Sirah

Keluarga Surga

“Bersabarlah keluarga Yasir. Sesungguhnya balasan kalian adalah Surga.”

Begitulah Rasulullah bersabda pada satu keluarga yang begitu mulia.

Yasir adalah laki-laki Yaman yang awalnya ke Mekkah untuk mengunjungi seorang sahabat. Karena merasa nyaman di kota suci itu, akhirnya ia memutuskan untuk menetap. Yasir merupakan laki-laki yang baik. Kebaikannya membawanya pada Sumayyah, seorang budak Huzaifah. Kala itu, Huzaifah menikahkan Yasir dengan sang budak karena ia percaya Yasir mampu menjadi seorang kepala keluarga yang baik dan membahagiakan Sumayyah.

Pernikahan mereka pun berjalan harmonis, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang tampan bernama Ammar. Kelahiran sang putera membawa kebahagiaan lainnya yakni Huzaifah memerdekakan Sumayyah dari statusnya seorang budak.

Pada saat itu Rasulullah baru saja menerima perintah dari Allah untuk menyebarkan Islam secara diam-diam dan keluarga Yasir merupakan orang-orang yang pertama masuk Islam. Sumayyah diceritakan merupakan orang ketujuh yang memeluk Islam sebagai agamanya.

Meski sembunyi-sembunyi, Kafir Quraisy tetap saja mengetahui siapa saja yang telah memeluk Islam dan meninggalkan agama nenek moyang mereka. Perlakuan Kafir Quraisy pun berbeda pada pemeluk Islam kala itu. Jika yang memeluk Islam adalah kalangan bangsawan atau saudagar, maka Kafir Quraisy hanya bisa menggeretak dengan mengancam akan merusak perdagangan mereka dan membuat mereka jatuh miskin.

Sementara jika yang memeluk Islam adalah orang-orang yang kedudukannya rendah di masyarakat, seperti budak atau orang yang tidak memiliki harta berlimpah, maka Kafir Quraisyi tidak segan-segan menyiksa dan mendera mereka agar kembali pada agama sebelumnya.

Dan keluarga Yasir tergolong pada golongan kedua. Yasir adalah orang Yaman, dia tidak memiliki keluarga di Mekkah, sementara isterinya Sumayyah hanyalah mantan budak sehingga dengan mudah disiksa oleh Abu Jahal beserta para anggotanya.

Keluarga Yasir diseret ke padang pasir yang panas. Mereka dibaringkan di atas kerikil-kerikil tajam lagi membara. Mereka diterpa berbagai siksaan agar murtad dari Islam. Besi panas sudah menjadi makanan, membuat kulit mereka hangus terbakar. Setelahnya mereka disalip dan ditindih batu besar di atasnya. Tidak sampai di situ, mereka juga dicelupkan ke dalam air hingga sesak nafas dan kulit mereka terkelupas penuh luka.

Sungguh, siksa tersebut tak terbayangkan rasanya. Namun, keluarga Yasir tidak pula menyerah. Mereka teguh dalam Islam. Mereka yakin bahwa Islam adalah agama yang benar, Allah adalah satu-satunya Zat yang harus mereka sembah, dan Muhammad adalah Rasul Allah. Mereka tidak takut mati. Bagi mereka, mati dalam ketaatan lebih baik daripada harus hidup senang menghamba pada selain Allah.

Karena keyakinan keluarga Yasir yang begitu kuat tak tergoyahkan, Abu Jahal sampai pada puncak kemarahannya. Ia begitu marah karena siksa dan dera yang selama ini ia berikan tidak juga membawa hasil. Akhirnya, ia pun mengangkat tombaknya dan menusukkan tepat di jantung Yasir dan Sumayyah. Keduanya syahid di atas agama Allah dengan ketaatan yang luar biasa. Sumayyah tercatat sebagai mujahidah pertama dalam Islam.

Berbeda dengan orangtuanya, Ammar akhirnya dilepaskan oleh para penyiksanya. Mereka melepas Ammar setelah mereka kehabisan tenaga menyiksa Ammar sementara laki-laki bermata biru itu tak juga murtad dari agama Allah. Pernah ia sempat tak sadarkan diri karena siksa yang begitu pedih. Saat itu ia mengikuti kata-kata Kafir Quraisy yakni memuja tuhan-tuhan mereka. Setelah sadar, Ammar merasa begitu cemas. Ia ingat bahwa ia telah mengucapkan kalimat pemujaan pada tuhan-tuhan Kafir Quraisy.

Karena merasa sangat khawatir atas keislamannya, ia pun menceritakan hal itu pada Rasulullah. Rasulullah pun bersabda:

“Orang-orang kafir itu telah menyiksamu dan menenggelamkanmu ke dalam air sampai kamu mengucapkan begini dan begitu.”     

“Benar wahai Rasulullah.” Ujar Ammar sambil meratap.

Maka sabda Rasulllah sambil tersenyum:

“Jika mereka memaksamu lagi, tidak apa, ucapkanlah seperti apa yang kamu katakana tadi.”

Lalu Rasulullah membacakan kepadanya ayat mulia berikut ini,

“Kecuali orang yang dipaksa, sedang hatinya tetap teguh dalam keimanan.” (An-Nahl: 106)

Mendengar sabda Rasulullah, Ammar pun pulang dengan hati tenang. Ia semakin teguh pada agama Allah dan tak pernah sekalipun gentar pada kaum Kafir Quraisy.

Sepanjang hidupnya Ammar merupakan salah satu sahabat yang begitu dicintai oleh Rasulullah. Tidak ada alasan lain mengapa Beliau begitu mencintai Ammar kecuali ketaatan Ammar pada Allah dan keberanian laki-laki bermata biri itu dalam membela agama Allah.

Rasulullah pernah merasa marah tatkala ada seseorang yang memarahi Ammar sedang Ammar tidak melakukan kesalahan. Beliau bersabda:

“Apa maksud mereka terhadap Ammar? Diserunya mereka ke Surga, tapi mereka hendak mengajaknya ke Neraka! Sungguh, Ammar adalah biji mataku sedniri!”

Dalam setiap peperangan Ammar selalu berada dalam barisan terdepan, bahkan ketika telinganya harus terpotong, ia tetap berada paling depan dan begitu bersemangat menghunuskan pedangnya pada musuh-musuh Allah. Ia seolah tidak mencari kemenangan tapi mencari kematiannya sendiri. Karena kecintaan dan pembelaannya terhadap agama Allah yang begitu besar, Rasulullah pun bersabda:

“Siapa yang memusuhi Ammar, maka ia akan dimusuhi Allah, dan siapa yang membenci Ammar, maka ia akan dibenci Allah.”

Subhanallah …

***

Nah, demikianlah cerita singkat keluarga Yasir, keluarga yang Allah dan Rasulullah menjaminnya masuk Surga. Tak perlu ditanya mengapa, kisah pengorbanan mereka telah menjawab segalanya.

Sebaliknya, pelajaran begitu besar telah terhampar di depan mata kita. Keluarga Yasir telah mengisyaratkan pada kita bahwa Surga tidaklah mudah didapatkan, selalu ada perjuangan yang besar untuk meraihnya.

Lalu sudah sebesar apa pengorbanan kita? Jika dahulu, di zaman peperangan saja umat muslim masih bisa bertahan dan tetap teguh pada Islam, mengapa kita yang di zaman serba mudah ini tidak bisa bertahan? Padahal kita tidak pula diminta untuk mengucurkan darah, tidak pula disiksa bahkan didera seperti keluarga Yasir. Ujian kita saat ini tidak ada bandingannya dengan ujian para sahabat terdahulu bukan?

Memang, kemudahan Allah berikan karena Dia tahu betul kesanggupan setiap hamba, namun bukan berarti kita menyerah dan tidak berusaha menegakkan agama Allah di zaman ini. Dengan apa? Bukan dengan kudeta ataupun kekerasan, namun dengan dakwah yang hikmah, dakwah yang membawa kebaikan serta rasa kasih sayang. Tak perlu takut atas ancaman karena itulah ujian mendapatkan Surga ^_^

Allah berfirman:

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan; ‘Kami telah beriman’, padahal mereka belum lagi diuji?” (Al-Ankabut: 2)

NB:

Keluarga surga adalah kelurga yang semua anggota keluarganya adalah hamba-hamba yang taat pada Allah, yang semuanya bersatu dalam membela agama Allah tanpa takut akan siksa dunia.

_Nurhudayanti Saleh_ (Diadaptasi dari buku 101 Sahabat Nabi oleh Hepi Andi Baston)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s