My Diary

Tes Wawancara

Aku menyempatkan mematut wajah di cermin sebelum memasuki ruangan itu, ruangan yang akan menjadi tempat tes wawancaraku hari ini. Penampilan tentu akan menjadi poin pertama saat aku memasuki ruangan itu, ruangan yang entah seperti apa.

“Silakan Mbak …”

Seorang wanita yang sejak tadi berjalan beberapa langkah lebih dulu mempersilahkan aku memasuki ruangan berpintu kaca. Pintu yang dirancang seperti pintu rumah orang Jepang. Di sisi sebelah kiri pintu itu ada seorang pria yang setia menggeser daun pintu itu ke kiri dan ke kanan.

Ruangan itu tidak terlalu besar. Ada beberapa kursi kuliah yang berbaris rapi di dalamnya. Di depan juga ada sebuah papan tulis besar. Sepertinya ini sebuah kelas. Aku menatap sekeliling ruangan dan …, aku baru menyadari satu hal.

Apa? Yang mewawancaraiku seorang laki-laki?

Tadinya, sebelum memasuki ruangan ini, aku sudah membayangkan akan diwawancarai oleh seorang wanita paruh bayah yang begitu keibuan. Aku juga sudah membayangkan bagaimana jalannya wawancara yang hangat dan penuh keakraban. Tapi, semua yang kupikirkan serta-merta bubar jalan saat kudapati seorang pria lain duduk di balik meja. Meja yang di atasnya tertumpuk biodata orang-orang yang telah ia wawancarai hari ini.

“Silakan duduk, Mbak …” Laki-laki itu mempersilahkan aku duduk di sebuah kursi yang berhadapan langsung dengan mejanya. Kalimatnya menggantung. Ia berhenti sejenak sembari mengambil lembar pendaftaran yang baru saja kuisi di meja resepsionis. “Saya panggil apa?” Lanjutnya bertanya padaku.

“Mbak Nur aja.” Jawabku pendek sembari memperbaiki posisi duduk. Aku sungguh tidak nyaman.

“Mbak Nurhudayanti Saleh.” Katanya mengeja namaku yang tertulis jelas di atas kertas putih itu. “Saya nggak salah kan. Benar ‘Saleh’ kan?” Tanya laki-laki itu lagi.

“Iya benar.” Jawabku tetap menjaga pandanganku ke arah tumpukan kertas-kertas itu.

Sesi wawancara ia buka dengan menerangkan tentang program pendidikan dan latihan yang akan aku laksanakan kelak jika aku lulus dari tes wawancara hari ini. Aku mendengarkan dengan saksama. Sesekali aku bertanya tentang biaya yang akan aku keluarkan selama proses pendidikan tersebut. Seberapa besar dan akan seperti apa sistemnya. Laki-laki berkemeja hitam itu pun menjelaskan dengan saksama.

“Mengerti Mbak Nur?”

“Iya.”

“Kalau begitu Mbak akan pilih program yang mana?”

Aku pun mengutarakan pilihanku dengan berbagai pertimbangan. Tes wawancara pun kembali berlanjut. Laki-laki itu bertanya ini dan itu. Ia mencoba mencari tahu seberapa banyak aku mengetahui sesuatu yang akan aku jalani nanti.

Kujawab semua pertanyaan itu dengan mulus. Tentu saja sebelum berangkat wawancara aku sudah menyiapkan diri. Aku tidak ingin terlihat seperti orang bodoh yang sudah tahu akan diwawancarai tapi tidak mempersiapkan diri sama sekali. Malam sebelumnya aku sudah banyak membaca artikel. Aku pun menuliskan hasil bacaanku itu di sebuah buku dan membacanya sekali lagi sebelum benar-benar tertidur. Bahkan saat dalam perjalanan untuk wawancara, aku menyempatkan membaca di dalam bis.

“Cukup.”

Itulah kata yang paling sering tertangkap di telingaku. Setiap kali aku menjawab, setiap kali itu pula laki-laki di depanku memutus kalimatku dengan kata ‘cukup’. Entahlah, apakah baginya jawabanku sudah memuaskan atau malah tidak memuaskan sama sekali. Aku juga menceritakan tentang sebuah buku yang menginspirasiku memilih apa yang tengah aku pilih saat ini. Buku Jepang yang begitu inspiratif dan sangat cocok dengan dunia pendidikan anak. Buku itu berjudul Toto Chan.

Ah, Toto Chan, kau benar-benar membantu. Dan aku benar-benar menyebutkanmu dalam sesi wawancara tadi. Hem, Mega-san, arigato. Terimakasih sudah menceritakan kisah Toto Chan sehingga aku tertarik untuk membacanya dan mengenal sosok kepala sekolah yang luar biasa itu. Sosok yang menginspirasiku memilih dunia pendidikan anak.

“Coba Mbak Nur baca surah Al-Fatihah.”

“Eh, apa?” Aku sedikit terkejut. Aku tidak menyangka di dalam sesi wawancaraku akan ada hal semacam ini. Ah, aku lupa, inikan pusdiklat yang berbasis Islam. Tentu saja mereka mencari calon pendidik yang tidak hanya baik secara intelektual tapi juga baik secara spiritual.

Dan inilah masalah terbesarnya. Dia seorang laki-laki dan aku harus mengaji di depannya? Oh ya Allah. Hal yang paling aku sesalkan dari tes wawancara hari ini adalah bagian yang ini. Bagian yang seharusnya enteng-enteng saja jika pengujinya adalah seorang wanita seperti yang aku harapkan.

Aku pun perlahan membaca ta’awudz, kemudian disusul dengan basmalah, lalu ayat pertama, dan seterusnya hingga ayat terakhir. Kubaca surah pembuka di dalam Al-qur’an itu dengan tajwid dan makhraj yang benar, insya Allah. Kubaca persis seperti ketika aku membacanya dalam shalat. Sementara laki-laki di depanku itu tertunduk sembari mendengarkan dengan saksama.

“Aamiin …” Katanya sambil mengangkat kepala dan menatapku. “Aamiin kan?” Lanjutnya.

“Iya.” Jawabku pendek.

“Apa artinya ‘aamiin’?” tanyanya mengejutkanku.

Aku termangu. Arti kata ‘Aamiin’? Pertanyaan ini benar-benar tidak terduga. ‘Aamiin’, semoga Allah mengabulkan, itulah yang aku pikirkan tapi aku tidak yakin itu benar. ‘Aamiin’ adalah satu kata. Apakah benar arti secara bahasanya seperti itu atau … aku benar-benar bingung menjawab pertanyaan laki-laki itu.

“Saya lupa artinya …” Kujawab saja seperti itu. Aku benar-benar tidak yakin dengan jawabanku. Sekiranya dia bertanya tentang makna kata ‘aamiin’ mungkin akan kujawab dengan percaya diri.

“Aamiin berarti semoga Allah mengabulkan.” Kata laki-laki itu.

Aku kembali termangu. Ah, itu juga yang aku pikirkan, tapi apakah benar arti kata ‘Aamiin’ sepanjang itu. Atau itu hanya maknanya saja? Itulah yang sebenarnya yang ada di benakku sehingga tak berani menjawab pertanyaan terakhir dari tes wawancaraku. Pertanyaan itu pun aku bungkus rapi di dalam hati dan kubawa pulang untuk kucari tahu pasti.

“Mbak Nur jalan kaki lagi dari depan?” Tanya laki-laki itu sebelum aku benar-benar meninggalkan ruangan.

“Iya.”

“Tadi dapat hujan nggak?”

“Eh, apa?”

“Tadi kehujanan nggak?”

“Em, nggak kok Mas. Mari permisi. Assalamualaykum.” Kataku pamit, cepat-cepat meninggalkan ruangan. Kudapati laki-laki di dekat pintu itu masih setia duduk di bangkunya. Untuk apa dia di situ? Apakah dia menggenapkan jumlah orang di dalam ruangan agar tidak berdua saja? Hem, mungkin.

“Wa alaykum salam.” Jawab kedua laki-laki itu.

Tiba di ruangan depan, aku kembali bertemu dengan wanita yang tadi mengantarku masuk ke dalam ruangan wawancara.

“Loh, udah selesai Mbak Nur?” Tanyanya sedikit keheranan.

“Iya Mbak. Kalau begitu saya pamit dulu.”

“Oh iya Mbak. Nanti akan kami hubungi lagi kabar selanjutnya.”

“Iya Mbak. Terima kasih. Asslamualaykum.” Aku kembali berpamitan. Kutarik pintu bercat putih itu perlahan. Aku masih ingat betul kata wanita tadi ketika aku menanyakan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk satu kali wawancara. Wanita itu menjawab sekitar 30 menit bahkan lebih. Dan aku coba menghitung kembali, ah sepertinya aku terlalu cepat keluar dari ruangan itu😀

Ya Rabb, telah kucupkan usahaku hari ini. Tentang hasil, Engkaulah yang paling berhak mengaturnya. Maka apapun itu, aku percaya bahwa itulah yang terbaik. Aku tahu, yang Engkau nilai adalah usaha-usaha kami dan karena seseorang tidak akan berubah nasibnya kecuali dia yang berusaha untuk mengubahnya ^_^

_Nurhudayanti Saleh_ (20 November 2013)

2 thoughts on “Tes Wawancara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s