My Diary

Catatan Ngisi Kajian (CNK) – Bagian Pertama

Jogja, 22 November 2013.

Kutatap layar hape berkali-kali dengan rasa bersalah. Aku akan terlambat padahal ini hari pertamaku. Kaki kiriku kuseret dengan paksa. Sesekali aku meringis menahan sakit yang ditimbulkan oleh sepatu anti air itu. Cuaca di Jogja yang akhir-akhir ini basah membuatku membeli sepatu itu di Sanmor UGM hari minggu lalu. Sepatu yang ternyata kecil untuk ukuran kakiku.

Mbak, kalau udah sampai di shalter depan UPN, sms ya. Nanti dijemput.

Beberapa kali sms bernada sama mampir di hapeku, sementara aku masih duduk manis di dalam bis trans. Perjalananku cukup jauh, karena aku tidak berangkat dari kosan. Pagi ini aku dan Mega menyempatkan ke Progo untuk membeli beberapa barang, tapi baru saja tiba di sana aku sudah harus meninggalkan teman sekamarku itu karena harus mengisi kajian di UPN jam 11 teng.

Waktu bergulir cepat. Jam sudah menunjukkan pukul 11.30 dan aku masih duduk cemas di dalam bis. Kukirimkan sms pada adik UPN yang akan menjemputku. Sebentar lagi aku akan sampai dan sembari menunggu, aku menyarankan agar mereka tetap aktif mengajak teman-teman mereka yang lain untuk ikut kajian.

Aku tersenyum. Aku sudah berdiri di depan sebuah mushallah tempat kajian akan dilaksanakan. Kutatap sepatu yang tergeletak di depan ruangan yang tidak besar itu, kurang dari sepuluh pasang.

“Assalamualaykum …”

“Wa alaykum salam. Eh, Mbak Huda toh, Dede kira Mbak Mega. Sini Mbak.” Dede, wanita berkerudung biru muda itu mempersilahkan aku duduk di sampingnya. Adik-adik yang sebagian besar tak asing wajahnya juga ikut bergerak, duduk di depanku membentuk lingkaran. Kuawali pertemuan pertamaku dengan kata ‘maaf’ karena sudah datang terlambat.

Kajian rutin itupun dibuka oleh Dek Yuni sebagai moderator. Kemudian dilanjutkan dengan membaca Alqur’an oleh Dek Tasya. Lalu selanjutnya dilimpahkan kepadaku sebagai pengisi kajian mereka hari ini. Tanpa berlama-lama, aku langsung memulai. Sudah banyak waktu yang aku buang di perjalanan tadi.

“Sebelum Kakak melanjutkan, kita samakan pandangan dulu ya. Jadi, Kakak sekarang ada di depan adik-adik semua untuk menyampaikan perkataan Allah dan Rasulullah, menyampaikan syari’at Allah, bukan menyampaikan perkataan ulama ini atau itu, atau bahkan menyampaikan perkataan Kakak sendiri. Kakak hanya wadah untuk kalian. Kakak adalah penyambungg ilmu yang Rasulullah sampaikan. Sepakat?”

“Sepakat. Kak.” Jawab mereka serempak.

Sengaja hal itu aku sampaikan di awal kajian, agar ketika nanti ada kata perintah atau larangan, maka semua itu datangnya dari Allah bukan dari diriku yang hanya manusia biasa dan kerap kali salah. Setelah sepakat, aku pun melanjutkan kajian dengan mengangkat tema tentang jilbab. Kuterangkan satu ayat dalam Al-qur’an yang paling mahsyur, yaitu surah Al-Ahzab ayat 59. Kuterangkan tentang syarat-syarat jilbab syar’I itu seperti apa dan dalil-dalil yang mendukung.

Saat kajian masih berjalan, saat aku masih cuap-cuap di depan mereka, kusempatkan untuk memperhatikan mereka satu demi satu. Ah, ternyata tidak semua dari mereka memperhatikan dengan serius, bahkan hanya ada 2 atau 3 orang yang mencatat poin penting dari apa yang aku sampaikan. Lagi-lagi kukembangkan senyum. Inilah dakwah, inilah tantangannya. Bagaimana membuat yang tadinya tidak tertarik menjadi tertarik dengan ajaran yang syar’i. Dalam hati aku bertekad, hari ini kalian boleh tidak serius tapi besok kalian akan serius dengan sendirinya tanpa harus aku minta atau nasehati.

Dede, Titin, dan Ayu lah yang terlihat begitu antusias. Mereka bertiga yang paling rajin bertanya. Begitu banyak kecemasan di wajah meraka yang aku dapati. Keingintahuan dan semangat berubah menjadi lebih baik terpancar dari wajah-wajah mereka. Tiga orang inilah yang sepertinya akan rajin mengikuti kajian.

Sementara empat adik yang lain masih terlihat sedikit cuek dan sibuk sendiri. Sesekali mereka asik menelan cemilan sembari bercerita. Tidak masalah, tidak mengapa, bagiku inilah seni dalam berdakwah. Aku berharap dalam hati, meski mereka terlihat sedikit tidak peduli, tapi setidaknya ada satu ilmu yang bisa mereka bawa pulang hari ini. Apa saja, entah itu tentang wajibnya berjilbab, wajibnya menuntut ilmu, atau tentang kriteria jilbab syar’I itu sendiri. Atau paling tidak mereka bisa membawa pulang kesan positif mereka terhadapku saat berbicara di depan mereka sehingga minggu depan, mereka masih ingin datang untuk ikut kajian.

Tugas kita sebagai manusia adalah menasehati tentang kebaikan pada manusia lain. Sementara manusia itu akan mendengarkan nasehat kita atau akan berubah menjadi lebih baik karena nasehati kita, maka itu sepenuhnya menjadi hak Allah. Jadi, teruslah menyampaikan kebenaran, teruslah berdakwah sampai rasa lelah lelah menghampirimu ^_^

*Petikan Kalimat Hikmah Pekan Ini: Ketika kalian ingin melakukan kebaikan, maka ingatlah kematian.

_Nurhudayanti Saleh_   

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s