Diposkan pada My Diary

Ketemu Zida

Jogja, 25 November 2013

Kalau ke tempatnya Mbak, naik bis ‘Tempel’ trus turun di pasar Sleman. Udah itu ke mana lagi Mbak?

Begitulah kurang lebih isi sms yang kukirim pada Mbak Widi, seorang sahabat yang kukenal lewat dunia maya, Facebook. Aku sudah duduk manis di dalam bis setelah sebelumnya bertanya pada seorang ibu, apakah bis yang kini kutumpangi akan melewati pasar Sleman atau tidak.

Meski baru ada dua penumpang, bis sudah meninggalkan terminal Jombor dan melaju ke sebuah daerah yang belum pernah kukunjungi bahkan sekedar kulewati. Aku masih memegang hape putih setiaku. Mbak Widi juga masih setia membalas sms-sms dariku, sms-sms yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan tujuanku bertemu dengannya.

Mbak Widi: Kalau gak, ntar sms aja. Tak jemput. Dari pada kesasar. Kasian, jauh-jauh dari Makassar 😀

Aku: Iya, apalagi aku belum nikah 😀

Mbak Widi: Hehehe, sayang di sini sudah gak ada yang lajang 😀

Aku: Wah, padahalkan aku ke sana juga karena pengin dicomblangin.

Mbak Widi: Maaf, anda belum beruntung.

Aku: Ya udah gak pa-pa. Mungkin jodoh saya ada di Puskesmas lain. Atau Mbak mau bantu cek pasien yang datang, siapa tau aja ada yang shaleh, mapan, dan juga rupawan. Usia sekitar 25-37 tahun 😀

Mbak Widi: Banyak tapi ya itu, kebanyakan udah pada bapak-bapak. Udah pada berekor.

Aku: Hiks, apakah pria lajang sudah limited edition?

Mbak Widi: Iya nih, gimana ya?

Aku: Hem, ya udah deh Mbak. Nggak pa-pa. Kalau gitu aku nggak jadi ke tempatnya Mbak *loh 😀

Mbak Widi: Ayolah. Main aja ke sini. Ntar tak bonusin surat keterangan berbadan sehat 😀

Aku: Yang bener? Janji ya Mbak 😀

Mbak Widi: Hihihi, sekarang di mana? Tak jemput ya …

Aku: Aku udah di depan tempat pendaftaran. Berdiri di depan pintu. Aku pakai jilbab hitam.

Begitulah. Aku terus berbalas sms dengan Mbak Widi selama perjalan hingga benar-benar sampai di Puskesmas Sleman, tempat dia bekerja, tempatku berencana membuat ‘Surat Keterangan Berbadan Sehat’ sebagai kelengkapan berkas untuk pendaftaran salah satu lembaga PAUD di Jogja.

Seseorang dari balik bilik menatapku dan sedikit melambaikan tangan sembari tersenyum. Aku balas tersenyum. Wanita itu menyuruhku masuk ke ruangannya, wanita yang belum pernah kutemui sebelumnya.

“Assalamualaykum Mbak.” Kataku sembari menyelami wanita itu, Mbak Widi.

“Wa alaykum salam. Wah, akhirnya kita ketemu juga.” Balasnya tersenyum.

“Iya ya, setelah sekian lama, hehehe …” Aku tertawa kecil.

Aku lupa kapan tepatnya aku berteman dengan Mbak Widi di FB, tapi seingatku sejak tahun lalu. Dia salah satu sahabat yang perhatian. Setia memperhatikan setiap catatan-catatan bahkan sampai status tidak penting milikku. Meski ini pertemuan pertama kami, tapi aku merasa kami sudah bertemu sejak dulu-dulu. Tak ada rasa canggung, yang ada rasa akrab seperti dua orang yang sudah bersahabat lama.

Mbak Widi langsung menyodoriku sebuah kertas kecil untuk keperluan pembuatan surat keterangan berbadan sehat. Aku tidak perlu antri berlama-lama seperti pengunjung puskesmas yang lain. Ya, inilah hikmahnya menyambung tali silaturahim. Ketika kita membutuhkan bantuan, ada saja teman yang bisa membantu kita. Juga karena, silaturahim bisa mempermudah jalannya rezeki kita ^_^

Tidak lama, namaku dipanggil ke ruang poli umum. Seorang perawat telah menanti. Ia menyuruhku duduk tepat di sampingnya. Stetoskop ia rapatkan ke dadaku. Kutarik nafas dalam-dalam ketika ia memberi instruksi. Sampai tahap ini semua aman terkendali.

“Silakan naik.” Perintah sang perawat menyuruhku berdiri di atas sebuah timbangan. Benda yang paling aku hindari selama ini. Dengan sangat hati-hati dan doa yang tak putus, aku berdiri di atas benda itu. Aku menatap angka yang ditunjukan oleh jarumnya.

“Hem, mbak ringan ya. Padahal mbak tinggi.” Kata sang perawat setelah mencatat berat dan tinggi badanku. Ah, sudah kuduga, bagian ini pasti datang juga.

“Iya Mbak. Nggak tau juga kenapa. Padahal makan cukup banyak. Dari dulu begitu. Susah naiknya.” Jawabku polos.

Perawat itu terlihat tersenyum. Ia memberikanku sebuah kertas yang tidak besar. “Ini Mbak, udah selesai.”

“Udah selesai?” Tanyaku keheranan sambil menatap kertas di tanganku. Apa ini surat keterangan berbadan sehat? Kubaca kop kertas persegi panjang itu. Ah iya benar. Jadi, hanya sekecil ini? Aku menyunggingkan senyum karena kukira ukurannya akan sama seperti ukuran berkasku yang lain 😀

Aku kembali ke ruangan Mbak Widi. Kutemukan mejanya kosong, meja tempatnya menginput data-data pasien yang datang setiap harinya kemudian mengantarkan map-map kuning ke ruangan seharusnya. Ada yang Mbak Widi antar ke poli umum, poli anak, poli gigi, dan juga poli pantai …, eh nggak dink 😀

“Udah selesai?” Mbak Widi sudah kembali ke ruangannya dan duduk di sampingku.

“Iya Mbak.” Jawabku sambil menutup rapi kertas kecil itu dengan telapak tangan. “Aku ringan banget Mbak. Padahal tadi pagi udah sengaja makan banyak biar beratnya nambah, hehehe …”

“Keliatan kok, hehehe …” Mbak Widi tertawa kecil. “Wah padahal udah makan banyak ya, apalagi kalau tadi nggak sempat makan, xixixi …”

“Hihihi …, benar-benar.” Kataku ikut tertawa kecil.

Obrolan ringan kami berlanjut. Mbak Widi menyarankanku untuk periksa di poli gizi sementara aku menyarankan diriku sendiri untuk menikah, karena kata sebagian teman, menikah akan berhasil membuat berat badan seseorang bertambah 😀

“Ini loh, BB-nya ringan banget.” Kata Mbak Widi pada salah seorang perawat yang entah siapa. Mungkin perawat itu spesialis gizi.

“Em, ada keluhan nggak?” Tanya perawat berambut pendek itu.

“Nggak ada sih Mbak.” Jawabku. Ya, memang selama ini tidak ada keluhan berarti. Semua kurasakan baik dan sehat-sehat saja. Bahkan aku merasa cukup kuat meski hanya berbody Barbie.

“Oh kalau nggak ada keluhan berarti nggak masalah. Kecuali ada pembekakan kelenjar.”

“Oh, kalau itu nggak ada Mbak.” Balasku lagi. Mendengar kalimat sang perawat aku jadi teringat oleh salah seorang senior. Badannya juga kurus dulu, tapi setelah diperiksa ternyata ada pembengkakan kelenjar di lehernya. Setelah diobati, kelenjar itu hilang dan berat badannya bertambah.

“Hem, sepertinya ini faktor gen.” Kataku sok tahu.

“Hem, bisa jadi …” Mbak Widi mau tidak mau setuju setelah beberapa alasan tidak bisa membuktikan kalau tubuhku dalam keadaan berbahaya 😀

Kesibukan di Puskesmas Sleman masih berjalan. Pasien masih berdatangan. Map-map kuning semakin bertebaran. Sembari menunggu, aku membaca buku kecil yang sengaja aku bawa di dalam tas. Buku bersambul biru berisikan hadits-hadits yang harus aku hafalkan.

Ketika jam dinding sudah menunjukkan tepat pukul 12, pendaftaran pasien ditutup. Aku dan Mbak Widi menjemput Zida (anak perempuan Mbak Widi) di sekolahnya yang hanya berjarak sekitar 20 langkah dari puskesmas.

Saat tiba di sana, gadis kecil berusia 3 tahun itu sedang bermain bersama teman sejawatnya. Mereka terlihat sedang menyusun balok-balok kayu. Aku memperhatikan tempat itu. Setiap ruangan dicat dengan warna-warna cerah. Berbagai gambar menghiasi dinding-dinding di ruangan itu agar terlihat lebih semarak. Anak-anak berlarian dan memasuki ruangan mana saja yang mereka suka sementara guru-guru mereka mengawasi dengan saksama. Aku tersenyum. Hem, seperti inilah tempat yang akan menjadi tempat aku mengabdi nanti dan seperti ini pulalah pekerjaan yang nantinya aku lakoni.

“Katanya mau kuliah PAUD ya Mbak?” Seorang ibu menghampiriku. Tentu saja Mbak Widi yang telah menceritakan sebelumnya pada wanita paruh bayah ini.

“Iya Buk.” Jawabku santun.

“Ngambil S1-nya?”

“Oh bukan Buk. Saya hanya mengambil diklatnya. Jadi cuma 6 bulan. 3 bulan teori, 3 bulan praktek.”

“Oh begitu. Ya udah, nanti prakteknya di sini aja.” Tawar Ibu itu.

“Em iya Buk. Tapi sepertinya lokasi praktek akan ditentukan lembaga.”

“Hem begitu rupanya.” Ibu itu tersenyum sembari mempersilahkan aku melihat-lihat tempat itu.

Kakiku melangkah ke dalam perpustakaan. Ada dua rak tinggi berisi buku-buku bergambar. Bukunya tidak terlalu banyak dan sepertinya baru saja dibaca sehingga tidak tertata dengan rapi. Kutanyakan minat membaca anak-anak di tempat itu. Dan Ibu itu menjawab bahwa minat membaca anak-anak cukup baik. Mereka paling senang jika dibacakan sebuah cerita.

Aku dan Mbak Widi pamit saat sudah membereskan barang-barang milik Zida. Kami mampir sebentar ke Puskesmas kemudian langsung meluncur ke rumah Mbak Widi. Awalnya Zida masih canggung padaku. Dia selalu menghindar jika aku dekati atau ajak bicara. Tapi semua berubah saat kami sudah sampai di rumahnya. Dia mulai mendekat. Mungkin juga penasaran serta bertanya-tanya dalam hati, apakah aku bisa diajaknya bermain atau aku adalah tante galak yang tidak suka anak kecil.

Mula-mula gadis kecil berbulu mata indah itu menarik jilbab hitamku yang panjang. Dia ingin sekali aku membukanya. Setelah aku membukanya karena memang harus mengambil air wudhu, dia kembali meminta membuka kerudung cokelat yang aku kenakan. Aku pura-pura menolak dan melarikan diri. Zida pun mengejarku kegirangan. Kini ia merasa senang karena dia tahu, aku bisa diajaknya bermain. Kami main kejar-kejaran selama satu putaran kemudian berhenti karena aku harus shalat.

Zida menunggu dengan setia. Setelah memastikan aku sudah melaksanakan shalat, dia langsung berlari dan meloncat kecil ke punggungku. Kutangkap dan kepeluk dia di belakangku. Lalu dengan masih saling mengejar kami ke ruang tengah. Ketika sudah berada di atas kasur besar, aku mendengarkan cerita gadis kecil itu. Cerita tentang hape milik mamanya yang bisa berfungsi hanya dengan disentuh. Zida menyambar hape Mbak Widi dan langsung mempraktekkannya di depanku. Gadis lucu itu membuka aplikasi iqra dan coba membacanya.

“Ini alif, ini ba, ini ra …” Katanya sembari menggeser-geser jari mungilnya di atas monitor smartphone itu. Dari semua huruf yang ia bacakan untukku, hanya satu yang benar yaitu huruf alif. Hem, kelak dia pasti akan tahu semua huruf-huruf itu dengan lancar.

Aku juga menanyakan beberapa warna yang ada di sekitar kami. Zida menjawabnya dengan sangat baik. Ketika aku bertanya siapa yang mengajarinya, Zida menjawab dengan mantap; Mama. Dan setelah mendengar jawaban itu, barulah aku percaya kalau Mbak Widi benar-benar adalah seorang ibu *kabur, ah, takut disiapin serum rabies 😀

“Ayo, antar Mbak Anti pulang.” Mbak Widi menyiapkan tas Zida. Aku sudah akan pulang dan rencananya Mbak Widi beserta Zida akan berbaik hati mengantarku sekalian melihat tempat tinggalku di Jombor. Sebelum benar-benar sampai di kosan, Mbak Widi mengajakku mampir di sebuah tempat makan. Kami menikmati somai hangat di tengah sejuknya gerimis.

Perut pun terisi. Kami melanjutkan perjalanan meski gerimis masih turun. Saat tiba, kuajak Mbak Widi dan Zida untuk mampir dulu sembari menunggu hujan redah. Tapi baru sebentar, Zida sudah ingin pulang.

“Ayo pulang …” Zida menatapku keheranan saat aku tetap tinggal. Ah, inilah yang paling aku cemaskan. Ketika seorang anak kecil merasa menemukan teman baru untuk bermain, maka melepaskannya akan sangat susah.

“Tante Anti nggak ikut pulang Zida. Tante Anti kan tinggalnya di sini.” Kataku membujuk anak kecil itu tapi tidak berhasil. Dia terus saja mengajakku ikut pulang ke rumahnya sembari menangis.

Mbak Widi juga terus membujuknya. Zida memakai jas hujan dan helmnya dengan ogah-ogahan. Dia masih menginginkanku ikut dengannya.

“Tante nggak bisa ikut sama Zida soalnya tante juga mau sekolah. Nanti kalau tante libur, tante insya Allah main lagi ke rumah Zida, ya …”

Dengan masih cemberut dan bibir digulum rapat-rapat, Zida menaiki sepeda motor Mbak Widi. Wajahnya masih tidak terima. Mbak Widi tersenyum padaku dan akhirnya berpamitan. Mereka menembus gerimis yang masih jatuh satu-satu. Aku tersenyum sembari berdoa semoga masih ada usia untuk berjumpa ^_^

_Nurhudayanti Saleh

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s