Diposkan pada Akhlak dan Nasehat

Surat dari Ibu untuk Anak Laki-lakinya (Bagian Pertama)

Untuk anakku yang kusayangi di bumi Allah.

Segala puji ibu panjatkan kehadirat Allah ta’ala yang telah memudahkan ibu untuk beribadah kepada-Nya. Shalawat serta salam ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya.

Wahai anakku, surat ini datang dari ibumu yang selalu dirundung sengsara. Setelah berfikir panjang, ibu mencoba menulis dan menggoreskan pena sekalipun rasa ragu dan malu menyeliputi diri ini. Setiap kali menulis, setiap itu pula goresan tulisan terhalangi oleh tangis. Dan setiap kali menitikkan air mata, setiap itu pula hati terluka.

Wahai anakku, sepanjang masa yang telah engkau lewati kulihat engkau telah menjadi laki-laki dewasa, laki-laki yang cerdas dan bijak. Karenanya, engkau pantas membaca tulisan ini sekalipun nantinya engkau akan meremas kertas ini lalu engkau robek-robek sebagaimana sebelumnya engkau telah remas hati ibu dan telah engkau robek pula perasaan ibu.

Wahai anakku, 25 tahun telah berlalu dan tahun-tahun itu merupakan tahun kebahagiaan dalam kehidupanku. Suatu ketika dokter datang menyampaikan tentang kehamilanku dan semua ibu mengetahui arti kalimat tersebut. Bercampur rasa bahagia dalam diriku ini sebagaimana ia adalah awal mula dari perubahan fisik dan emosi ibu. Semenjak kabar gembira tersebut aku membawamu sembilan bulan, tidur, berdiri, makan, dan bernafas dalam kesulitan. Akan tetapi itu semua tidak mengurangi cinta dan kasih sayangku kepadamu bahkan ia tumbuh bersama berjalannya waktu.

Aku mengandungmu wahai anakku pada kondisi lemah di atas lemah. Bersamaan dengan itu aku begitu gembira tat kala merasakan, melihat tendangan kakimu atau balikan badanmu di perutkku. Aku merasa puas setiap aku menimbang diriku karena semakin hari semakin bertambah berat perutku. Berarti dengan begitu engkau sehat wa afiat di dalam rahimku, anakku.

Penderitaan yang berkepanjangan menderaku, sampailah tiba pada waktu fajar hari itu, yang aku tidak bisa tidur sekejap pun. Aku merasakan sakit yang tidak tertahankan dan juga rasa takut yang tidak bisa dilukiskan. Sakit itu berlanjut sehingga membuatku tidak lagi dapat menangis. Sebanyak itu pula aku melihat kematian di hadapanku. Hingga tibalah waktunya engkau keluar ke dunia. Engkau lahir bercampur air mata kebahagiaanku dengan air mata tangismu. Ketika engkau lahir meneteslah air mataku. Sedetik itu sirnalah semua keletihan, hilang semua sakit dan penderitaan bahkan kasihku semakin bertambah kepadamu. Aku raih dirimu sebelum aku raih minuman. Aku peluk cium dirimu sebelum meneguk satu tetes air untuk membasahai kerongkonganku.

Wahai anakku, telah berlalu tahun dari usiamu, aku membawamu dengan hatiku. Memandikanmu dengan kedua tangan kasih sayangku. Sari pati hidupku kuberikan kepadamu. Aku tidak tidur demi tidurmu. Bersedih demi kebahagiaanmu. Harapanku pada setiap harinya agar aku selalu melihat senyumanmu. Kebahagiaanku setiap saat adalah permintaanmu agar aku berbuat sesutu untukmu.

Lalu berlalulah waktu, hari berganti hari, bulan bergantti bulan, tahun berganti tahun, selama itu pula aku setia menjadi pelayanmu yang tidak pernah lalai, menjadi dayangmu yang tidak pernah berhenti, menjadi pekerjamu yang tidak pernah lelah mendoakan atasmu kebaikan dan taufik. Aku selalu memperhatikan dirimu hari demi hari hingga engkau menjadi dewasa. Badanmu yang tegap, ototmu yang kekar, kumis dan jambang tipis telah menghiasi wajahmu, telah menambah ketapananmu wahai anakku.

Tat kala itu aku mulai melirik, ke kiri dan ke kanan demi mencari pasangan hidupmu. Semakin dekat hari perkawinanmu semakin dekat pula hari kepergianmu. Tat kala itu hatiku terasa teriris-iris, air mataku mengalir, entah apa rasanya hati ini. Bahagia telah bercampur dengan duka. Tangis telah bercampur pula dengan tawa. Bahagia karena engkau mendapatkan pasangan, karena engkau telah mendapatkan jodoh, engkau telah mendapat pendamping hidup. Sedangkan sedih karena engkau adalah pelipur hati yang sebentar lagi akan berpisah dari diriku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s