Cerpen

Cinta itu Sabar

“Ti …”

Aku mendengar suara nenek dari ruang tengah. Cepat-cepat kuakhiri tadarrusku dan bergegas menemui nenek.

“Iya Nek …”

“Kamu lagi gak ada kerjaan kan? Kuku nenek udah panjang.” Nenek menatapku yang berdiri di hadapannya kemudian menatap kuku tangan dan kakinya yang sudah memanjang, seminggu belum dipotong.

“Okey. Tunggu bentar ya Nek, aku ambil pemotong kukunya dulu.” Aku bergegas mencari potong kuku dan setelah menemukan benda kecil itu di atas meja rias, aku kembali, langsung ‘menyerang’ kuku-kuku nenek tanpa ba-bi-bu.

Hening. Aku maupun nenek sama-sama sedang menatap sebuah foto hitam putih di dalam sebuah bingkai kecil di atas meja. Foto hitam putih itu menampilkan dua wanita yang memiliki wajah yang begitu mirip. Jika orang lain yang melihat, mereka tentu tak bisa membedakan yang mana mama dan yang mana tanteku, saudara kembar mama.

“Mama kamu itu sabar.” Nenek memecah keheningan. Aku mendongak menatapnya yang tampak serius. Aku hanya bisa meng-hem panjang. Tak sedikit pun aku meragukan kalimat nenek.

“Mama kamu selalu saja mengalah untuk tantemu. Jika membersihkan rumah, mamamu yang mengambil alih hampir semua pekerjaan, sedangkan tantemu hanya kebagian pekerjaan-pekerjaan ringan. Kalau ada makanan, mamamu lebih dulu mempersilahkan tantemu untuk memilih. Begitu juga saat ada baju baru, tantemu selalu saja mendapat yang paling bagus. Mamamu selalu mengalah dan dia tidak pernah menangis. Beda dengan tantemu, dia begitu manja, suka menangis kalau permintaannya tidak Nenek penuhi.”

Aku tersenyum. Itu karena Mama sangat mencintai adiknya, batinku.

“Itu karena mamamu sangat mencintai tantemu.” Nenek melanjutkan kalimatnya. Wanita yang rambutnya sudah berubah putih itu sepakat denganku.

“Bahkan saat mereka masih bayi. Mamamu tidak menangis saat aku menyusui tantemu lama. Dia selalu saja mendapat sisa-sisa tantemu.” Kalimat nenek terdengar menggantung. Aku menatap mata nenek yang sudah berkaca-kaca. Ada gemuruh yang ia tahan di dadanya.

Hem, mungkin karena ini juga mama terlihat lebih ramping dibanding tante.

“Wah, mama hebat ya Nek. Pernah gak mama buat nenek kesal?” Aku coba mengalihkan topik obrolan kami.

“Tentu saja pernah. Meski mamamu anak yang sangat rajin, pintar, dan penurut, dia juga pernah membuat nenek marah. Waktu kecil, dia bandel soal bermain. Nenek selalu melarangnya main di bukit belakang rumah orang tua nenek, tapi selalu saja ia melanggar. Bersama teman-temannya, mamamu bermain seluncuran dengan pelepah buah kelapa. Saat pulang ke rumah, celananya pasti sudah robek. Nenek marah karena takut mamamu terluka. Saat dimarahi mamamu hanya tersenyum. Nenek kira dia sudah kapok, eh besoknya mamamu tetap pergi bermain ke bukit.” Nenek tersenyum. Mendung di matanya sedikit demi sedikit menghilang.

Sementara aku tak bisa menahan tertawa. Geli rasanya membayangkan mama kecil bermain seluncuran bersama teman-temannya sampai celananya robek. Aku tidak pernah tahu tentang cerita yang satu ini. Nenek yang mulai pikun belum pernah menceritakan sebelumnya.

“Sampai sekarang pun mamamu tidak berubah.” Kali ini tatapan nenek mengarah ke luar jendela. Ia menatap anaknya yang dulu kecil kini beranjak dewasa dan tua. Aku mengikuti arah tatapan nenek. Kudapati mama sedang menjemur pakaian. Lagi-lagi aku hanya ber-hem panjang.

Hening kembali menyergap. Kami berdua masih menatap ke luar jendela. Kini mama tidak lagi menjemur pakaian, ia terlihat tersenyum bahagia membantu papa berjalan masuk ke rumah. Kini bukan lagi mata nenek yang berembun, tapi mataku.

“Ti … kamu harus seperti mamamu. Dia bukan hanya anak yang sabar, bukan hanya kakak yang sabar, tapi juga isteri yang sabar.” Nenek masih menatap mama yang sekarang melanjutkan pekerjaannya menjemur pakaian. Papa sudah berada di dalam kamarnya.

“Iya Nek …” Balasku sungguh-sungguh. Mungkin aku tidak pernah melihat kesabaran mama kecil, tapi aku bisa melihat kesabaran mama yang sudah menjadi seorang isteri dan ibu.

“Sudah 25 tahun papamu sakit dan selama itu pula mamamu tidak pernah mengeluh pada Nenek padahal Nenek tahu betul apa yang mamamu lakukan selama ini tidak ringan, tidak kecil.”

Aku terdiam. Memang sungguh tidak mudah. Mama seorang ibu yang harus membesarkan 7 orang anak, merawat mereka, mendidik, memikirkan masa depan mereka, dan juga memikirkan usaha apa yang harus ia lakukan untuk mencukupi (kebutuhan) itu semua. Mama adalah seorang isteri, mengurus seorang suami yang terbaring di tempat tidur karena sakit, membuatkan dua menu makanan yang berbeda setiap hari, kadang-kadang harus menerima protes papa yang semenjak sakit menjadi sedikit pemilih, tidak tidur bahkan terlihat begitu ‘sengsara’ saat penyakit papa kambuh.

“Kamu lagi mikirin apa Ti? Serius amat?” Mama tiba-tiba datang membawa secangkir teh untuk nenek. Ternyata sejak tadi mama memanggilku tapi aku terlalu larut dalam pikiranku tentangnya.

“Eh, nggak mikir apa-apa kok Ma …” Kakatu cepat. Kutatap wajah mama yang mulai dihiasi kerutan.

“Jangan-jangan kamu udah punya pacar ya?” Nenek menatapku penuh selidik. Aku hanya bisa tersenyum pasrah.

Ah nenek, lagi-lagi. Nenekku memang belum mengerti dan selalu lupa kalau cucunya yang satu ini tidak akan punya pacar. Mama menahan tawa melihatku ‘menderita’.

“Ma, dia itu nggak bakal punya pacar. Katanya sih bakal langsung punya suami.” Kata mama mengeluarkan kalimat pembelaannya yang menurutku bukan sebuah pembelaan.

Nggak begitu juga ma, gak bisa langsung dapat suami juga. Ada proses yang harus dilewati, protesku dalam hati. Kutatap wanita berkulit putih itu, warna kulit yang tidak kuwarisi. Ia memang sangat suka menjahiliku jika membahas tentang pacar, suami, atau jodoh. Ia tertawa kecil dengan binar mata bahagia. Ada raut lelah terselip di sana.

Ah Mama, aku tahu lelah sudah kau rasa, tapi tak pernah pula kau tutur dengan kata. Hanya satu yang selalu kau ucap lewat mata, bahwa cinta adalah sabar dan sabar adalah cinta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s