Cerpen

It’s You – Pilihan

Saat menuliskan kisah Lina yang menikah dengan dosennya sendiri, aku teringat dengan kisah yang hampir sama. Kisah seorang teman yang kukenal sejak SMA. Dia kuliah di kampus yang sama denganku tapi dengan jurusan berbeda.

Sebut saja namanya Nina. Dia seseorang wanita yang sangat keibuan. Karena sifatnya itu, Amar yang berstatus duda ingin menjadikan Nina sebagai isterinya. Amar bukan lagi orang baru dalam kehidupan Nina. Selain sebagai dosennya sendiri, Amar juga pernah menjalin kasih dengan sahabat Nina, Sarah. Namun jalinan kasih itu terputus karena sifat Sarah yang masih kekanakan, yang belum ingin menikah sementara Amar bukan lagi anak muda yang ingin mencari pacar melainkan mencari isteri, begitu yang aku dengar dari beberapa teman kuliah Nina.

Nina menolak. Dia tidak ingin menyakiti hati sahabatnya meski ia tahu kalau hubungan Amar dan sahabatnya telah berakhir lama. Nina juga tidak tahu bagaimana caranya menerima seseorang yang dulu begitu dicintai oleh sahabatnya, seseorang yang ia kenal lebih jauh dari cerita-cerita Sarah dulu.

Tidak. Nina masih berkeras menolak. Setahuku dia sulit memtuskan kala itu. Dia dilema. Dia tidak bisa memilih. Di satu sisi ia memikirkan Sarah lalu di sisi lain dia memikirkan Amar, seorang pria yang baik yang berniat menikahinya dengan cara yang baik pula. Sebenarnya tak ada alasan yang bisa membuatnya menolak ajakan Amar keculi bayang-bayang sahabatnya.

Bagaimana Nak?

Aku terserah ibu saja. Apa pun keputusan ibu, maka itulah yang terbaik dan menjadi keputusanku juga.

Begitulah. Akhirnya semua keputusan Nina kembalikan pada orangtuanya. Apapun yang diputuskan orangtuanya, menerima atau menolak lamaran Amar, maka itu pulalah keputusan darinya.

Beberapa bulan berlalu. Aku dan sahabatku Ria sudah berada di dalam sebuah bus. Duduk di bangku penumpang yang tak lain pengantar iring-iringan pengantin Amar tepatnya Pak Amar, guru sekaligus dosen kami. Ya, akhirnya lamaran Amar disambut baik oleh keluarga Nina.

Saat masih dalam perjalanan kudapati wajah Pak Amar begitu sumringah dan bahagia. Wajahnya yang putih terlihat bercahaya dan lebih muda. Sesekali dia mengoda kami agar cepat-cepat menyusul langkah Nina. Aku dan Ria hanya bisa tersenyum. Ah, Pak Amar, coba saja bapak bisa melihat wajah bapak saat itu, bapak akan malu tentu ^_^

Pernikahan pun akhirnya digelar. Satu persatu undangan hadir membawa bingkisan hadiah dan tentu saja doa. Tapi ada yang kurang. Sarah tidak nampak di barisan para undangan. Dia tidak hadir di acara pernikahan sahabatnya sendiri. Aku dan Ria sudah menduga hal itu. Ya, mungkin karena ia tidak ingin merusak suasana pesta hari itu meski sebenarnya Nina tak pernah berfikir seperti itu. Ia justru sangat ingin sahabatnya hadir di hari bahagianya.

Sejenak aku berfikir, jika itu terjadi padaku dan Ria, apa yang akan aku lakukan? Ah, aku tahu, aku tetap akan hadir ^_^

***

“Adik tidur di atas saja. Biar kakak yang tidur di bawah.” Amar mempersilahkan Nina tidur di atas ranjang. Malam ini malam pertama mereka.

“Tidak Kak. Kakak saja yang di atas. Kan kakak tamu saya…” Nina tersenyum malu. Ia menarik tempat tidur lain dari bawah ranjang. Malam ini malam pertama mereka.

***

Saat ini Nina sudah memiliki dua buah hati hasil pernikhannya dengan Amar. Sementara Sarah juga sudah menikah dengan pria pilihan hatinya. Setiap kali bertegur sapa dengan Nina, dia tak pernah melewatkan kalimat: Kapan kamu nyusul?

Kapan? Biar waktu yang menjawab karena aku tak akan pernah tahu ^_^

2 thoughts on “It’s You – Pilihan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s