Cerpen

It’s You – Hitam Putih

“Apa?!”

Begitulah komentar pertama yang aku ucapkan saat Ria bercerita tentang Dinda, dulu. Dinda adalah salah seorang teman kuliah Ria. Dia gadis berperawakan kecil dan mungil, kulitnya putih, dan sifatnya begitu keibuan. Dia begitu manis dan sangat ramah terhadap siapa saja, termasuk padaku padahal aku baru mengenalnya dan kami bukan teman sejurusan.

Waktu itu aku sangat tertegun, terkejut, bahkan hampir tersedak mendengar kabar tentang Dinda yang akan menikah. Bukan kabar menikahnya yang membuatku sampai membuka mulut lebar-lebar tapi kabar dengan siapa dia akan menikah. Dinda akan menikah dengan Kak Tomi, seorang laki-laki yang berpostur tinggi besar, berkulit gelap, dan bersuara berat. Sangat kontras dengan Dinda. Mereka berdua bak pinang dibelah kapak. Seperti dua sisi mata uang. Mereka hitam putih.

“Kok bisa? Bagaimana ceritanya?”

Tanyaku kala itu. Ria tertawa kecil mendengar pertanyaanku.

“Ya bisalah. Emang apa sih yang nggak bisa buat Allah?”

Ah iya. Apa yang tak bisa bagi Allah. Bahkan yang mati bisa Ia hidupkan kembali. Kun faya kun, jadilah, maka jadilah dia.

“Hehehe, maksudku bukan itu. Maksudku kenapa Kak Tomi? Itu gimana ceritanya?”

Jodoh. Dia benar-benar tak pernah bisa kita duga. Mungkin kita mengira dia padahal bukan dia. Jodoh. Seperti buah dalam kaleng. Kemesannya bisa terlihat lebih nikmat dari isinya atau bisa juga sebaliknya. Jodoh. Seperti teka teki. Tebakan kita kerap kali meleset.

Siapa yang sangka, Tomi seorang staff di jurusan Dinda kuliah datang melamar Dinda. Bahkan Dinda sendiri tidak pernah menduga sebelumnya. Dinda malah menduga Irfan yang akan melamarnya, salah satu teman kuliahnya yang kerap kali coba mengenalnya lebih jauh. Bahkan Irfan sudah mengenal dan dikenal oleh orangtua Dinda. Tapi lagi-lagi siapa yang bisa menebak Jodoh. Tomi lebih maju selangkah. Dia mendahului Irfan yang tentu masih berfikir untuk menikah di usia muda sedang Tomi sudah mapan baik dari segi penghasilan maupun segi usia.

Dinda adalah anak yang begitu patuh pada orangtuanya. Apapun yang diputuskan oleh ayah dan ibunya, maka itu pulalah yang menjadi keputusnnya. Saat ibunya menerima lamaran Tomi, maka saat itu pula Dinda juga menerima tanpa mengeluh sedikitpun. Dia menerima Tomi apa adanya, apa adanya Tomi dengan kulit gelapnya.

Kini pernikahan itu masih berjalan, selaras, serasi, dan laggeng. Keduanya membuktikan bahwa perbedaan fisik bukan alasan dua orang tidak bisa menyatu, tidak bisa saling mencintai. Mereka mematahkan stikma bahwa laki-laki yang putih hanya untuk wanita yang putih, begitu sebaliknya. Mereka membuktikan bahwa sinteron-sinetron Indonesia itu tidak semua benar😀

Saya jadi teringat sebuah obrolan teman-teman tentang laki-laki yang berkulit gelap.

Teman 1: Kapan kamu menikah?

Teman 2: Doain aja.

Teman 1: Ya asal nikahnya jangan ama yang kulitnya gelap juga, kulit kamu kan udah gelap, ntar anakmu nggak kelihatan loh😀 *bercanda.

Teman 2: Meski laki-laki itu seorang Bilal? J

Teman 1: … *dug! Tertegun

Ah, iya Bilal. Kalian tahu Bilal kan? Dia salah satu sahabat Nabi yang berkulit gelap. Dia laki-laki mulia yang suaranya selalu terdengar mengumandangkan adzan. Dia yang langkah kakinya sudah terdengar di surga Allah, Subhanallah.

Jadi masihkah kita menilai seseorang dari fisiknya? Masihkah kita engggan jika dia berkulit gelap padahal dia adalah seorang ‘Bilal’?

Jodoh itu bukan soal sebagus apa fisik seseorang, tapi soal sebagus apa hatinya, akhlaknya ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s