My Diary

Di antara Tembok Rotterdam

“Kamu di sebalah mana?”

Fera mengirimkan sms dengan rasa cemas, saat dia baru saja tiba di Benteng Rotterdam (Fort Rotterdam). Aku dan Mega sejak tadi menunggunya, menunggu wanita berdarah Jawa itu. Aku lupa kapan kami terakhir bertemu, yang aku ingat waktu itu aku ke Makassar untuk menemani kakak iparku yang ditinggal suaminya kerja. Em, entahlah yang jelas sudah cukup lama. Mungkin sekitar lima bulan yang lalu.

“Di dekat tulisan Fort Rotterdam.”

Balasku cepat. Aku dan Mega semakin tak sabar bertemu dengan sahabat kami yang satu itu, sahabat yang tiba-tiba saja (rasanya) menghilang, tidak ada kabar, nomor gak aktif, FB pun sama. Fera akhirnya muncul dari balik salah satu mobil yang terparkir. Bukan, bukan mobil Fera. Boro-boro punya mobil, punya suami aja dia belum *loh😀

Fera datang dengan senyumnya yang masih sama, dengan cara berjalannya yang masih sama, semua sama tak ada yang berubah. Aku tersenyum, Mega tersenyum, kami bertiga tersenyum kemudian saling berpelukan melepas rindu mirip Teletubbies. Ah, akhirnya kita bisa berkumpul lagi.

Tak ada basa-basi, tak ada prolog yang berkelok-kelok, kami bertemu kemudian langsung mengobrol lepas seperti biasa, seperti kami tak pernah berjauhan sebelumnya, seperti kita setiap hari bersama.

Kami pun melangkah masuk ke Benteng Rotterdam, tempat kami berjanji bertemu hari ini. Sebenarnya mengunjungi benteng peninggalan Belanda yang satu ini adalah impian Mega sejak lama dan semakin menggebu-gebu sepulang dari Jogja beberapa hari yang lalu, Mega tiba-tiba ingin sekali ke benteng ini. Katanya, ia sudah ke tempat wisata daerah lain, tapi anehnya dia belum pernah ke Benteng Rotterdam, salah satu tempat wisata yang ada di Makassar. Aku manggut-manggut setuju karena aku pun begitu dan ternyata Fera pun sama. Jadi, hari ini adalah first time kami mengunjungi Benteng Rotterdam *ya ela, kemana aja Buk?😀

Hal pertama yang kami lakukan tentu saja melapor ke pos dan membayar uang masuk lima ribu rupiah perorang. Sebenarnya kami juga bingung berapa uang masuk perorang karena petugas yang menjaga hanya mengatakan seikhlasnya saja. Hem, jadi kalau kalian mau masuk dengan biaya lima ratus rupiah juga boleh kok yang penting hati ikhlas. Bukan begitu Pak Penjaga? -_-

Setelah melewati pos penjaga, kami langsung disuguhi bangunan-bangunan tua nan besar dengan arsitektur Eropa yang lekat. Jepret. Fera langsung mengabadikannya. Setelah itu kami berbelok ke kanan. Duduk sebentar mengambil foto kemudian lanjut lagi ke museum. Kami masuk bersama rombongan anak-anak sekolah dari Takalar. Mereka sedang study tour. Di tangan mereka ada sebuah buku tugas. Setiap melewati sebuah tempat atau benda-benda bersejarah mereka harus menuliskannya. Melihat hal itu kami bertiga jadi teringat masa-masa SMA kami dulu, saat kami study tour ke Jawa dan Bali. Ah, jadi kangen.

Setelah masuk ke museum, kami langsung naik ke lantai dua. Hal pernah yang kami rasakan adalah sejuk. Ada pendingin ruangan besar di setiap ruangan. 25 derajat, hem cool. Di lantai dua terpajang benda-benda peninggalan prasejarah dan sejarah Makassar. Ada gambar manusia purba yang kata Fera itu adalah gambarku *jitaaaaaaaaaak!!!

Ada perkakas manusia purba yang entah apa namanya. Kemudian kami menyeberang ke ruangan kedua. Di ruangan kedua terlihat benda-benda tradisional Makassar. Ada daftar nama hari dalam bahasa Makassar. Ada panggung yang dihias layaknya panggung pengantin. Lalu kami ke ruangan ketiga yang berisi alat-alat pertanian khas Makassar.  Ada lesung, ada alu, ada perahu untuk menangkap ikan, ada jala, ada.., ada bule. Ya, sepajang kami mengelilingi museum, kami melihat beberapa bule.

Dan aha, hampir lupa. Ada dua pria yang selalu mengikuti langkah kami bertiga. Setiap kami ke sana, mereka juga ke sana. Kami ke sini, mereka juga ke sini. Aneh. Ya benar-benar aneh. Ada apa gerangan dengan kami bertiga? Ada yang aneh kah? Tapi semua terjawab saat kami akan meninggalkan museum. Salah seorang pemuda itu berjalan dan mendekati Fera.

“Permisi. Teman saya suka sama kamu.” Kata laki-lai itu, sementara laki-laki yang satunya melongos karena malu.

Fera tertegun. Mematung.

“Boleh minta nomor hapenya?” Tanya laki-laki itu lagi.

“Oh, maaf. Tidak bisa.” Jawab Fera cepat. Aku dan Mega menahan tawa. Ah, ternyata aura primadona wanita Jawa ini belum luntur *Mbak Fera pakai susuk apa sih? Pasang di mana?😀

“Xixixixi, dikira kita masih ABG kali ya? Bisa dirayu sebegitu mudahnya.” Mega tertawa kecil saat kedua laki-laki itu pergi.

“Hehehe iya kali.” Aku menimpali.

“Belum tahu dia kalau kita udah nenek-nenek…” Lanjut Mega.

Tak lama seorang petugas datang mendekati kami.

“Dari pesantren mana?” Tanyanya.

“Wah kami bukan anak sekolah Pak. Sudah pada kerja.” Jawabku sembari tersenyum.

Nah, kan. Kita bertiga emang dikiranya masih ABG. Tidak dipungkiri lagi, wajah kami bertiga emang masih unyu’-unyu’ kayak penyu😀

Perjalanan kami pun kembali berlanjut. Kami mengitari benteng dari belakang sampai depan. jengkal-jengkal kami susuri, tak satupun sudut tembok yang luput dari jangkauan kami. Sepanjang jalan kami mengabadikan beberapa gambar. Mengabadikan kebersamaan kami di benteng, momen yang cukup langka tentu. Kami juga sempat membuat video kunjungan kami dari awal sampai akhir, sampai akhirnya kami terdampar di salah satu penjual es kelapa muda di pinggir jalan depan Benteng Rotterdam.

Sebelum benar-benar meninggalkan benteng Rotterdam, ada satu kejadian yang menggelikan. Seorang bapak-bapak berkulit putih dan bermata sipit berjalan di depan kami sembari berkata…

“Kakak adik ya?”

“Bukan. Teman.” Kataku cepat. “Cinggu…” Lanjutku lagi kelepasan. Cinggu, padahal laki-laki itu bukan orang Korea.

“Hah?” Laki-laki itu menoleh dengan wajah keheranan seperti ingin bertanya, Cinggu itu apa.

“Friends.” Mega menimpali dengan cepat. Laki-laki itu pun tersenyum dan berlalu. Friends, padahal laki-laki itu bukan orang bule.

Cinggu? Friends? Padahal yang bertanya juga orang Indonesia😀

Cinggu? Friends? Kita bertiga memang berteman, sahabat ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s