My Diary

Tantangan Luar Biasa

Tadinya aku berfikir, memutuskan untuk kuliah lagi dan harus mengambil bidang apa adalah hal yang paling menggalaukan dalam hidup. Tapi aku salah besar. Semua pemikiran itu runtuh seketika ketika kakakku menantangku untuk menikah.

Kamu mau aku comblangin nggak. Aku serius nih!

Begitulah kalimat yang ditulis olehnya. Tentu itu kunilai sebagai sebuah candaan.

Nggak usah. Kan aku punya murabbiyah. Biar nanti murabbiyahku aja yang nyariin.

Balasku santai.

Oh begitu. Ya udah, kalau begitu buktikan. Sampaikan pada murabbiyahmu. Bagaimana? Bukankah kita dianjurkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan?

Dug!

Aku terkejut. Apa ini? Apa ini tantangan menikah? Kucoba membaca sekali lagi kalimat yang ditulis oleh kakakku. Ah ini serius. Ini bukan candaan lagi. Tapi? Menikah? Sudah siapkah?

Lama aku merenung. Aku percaya setiap orang yang belum menikah bahkan yang sudah menikah sekalipun, jika ditanya tentang keinginan menikah, maka mereka akan menjawab serempak ‘ya’ kami ingin menikah. Begitupun denganku. Aku ingin menikah.

Namun, setelah dihadapkan langsung, ketika ‘ditantang’ untuk menikah, nyali yang tadinya setinggi gunung, kini hanya setinggi jamur. Takut. Ya, aku merasa takut. Takut kecewa dengan laki-laki yang akan menjadi jodohku. Takut kalau-kalau dia tidak seperti yang aku harapkan. Seketika itu juga aku lupa, bahwa Allah tentu selalu memilihkan yang terbaik untuk hamba-Nya. Ah, manusia memang selalu lupa. Maafkan kami ya Rabb.

“Loh, kan ada yang namanya ta’aruf Ukh. Kalau nggak srek ya silakan tolak. Gampangkan?” Mega menimpali saat aku menceritakan kegalauanku.

“Iya sih. Tapi aku takut dia laki-laki yang shaleh lantas aku menolaknya. Bukankah itu akan mengundang murka Allah dan fitnah dunia?”

Aku lagi-lagi merenung. Hem, mungkin beginilah perasaan orang lain saat ia akan menikah, mereka takut dan cemas luar biasa. Mati segan, hidup tak mau.

“Ah, tapi mungkin kecemasan itu hanya sehari. Setelah menikah semua akan berubah …” kataku menghibur diri sendiri.

Lalu, haruskah aku benar-benar menikah saat ini? Pertanyaan ini kembali bergelayut. Sungguh, jika ditanya, keinginan itu belum menggebu, belum membuatku ingin berusaha aktif mencari atau minta dicarikan sang calon suami.

Keinginan itu masih seperti riak air sungai yang tenang. Jika dipertemukan sekarang, Alhamdulillah. Jika tidak sekarang, maka tak mengapa. Masih banyak hal yang ingin aku lakukan salah satunya dan yang paling utama adalah membahagiakan kedua orangtua. Bukan. Menikah tentu tidak menghalangi kita untuk berbakti pada orang tua, hanya saja waktu dan cinta kita akan terbagi padahal aku masih ingin memberikan kedua hal itu secara utuh pada Mama dan Bapak.

Masih sama. Sampai detik ini keinginanku masih sama, masih sederhana. Aku ingin dicari bukan mencari, aku ingin ditemukan bukan menemukan. Belum. Belum saatnya aku mencari dan menemukan dia. Mungkin juga karena aku seorang wanita.

_Nurhudayanti Saleh_ (Jogja, 19 November 2013)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s