My Diary

Gara-gara Puasa

“Ulangi lagi …!!!” Teriak salah seorang senior. Suaranya begitu melengking nyaring. Aku dan Mega diam-diam mengintip dari luar ruangan. Laki-laki berkulit putih itu baru saja mengayunkan kakinya ke arah dua orang mahasiswa baru, agar keduanya mau melakukan push up sekali lagi.

Di luar, aku dan Mega masih mengintip diam-diam sembari menunggu giliran kami  memasuki ruangan itu, ruangan yang tepat di atas pintunya tertulis besar; Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas MIPA Universitas Negeri Makassar. Kaki kami sedikit gemetar saat dua maba yang tadi keluar dari ruangan BEM dengan wajah ‘mengenaskan’, kusut, dan payah. Pelan-pelan kami melangkahkan kaki. Dengan wajah menunduk takut-takut khas mahasiswa baru, kami mengetuk pintu dan mengucapkan salam.

“Nama kamu siapa?” tanya salah seorang senior. Rambutnya kribo mirip rambut Giring Nidji versi belum cukuran. Kulitnya hitam dan badannya kurus. Dia tepat menatap wajahku.

“Nama saya Nurhudayanti, Kak …” kataku masih menunduk. Enggan membalas tatapannya yang menakutkan itu atau mungkin juga sengaja dibuat-buat seram agar mahasiswa baru seperti kami semakin merasa tertekan tujuh hari tujuh malam.

“Kalau kamu?!” liriknya tajam ke arah Mega.

“Megasari, Kak.” jawab sahabatku itu, juga dengan menunduk khusuk.

“Nurhudayanti, Megasari, kalian tahu arti nama kalian?!” tanya sang senior dengan sedikit membentak. Kami sedikit terkejut dibuatnya. Ini nanya apa lagi latihan jadi pemimpin upacara sih? Batinku.

“Tahu Kak …” jawab kami hampir bersamaan.

“Nurhudayanti, apa arti namamu?” lanjut sang senior mengintrogasi.

“Nama saya memiliki arti Cahaya Petunjuk, Kak. Cahaya berasal dari kata Nur, sedangkan Petunjuk berasal dari kata Huda.” jawabku mantap. Tiba-tiba aku merasa bersyukur karena sewaktu kecil aku pernah menanyakan arti namaku pada Bapak, meski saat itu aku tidak begitu serius menanyakannya.

Cahaya Petunjuk. Dulu, ketika kecil aku sangat bahagia mengetahui arti namaku. Bagiku, aku akan sangat berguna bagi orang lain nantinya, berguna saat mereka membutuhkan cahaya alias saat listrik padam dan suasana tengah gelap gulita. Ya, begitulah. Aku kecil memaknai arti namaku sebagai sumber penerangan. Aku kecil, mengira aku bisa seperti kunang-kunang.

“Lalu Yanti berarti apa?” todong sang senior.

Yanti menandakan kalau saya perempuan, Kak. Karena jika laki-laki, maka akan berubah menjadi Yanto.” jawabku asal. Kudapati semua yang mendengar jawabanku menahan tawa. Tak terkecuali sang senior berambut kribo. Ia terlihat kesusahan agar tidak tertawa lepas. Ah, aku cuek saja.

“Kalau kamu Megasari, apa arti namamu?” Sang senior cepat beralih menatap gadis beralis indah itu. Dia sahabatku. Sahabatku sejak kelas satu SMA.

“Arti nama saya, Awan yang Indah, Kak. Awan berasal dari kata Mega, sedang Indah berasal dari kata Sari.” jawab Mega tak kalah mantap. Aku ikut mengangguk-angguk. Jujur, aku baru tahu arti nama sahabatku itu. Yah …, meski belakangan aku tahu kalau ternyata jawabannya saat itu hanya hasil karangan bebasnya. Glek. Ia pun tak tahu persis arti namanya. Beruntung sang senior hanya mengangguk-angguk menyimak jawaban kami berdua, gadis (yang mengaku) manis tanpa pemanis buatan.

“Gue haus nih! Sana! Buatin teh.” Seorang senior tiba-tiba masuk ke dalam ruangan BEM. Aku dan Mega sangat mengenal laki-laki berkulit putih itu. Laki-laki yang tadi menggunakan kakinya untuk menghukum dua maba laki-laki sebelum kami. Berdua, kami tiba-tiba merasa di tengah kuburan, wajah sang senior sudah seperti batu nisan, dingin dan menyeramkan.

Dengan langkah gontai, Mega menuju ke sebuah ruangan yang lebih kecil. Di sana, di atas sebuah meja panjang sudah berjejer toples kecil berisi teh, gula, dan kopi. Paling pojok berdiri sebuah termos air panas yang sudah begitu sepuh. Tanpa ba-bi-bu, Mega segera melaksanakan perintah sang senior.

Sementara Mega sibuk menyeduh teh, aku sibuk menjawab pertanyaan senior berambut kribo. “Ada sesuatu yang mengganggu saya dari kamu!” katanya menatapku.

“Apa itu, Kak?” tanyaku hati-hati.

“Lesung pipi kamu! Saya mau, bagaimanapun caranya, lesung pipi kamu nggak boleh terlihat mata saya!” katanya lagi. Ngeyel.

Aku lagi-lagi terkejut dibuatnya. Detik itu juga aku semakin tersadar, kami adalah mahasiswa baru -yang entah dari mana peraturannya- harus rela dikerjai oleh senior. Aku terdiam sejenak, berfikir keras untuk menjawab pertanyaan sang senior. Harus pula memilih jawaban yang tepat agar sang senior kalah telak.

“Bagaimana kalau kakak nggak usah menatap saya. Kalau bertemu di jalan, kakak cukup menghindari saya. Kalau perlu kakak pakai kaca mata hitam. Bagaimana?” usulku penuh semangat.

“Kalau saya nggak mau menghindar?” tantang sang senior. Dia tentu belum puas mengerjai maba seperti kami, yang terlihat begitu lugu dan unyu mirip penyu.

“Kalau begitu biar saya yang menghindar, Kak.” Tandasku. Bahkan dengan sangat senang hati, lanjutku membatin.

Baru saja sang senior ingin buka mulut membalas jawabanku, Mega sudah datang membawa dua cangkir berisi teh. Pelan-pelan, ia meletakkan satu cangkir teh di depan sang senior berkulit putih yang sedari tadi hanya diam seperti orang yang sedang sariawan dan juga bisulan. Kemudian, masih dengan pelan-pelan dan ekstra hati-hati Mega meletakkan cangkir yang masih tersisa di depan senior berambut kribo.

Belum sempat Mega duduk, sang senior berambut kribo mulai berulah lagi. “Teh apa ini?! Ini kurang manis!” selorohnya melirik tajam ke arah Mega yang sudah terlihat mirip Inem pelayan selebor, memegang nampan, gemetar.

“Masa sih, Kak?” sahut Mega.

“Coba aja, kalau kamu nggak percaya!” Senior kribo itu menyodorkan cangkirnya. Mega dengan pelan mengambil sesendok dan mencicipi rasa teh buatannya sendiri. Dalam hati aku sudah begitu cemas. Cemas memikirkan kapan semua perpeloncoan ini berakhir.

Astaghfirullah …” cepat-cepat Mega meletakkan sendoknya kembali. Wajahnya terlihat begitu kaget. “Aku lupa, kita kan lagi puasa Ti.” lanjut Mega menatapku dengan tatapan penuh arti.

“Oh iya, Masya Allah. Kita kan lagi puasa.” seruku tak kalah kaget.

“Kalian berdua lagi puasa? Kenapa nggak bilang dari tadi! Kalau tahu kalian puasa, kita kan nggak bakal nyuruh kamu buat teh.” Senior kribo dan yang berkulit putih itu terllihat sangat bersalah dan berdosa.

“Maaf, Kak. Kami lupa.”

“Masih muda sudah pelupa! Ya sudah. Kalau begitu kalian boleh pulang. Jangan lupa hari senin datang di acara penyambutan maba. Pakai kemeja warna biru.” Si Kribo mengijinkan kami pergi. Seketika itu juga sikap mereka berubah.

“Iya, Kak. Kalau begitu kami permisi.” Aku dan Mega segera pamit dan keluar dari ruangan bau apek itu. Bau kaki yang melekat di karpet, yang entah sudah berapa lama tidak dicuci. Sekarang aku tahu kenapa mahasiswa yang pingsan selalu dibawa ke ruangan BEM, itu karena tanpa minyak angin pun, sang pingsan bisa sadar dengan sendirinya.

Langkah-langkah kami percepat. Berusaha menjauh sejauh-jauhnya dari ruangan BEM. Setelah merasa sudah cukup jauh dan merasa suara kami tidak mungkin terdengar lagi oleh para senior, kami pun akhirnya mengeluarkan tawa yang sedari tadi tertahan.

“Hahaha …, ya ampun Me, akting kamu tadi bagus banget loh.” kataku saat mengingat kejadian tadi.

“Ya mau gimana lagi? Kalau nggak kayak gitu, mungkin sampai sore kita masih berada di ruangan BEM dan di-bully ama senior-senior. Tapi, respon kamu juga cukup cepat tadi, hehehe …”

“Hehehe iya juga sih.”

“Tapi, bagaimanapun kebohongan tetap saja kebohongan. Jadi, semoga ini menjadi kebohongan kita yang terakhir dan semoga Allah nggak marah ama kita ya.” Mega terlihat khawatir. Aku ikut khawatir memikirkan tindakan spontan kami tadi.

“Aamiin …” balasku khusuk. “Oh ya, kamu laper nggak? Makan yuk.” lanjutku menunjuk sebuah warung makan tidak jauh dari kampus.

“Ayo …”

Selesai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s