My Diary

Ano …

Kulitnya putih, matanya sipit, badannya tinggi dan besar. Dia duduk tepat di depanku. Di tangannya setia tergenggam kumpulan kertas bertuliskan huruf kanji. Kudapati gambar Candi Borobudur di salah satu lembar itu.

“Dia orang Jepang.” seru kami hampir bersamaan.

Mega, yang sejak dulu begitu tertarik dengan Jepang bahkan salah satu impian terbesarnya ke Negeri Sakura itu terlihat gusar. Ingin sekali dia mengajak turis itu berbincang. Kalau saja dia sudah lancar dan kalau saja turis itu bukan laki-laki, mungkin mereka sudah duduk berdampingan dan makan dorayaki bersama sembari mengobrol tentang film Detektif Q atau buku Toto Chan.

“Bahasa Jepang-nya permisi apa?” tanyaku pada Mega.

“Ano …, sumimasen …” jawab Mega sembari berbisik. Dia tidak ingin turis Jepang itu mendengar dan mengira dialah yang kami ajak bicara. Aku mengangguk-angguk paham. Diam-diam aku merekam kalimat itu di kepalaku.

Setelah itu aku masih bertanya beberapa kata, dan Mega akan setia menerjemahkannya ke dalam bahasa Jepang. Kalau dia tidak tahu, maka dia akan menjawab tidak tahu. Dia juga beberapakali bergumam dalam bahasa Jepang. Mungkin dia gemas karena tidak bisa mengeksplor kemampuan bahasa Jepang yang ia pelajari secara otodidak.

“Ti, perutku sakit …” katanya melirikku.

“Pasti kamu gemes banget kan pengin ngobrol.”

“Iya …” wajah sahabatku itu terlihat begitu sengsara.

“Aku juga sakit perut …” kataku nyengir.

“Iya! Karena lapar kan?!” tandasnya.  Aku tertawa kecil. Ah, dia udah kayak cenayang aja, tahu apa yang aku pikirkan.

“Persiapan bis 2A. Manggung, Monjali, Jombor …” teriak sang pramugara bis trans. Kulihat dia memberi tanda pada sang turis. Turis itu pun berdiri siap menaiki bis yang juga akan kami naiki.

Salah satu hal yang tidak aku sukai saat menaiki bis trans adalah berdesak-desakan dengan penumpang lain. Tidak masalah kalau penumpangnya peremuan semua, tapi kenyataan memang tak selalu sama dengan harapan.

Aku berdiri di depan pintu bis. Di depan kiriku berdiri seorang pemuda. Tingginya mungkin sama denganku. Di samping kiriku dan tepat di belakangku berdiri seorang wanita, sepertinya aku lebih tinggi dari mereka. Sementara di samping kananku berdiri seorang laki-laki berkacamata. Di dekat ikat pinggangnya bergelantungan camera digital. Di bawahnya berdiri tas travel khas back packer. Dia turis Jepang itu, di sampingnya aku hanya sebatas telinganya. Mungkin jika dia berdiri tegak, aku hanya sebatas bahunya yang kekar.

Bis trans melaju cepat. Penumpang yang berdiri sesekali terdorong ke belakang dan ke depan mencoba menjaga keseimbangan. Aku yang menjadi satu dari sekian penumpang bernasib kurang beruntung berdiri sembari memegang sebuah tiang dekat pintu dan juga memegang tas turis itu kuat-kuat. Ya, itung-itung jagain tas si turis biar gak ikut guling-guling. Si turis melirik sebentar dan melihat aku dengan setia memegangi tasnya. Mungkin dalam pikirannya aku adalah orang yang sungguh baik atau malah sebaliknya, aku seperti orang yang akan membawa kabur tas miliknya. Tapi pada kenyatannya, aku hanyalah seorang wanita yang butuh pegangan, takut jatuh dan terjungkal😀

Satu demi satu shalter kami lewati. Semakin banyak shalter yang kami lewati, maka semakin cemas pula wajah si turis. Mungkin ia berfikir, ia sudah melewati shalter yang harus ia tuju atau berfikir di mana seharusnya dia turun. Aku tersenyum. Turis itu pasti tidak pernah belajar pepatah kita; malu bertanya, sesaat di jalan. Ah, lagi pula sebenarnya dia belum melewati shalter itu karena tujuan kami sama. Aku ingin sekali memberitahunya, tapi hem …, belum saatnya. Kubiarkan dia menikmati detik-detik kecemasan itu😀

Saat sudah hampir tiba di shalter yang kami tuju, aku menyapanya dengan kalimat yang sudah dari tadi aku siapkan, yang sudah dari tadi aku hapalkan.

“Ano, sumimasen …” mengucapkan kata ini aku jadi teringat dengan Ita, teringat dengan ceritanya yang hampir sama J

Turis itu menoleh ke arahku dengan wajah terkejut. Ia mungkin seperti mimpi. Dia satu-satunya orang Jepang di atas bis itu, tapi ternyata dia bukan satu-satunya yang bisa berbahasa Jepang.

Ah, jangan kaget begitu. Saya cuma tahu itu aja kok, selain kata ohayoo, koniciwa, sayonara, ittadakimas, arigato, aisiteru, cotto matte kudasai, anata wa, gomen ne, dan ungkapan-ungkapan ringan lainnya yang sering kudengar dari Mega saat sahabatku itu sedang berlatih berbahasa Jepang atau sedang menonton film Jepang.

“Hai …” kata turis Jepang itu akhirnya dengan wajah masih tak percaya.

“Do yo wanna go to Borobudur?” tanyaku mengalihkan ke bahasa yang lebih mudah kami pahami😀

“Yes.” jawabnya pendek.

“Kalau begitu kamu turun di shalter yang ini.” kataku masih dalam bahasa Harry Potter tentu saja.

“Arigato …” balasnya.

“Hai …”

Bis pun tiba di Shalter. Saat bis akan merapat, kukatakan padanya kalau kami sudah tiba di Jombor.

“Kalau mau ke Borobudur, saya harus beli tiketnya di mana? Apa kamu tahu?” tanyanya.

“Em, kamu turun aja di situ. Di situ banyak bis menuju Borobudur.” jawabku menunjuk beberapa bis yang terparkir di terminal.

“Arigato …” katanya sekali lagi sambil menundukkan kepala.

“Hai …” balasku ikut menganggukkan kepalaku.

Mega yang sejak tadi berdiri dua baris di belakangku tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Saat turun aku menceritakan padanya. Kuceritakan bahwa sejak naik di bis aku menghapalkan kata itu; Ano Sumimasen. Aku tidak ingin salah menyebutkan kalimat itu seperti yang sering aku lakukan saat mengatakan kata-kata Jepang lainnya, seperti yukan menjadi yokun, atsui ne menjadi itsui ne.

Dan karena aku tahu atau lebih tepatnya berencana akan menggunakan kata itu untuk menyapa si turis J

Sayonara …, mungkin hari ini kamu yang mengunjungi negara kami. Tapi besok, kami yang akan mengunjungi negaramu, satu dari sekian negara yang ingin kami kunjungi bersama ^_^

***

Seperti yang disabdakan Rasulullah, ketika teman dekat kita seorang pandai besi, maka kita akan ikut merasakan panas apinya. Ketika teman dekat kita seorang penjual minyak wangi, maka kita juga akan ikut mencium wanginya.

Seperti juga, ketika teman dekat kita sering mengulang sesuatu, maka kita pun akan mengingat sesutu itu. Ketika dia sering berbahasa Jepang, maka kita tentu bisa mengingat beberapa kosa kata bahasa Jepang😀

Begitu juga ketika kita ingin masuk Surga. Pilihlah teman dekat yang selalu ‘menempuh jalan’ menuju Surga ^_^

 _Nurhudayanti Saleh_ (Jogja, 02 November 2013)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s