My Diary

CNK (Catatan Ngisi Kajian) – Kedua

Jogja, 29 November 2013

Kali ini aku tidak datang terlambat. Kaki kiriku juga tidak sakit lagi. Kuputuskan untuk melakukan ‘penyelamatan kaki’ agar tidak semakin parah. Alhamdulillah, sekarang dapat yang lebih pas, ukurannya tidak kekecilan lagi, dan tentu saja harganya cocok di kantong😀

Kupandangi lipatan selebaran e-monay card yang kudapat dari seorang SPG di shalter Condong Catur. SPG yang seminggu lalu belum berkerudung dan sekarang sudah menutup rapat rambutnya, Alhamdulillah, awal yang baik ^_^

Sedikit lama menunggu, Dede akhirnya datang menjemputku di depan gerbang UPN. Wanita berkulit putih itu juga terlihat berbeda kini. Minggu lalu, kain yang menutupi kepalanya masih sampai di pinggang, tapi hari ini sudah terjulur lebih panjang seperti jilbabku. Subhanallah, berita gembira ini sudah kudengar sebelumnya dari Mega saat ia baru saja mengisi tahsin di UPN. Dede sudah berjilbab syar’i, insya Allah. Dan tentu saja doaku, semoga adik manis itu terus istiqamah.

Jam belum menunjukkan pukul 11. Kali ini aku yang akan menunggu adik-adik UPN di Mushallah Pertanian. Aku duduk seorang diri sembari menghafal ayat-ayat pilihan di dalam surah Al-Isra untuk kusetor besok pagi saat tarbiyah. Bagi seorang pelupa sepertiku, menghafal tentu hal yang sulit jika tidak benar-benar fokus. Dan untuk hafalan kali ini aku benar-benar kesulitan, entah karena ayatnya yang panjang-panjang atau juga karena penyebutannya yang belum ‘biasa’ di lidah. Tapi, tetap saja apapun rintangannya, sebagai penuntut ilmu yang benar, menghafal firman-firman Allah adalah sesuatu yang diperlukan dan tentu saja mendatangkan pahala.

Waktu bergulir cepat, tak terasa sudah hampir satu jam berlalu dan belum ada seorang pun yang datang kajian. Cemas bercampur ngantuk kurasakan. Aku sudah mengirim pesan singkat pada adik-adik UPN yang hadir minggu lalu untuk tetap datang hari ini, tapi tak satu pun yang membalas pesan itu. Hem, aku menghela nafas panjang. Kalaupun nanti hanya ada satu yang datang, kalaupun nanti hanya Dede, maka kajian akan tetap berjalan. Itulah tekadku. Bukan banyak atau sedikitnya peserta kajian yang Allah nilai, tapi usaha kita menyampaikan kebaikanlah yang menjadi penilaian-Nya.

“Belum ada yang datang Mbak?” Tanya Dede saat menatapku seorang diri.

“Iya. Mungkin yang lain masih kuliah.” Jawabku menutup buku kecil bersampul biru.

“Tunggu ya Mbak, aku sms dan telepon dulu.” Dede berinisiatif. Ia mengirim sms dan juga menelpon temannya satu-persatu.

Tidak lama, adik-adik UPN muncul satu-satu. Yang kedua tiba di mushallah setelah Dede adalah Via, seorang wanita yang baru pertama kali aku temui. Kemudian Nur, dia juga baru pertama kali aku temui. Lalu menyusul berturut-turut, Titin, Yuni, Tasya, Aprilia, dan terakhir Tivany. Alhamdulillah, adik-adik yang hadir hari ini lebih banyak dari minggu lalu meski ada dua adik yang tidak datang hari ini yaitu Maitis dan Ayu.

Saat sedang menunggu semua datang, Via sempat bertanya tentang masalah yang tengah ia hadapi. Ia bercerita bahwa ia memiliki seorang teman yang sudah jatuh dalam pergaulan bebas. Via bingung bagaimana caranya agar membuat temannya ini bisa bertaubat dengan sebenarnya, dengan tidak mengulangi perbuatan hina itu lagi.

Aku tersenyum miris. Rasanya ingin marah pada mereka yang telah rela menghancurkan harga diri mereka sendiri. Rasulullah sudah begitu susah payah mengangkat kedudukan wanita, tapi anehnya kita sendiri yang menjatuhkannya kembali dengan dalih pengekangan dan kebebasan. Kebebsan? Benarkah? Sayangnya mereka tidak sadar, bahwa mereka telah diikat kuat oleh liberalisme yang mereka agung-agungkan selama ini, suatu sistem yang tidak ada bedanya dengan ‘aturan hewan’.

“Tugas kita adalah mencegah kemungkaran dan mengajak pada kebaikan. Ada tiga cara mencegahnya, pertama dengan tangan, kedua dengan lisan, dan terakhir dengan hati, membenci perbuatan buruk itu dan berdoa semoga teman Via bisa berubah. Namun, yang ketiga ini adalah selemah-lemahnya iman kita. Jadi, kalau Via bisa mencegahnya dengan tangan, misalnya menahannya untuk tidak bertemu lagi dengan sang pacar, maka lakukan, tapi jika tidak maka dengan nasehat yang baik, lalu jika tidak bisa juga, maka tidak ada pilihan lain kecuali pilihan yang ketiga.”

“Tapi bagaimana kalau kita sudah menasehati tapi tidak didengarkan juga Mbak?”

“Tidak mengapa. Teruslah menasehatinya, jangan pernah lelah. Soal hasil itu hak Allah.”

“Lalu bagaimana sikap kita pada dia mbak? Apa harus kita jauhi?”

“Jangan. Selagi Via masih bisa berteman maka terus dekati untuk menasehati. Coba carikan artikel tentang bahaya free sex, dan jangan lupa ingatkan dia dengan kematian. Katakan padanya bahwa kelak jika dia mati dan dikubur, maka sang pacar tentu tidak akan menemani dan tidak bisa menjadi pembela. Yang menemani hanya amal perbuatan kita.”

Via mengangguk-angguk paham. Yang lain pun sama. Setelah sesi ‘curhat’ tadi, kajian pun dimulai. Hari ini aku kembali membahas sebuah ayat dalam al-qur’an, yaitu Ali-Imran ayat 185. Ayat yang menceritakan tentang kehidupan kita di dunia dan di akhirat. Ayat yang dengan jelas mengatakan bahwa setiap yang bernyawa akan mati, bahwa amalan kita akan dibalas sempurna di akhirat kelak, bahwa tolak ukur kesuksesan seorang muslim adalah masuk Surga, dan bahwa dunia hanya kesenangan yang melenakan. Ayat yang singkat tapi mencakup seluruh aspek kita sebagai hamba.

Kajian kali ini berjalan baik. Adik-adik UPN memperhatikan dengan serius. Sesekali mereka mendengar sembari mengunyah cemilan yang dibagikan. Ada juga yang berdiskusi kecil tentang tema kajian hari ini. Setelah menjelaskan, aku mempersilahkan mereka bertanya. Hampir dari semua yang hadir mengajukan pertanyaan. Ada yang bertanya tentang pengadilan di akhirat, tentang tobat, tentang perbuatan syirik, sampai tentang makhluk bernama Jin. Aku pun menjelaskan sebaik mungkin seseuai pengetahuan yang selama ini aku peroleh. Kuberikan pula beberapa contoh dan kisah-kisah Rasulullah bersama para sahabat beliau sebagai bukti atau perbandingan.

Akhirnya kajian hari ini selesai. Aku bahagia, bukan karena jumlah pesertanya yang bertambah dari minggu lalu, tapi lebih kepada niat adik-adik yang menghadiri kajian. Mereka yang hadir, meski tidak benar-benar menyimak tapi masih ada niat dan kemauan dalam hatinya. Dan inilah yang penting. Karena, jika tidak ada kemauan, maka tidak ada perubahan menuju kebaikan. Jika tidak ada kemauan, maka tentu saja mereka tidak akan hadir, dan mungkin lebih memilih untuk makan ke kantin.

Minna, arigato … ^_^

Semoga minggu depan kita masih diberi usia untuk bercumpa di majelis ilmu yang penuh rahmat Allah.

NB:

Selepas kajian aku tidak sengaja bertemu dengan Dek Ayu (adik UPN yang ikut taklim minggu lalu, tapi hari ini tidak). Iseng kutanyakan mengapa ia tidak ikut kajian, tapi dia tidak punya alasan. Dia hanya berlalu dan tersenyum.

Saat sampai di rumah, Ayu mengirim sms. Dia bertanya tentang ayat yang aku bahas minggu lalu tentang jilbab. Dan sekali lagi aku memanfaatkan momen itu untuk menanyakan mengapa ia tidak ikut kajian.

Ayu: Hehehe, terpengaruh dengan bisikan syetan Mbak😀

Aku: Wah, kalau gitu minggu depan kamu pakai headphone aja Yu, biar nggak dengar bisikan Syetan😉

Ayu: Hehehe mbak bisa aja J

Aku: Hehehe, jadi minggu depan datang ya *ini undangan loh J

Ayu: Insya Allah, kalau sikon mendukung.

Aku: Aamiin. Allah tentu selalu mendukung hamba-Nya yang menuntut ilmu agama ^_^

Ayu: Aamiin ^_^

Ya, inilah dakwah. Selagi kamu mampu mengajak, maka ajaklah orang lain pada kebaikan. Ajaklah ia dengan semua cara yang kau punya. Bahkan jika kau kehabisan cara, maka pinjamlah cara tetangga, cara yang baik lagi santun tentunya ^_^

*Petikan kalimat hikmah hari ini: Ketahuilah selembar sayap nyamuk lebih berharga dibandingkan dunia dan seluruh isinya.

_Nurhudayanti Saleh_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s