah biaya taksi yang akan kamu peroleh. Dan semakin pandai si supir taksi jual mahal, maka semakin tinggi pula biaya taksi yang akan kamu bayar.

“Lima puluh ribu.” Tukas si supir taksi.

Aku dan Mega otomatis terkejut. Mulut kami terbuka saking kagetnya mendengar angka yang melambung tinggi dibandingkan perkiraan kami yang hanya seperduanya saja. Jombor ke Pogung Dalangan itu tidak jauh, bahkan tergolong dekat jika ditempuh dengan roda empat.

“Tiga puluh ribu aja Pak, gimana?” Tawarku. Bukannya Mega nggak punya uang *kalau aku sih emang nggak punya segitu di dompet, xixixi. Tapi jumlah yang disebutkan sang supir memang termasuk mahal. Dan sebagai caon isteri yang baik, yang pandai berhemat, kami pun urung memakai jasa taksi terminal jika harganya tetap bertahan segitu.

“Empat puluh ribu aja Mbak, gimana? Segitu udah murah banget.” Bujuk si supir tapi dengan wajah sangar.

“Nggak Pak, makasih.” Kata kami melangkah mantap meninggalkan taksi-taksi hijau yang terparkir rapi.

Belum terlalu jauh meninggalkan terminal, seorang supir taksi mengejar kami dengan taksinya.

“Mau ke mana Mbak?” tanyanya setelah berheti di samping kami.

“Ke Pogung Dalangan, Pak.” Jawabku.

“Ya, udah empat puluh ribu aja.”

“Nggak Pak.”

“Emang maunya berapa?”

“Tiga pulu ribu.”

“Langsung naik kan?”

“Nggak, ada barang saya di sana?”

“Di sana mana?”

“Di tikungan dekat Atlanta. Nggak jauh dari sini kok Pak.”

“Oh, itu sih empat puluh ribu. Saya kira langsung naik.” Kata sang supir dengan mimik wajah berubah 180 derajat. Yang tadinya senyam-senyum ngebujuk jadinya mencibir dan langsung membalik taksinya pergi meninggalkan kami.

“Ya ela tuh supir. Siapa juga yang maksa dia ngejar kita. Keliatan deh watak aslinya. Gitu tuh kalau ada maunya, awalnya ramah eh pas tahu nggak sesuai dengan keinginannya, malah mencibir.” Kesal Mega. Aku hanya tersenyum membenarkan.

Kami kembali ke kos, menyusun rencana sembari menikmati dua potong roti. Setelah cukup mengganjal perut yang mulai keroncongan, kami melaksanakan salah satu rencana yang sudah tersepakati. Aku dan Mega berdiri cantik menunggu taksi di jalan ring road uatara tepat di depan kampus UTY. Berharap, dengan keramaian jalan itu, ada taksi kosong yang akan melintas dan bisa kami lobi.

Satu menit, dua menit, lima menit, sepuluh menit, dan entah sampai berapa menit kami menunggu, namun tak ada satu pun taksi kosong yang melintas di depan kami. Aku sebenarnya masih ingin menunggu jika saja Mega tidak memberi kode untuk kembali saja ke kos. Dia sudah sangat lelah dan mengantuk, maklum akhir-akhir ini dia sedang tidak enak badan. Kami pun kembali lagi ke kos untuk beristirahat.

Adzan dhuhur pun berkumandang, mataku terbuka dan langsung bangkit ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Begitu pun Mega. Kami kembali membuka travel bag yang sudah tertutup rapi untuk mengambil mukena dan sajadah.

“Yuk shalat, terus berdoa. Kali aja setelah itu Allah nurunin mobil dari langit buat kita, hehehe…” Candaku. Mega hanya menyengir, antara lelah dan menahan tawanya.

Mobil lalu lalang di depan kami. Ada yang penuh juga ada yang kosong. Sayangnya, semua mobil yang kami lihat adalah mobil pribadi, belum ada satupun taksi yang melintas. Kali ini kami memutuskan menunggu taksi di depan kosan, sebuah jalan kecil namun cukup ramai dilalui kendaraan beroda dua maupun beroda empat.

Aku mulai menjongkok. Kakiku rasanya telah pegal berdiri menunggu lama. Mega masih berdiri sembari mengetik sms bala bantuan pada Ayu dan siapa saja yang kiranya bisa membantu ‘penderitaan’ kami. Dalam hati, diam-diam aku berdoa semoga Allah mengirim sebuah taksi dan supir taksinya yang baik hati. Tidak lama, dari arah kanan kulihat sebuah taksi akan melitas di depan kami, segera aku berdiri dan menjulurkan tangan dengan jempol terangkat, mirip beberapa adegan di film-film atau video klip ketika si tokoh utama ingin menumpang sebuah mobil. Tidak sengaja, semua terjadi begitu spontan, mungkin ini efek samping terlalu banyak memikirkan plus mengharapkan cerita romantis, seorang pemuda tampan tiba-tiba menghentikan mobil sedannya dan dengan baik hati memberikan tumpangan untuk kami, hehehe… *aih sinetron banget😀

Secepat mungkin, aku berlari menghampiri taksi yang lajunya semakin melambat. Supir taksi sepertinya tidak terlalu yakin kalau aku baru saja mencoba menghentikannya. Tapi beruntung sang supir melihatku menyusulnya di belakang. Taksi pun berhenti dan aku berhasil mengejar. Dengan nafas masih tersengal, aku coba melobi.

“Pak, kalau ke Pogung Dalangan berapa?”

“Em, Pogung Dalangan ya …, empat puluh ribu mbak.”

“Tiga puluh ribu aja Pak …,” Pintaku seramah mungkin ditambah sedikit wajah memelas. Sebenarnya Mega sudah tidak peduli biaya taksinya. Dia sudah cukup lelah menunggu. Ia ingin pindah hari ini juga, itulah yang ada di dalam pikirannya.

“Tambahin lima ribu lagi aja mbak.”

“Okelah Pak. Kalau begitu.” Aku setuju. Akhirnya kami mendapat taksi dengan biaya tiga puluh lima ribu saja. Ya, paling nggak masih lebih murah dari taksi di terminal tadi. Aku pun kembali berlari menghampiri Mega yang masih nampak termangu. Taksi tadi menyusul di belakang.

“Yeeee …, akhirnya dapat taksi dengan harga lebih murah. Tiga puluh lima ribu …!!!” Seruku senang pada Mega.

“Ya ampun Ti, tadi itu kamu udah kayak adegan Running Man tau. Persis Kwang Soo, langsung melesat mengejar taksi. Aku tadi tuh nggak lihat kalau ada taksi loh, makanya aku kaget pas kamu tiba-tiba lari. Tuh anak kenapa ya? Hehehe…”

“Oh gitu toh …, hehehe …” Aku ikut tertawa.

Adegan Running Man ternyata masih berlanjut. Aku dan Mega saling mengoper barang dari lantai dua ke halaman, tempat taksi terparkir. Sementara sang supir hanya tinggal menunggu dan memasukkan semua barang di dalam bagasi. Full, bagasi penuh dan sebagian barang ikut duduk bersama kami di jok belakang.

Taksi mulai melaju. Aku dan Mega tidak sempat berpamitan langsung dengan Pak Sudiono, pemilik kos karena beliau tidak berada di tempat saat kami pergi. Aku hanya menitipkan kunci pada Mas Adi, laki-laki yang selalu berjaga di kos dan mengirim sebuah sms ‘perpisahan’ pada Pak Sudiono.

Annyeyong Jombor, selamat tinggal. Selamat tinggal kosanku yang nyaman, selamat tinggal teman-teman kosku yang satu per-satu juga sudah meninggalkan kos, Rusti, Ayu, dan selajutnya Mbak Linda. Selamat tinggal bau melati😀

Empat bulan memang bukan waktu yang lama, namun empat bulan itu banyak memberikan kesan, termasuk kesan buruk. Bukan pada kosnya, meski di kosan lampunya sering meletus dan tikus lalu lalang, mengendap-ngendap di kamar mandi😀

Tapi terhadap sebuah peristiwa yang akhirnya membuka mataku tentang watak asli beberapa orang. Peristiwa itu membuatku belajar tentang kejujuran. Bahwa sebuah masalah akan selesai dengan mudah jika seseorang itu bisa jujur, namun sayangnya banyak orang memilih terus berbohong karena merasa gengsi untuk mengaku salah, namun dengan begitu masalah itu akan terus menjadi masalah, sambung-menyambung, dan tak akan berujung . Bahwa ternyata kejujuran saat ini sudah begitu langka -_-

_Nurhudayanti Saleh_  

2 thoughts on “Drama Pindah Kos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s