My Diary

Seperempat Abad

Sekitar duapuluh lima tahun yang lalu, di sore hari yang cerah, terdengarlah tangisan seorang bayi yang baru saja menghirup udara bumi. Ratu Felasia baru saja melahirkan seorang putri yang begitu cantik. Ada dua sabit nampak menghiasi kedua pipinya yang merona.

“Ratu, Putri kita telah lahir. Dia begitu cantik dan aku ingin sekali memberikannya nama Naverla. Apakah Ratu setuju?” Raja menggenggam tangan isterinya lembut.

Ratu Felasia tersenyum. “Iya Rajaku. Aku setuju. Naverla adalah sebuah nama yang cantik yang berarti kedamaian. Aku berharap kelak putri kita bisa membawa kedamaian di bumi ini.”

Srup, srup, srup!

Seseorang baru saja muncul di balkon kamar Ratu Felasia. Wajahnya hitam dan menyeramkan. Di tangan kanannya ada sebuah tongkat dari kayu hitam berkepala tengkorak. Laki-laki berjubah hitam, yang jubahnya sempat tersangkut di tiang balkon tadi terlihat tertawa terbahak.

“Hahaha…, Naverla. Akhirnya lamaran itu benar bahwa hari ini akan lahir seorang putri bernama Naverla.”

“Siapa kamu?! Dan mengapa kamu bisa ada di sini? Lagi pula menurutku bukan lamaran tapi ramalan!” Raja maju dan siap menarik pedangnya yang baru saja ia asah.

“Iya, itu maksudku, ramalan. Dan aku bisa di sini karena penulisnyalah yang memunculkan aku di sini. Jika ingin marah, maka marahlah pada penulisnya! Tugasku adalah menculik Naverla dan membunuhnya. Jika tidak, maka dialah yang akan membunuhku. Begitu kata Eyang Subur.”

“Tidak…!!! Tidak akan kubiarkan kamu membunuh Putriku. Jika berani, maka langkahi dulu mayat Arya Wiguna!”

“Apa? Siapa Arya Wiguna itu? Aku ti…”

Tuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuttttt…!!!

Ah prolognya beneran kepanjangan padahal intinya saya cuma pengin bilang kalau hari ini tuh, tanggal 19 Mei adalah tanggal yang sama saat saya dilahirkan 25 tahun silam. Alhamdulillah, Allah masih ngasih saya umur sampai detik ini.

25 tahun bukan usia yang muda lagi apalagi bagi seorang wanita *eh. Usia 25 tahun adalah usia dimana seseorang harusnya sudah benar-benar dewasa dalam segala hal terutama dalam hal memaknai hidup itu sendiri, tahu apa tujuan kita dihidupkan di dunia, tahu mengapa kita dimatikan dan tahu untuk apa kita dihidupkan lagi di akhirat kelak.

Apa saya sudah benar-benar dewasa? Jawabannya belum dan sedang berusaha (terus). Saya memang belum dewasa dalam semua hal, tapi ada satu hal yang di usia saya saat ini terasa begitu istimewa. Saya merasa telah benar-benar dewasa dalam hal ini.

Cinta. Ya, hal inilah yang aku maksudkan. Cinta bukan lagi perkara sukar yang bisa buat galau. Cinta bukan lagi soal suka dia atau dia. Bukan lagi gampangan dan mudah diumbar begitu saja.

Tidak ada lagi yang namanya cinta monyet, cinta jarak jauh, cinta lokasi, hubungan tanpa status, atau yang lain sebagainya yang mengkambing hitamkan cinta yang sesungguhnya putih dan bersih. Jika sampai hari ini ada yang masih pacaran, masih LDR, masih HTS, saya berani mengatakan bahwa dia belum dewasa. Bentuk kedewasaan dalam cinta itu hanya dua, menahan atau menikah ^_^

25 tahun. Harusnya saya sudah menikah, begitu kata Bintang, padahal dia sendiri pun belum menikah. Ah, tidak usah takut soal yang satu itu. Allah tentu sudah menuliskan takdir setiap hamba-Nya. Saya, kamu, dan kita semua yang belum menikah (bahkan yang sudah menikah sekalipun) tentu akan dipertemukan dengan sang jodoh. Tak usah takut dan akhirnya melakukan dosa dengan memacari atau dipacari.

25 tahun. Rasanya benar-benar baru kemarin. Baru kemarin aku TK dan temanku Pia kecebur got, SD dan aku menginjak kotoran sapi di tengah lapangan, Tsanawiyah dan aku tak pernah bisa menyeberangkan bola voli, SMA dan aku hanya berhasil menyeberangkan satu kali bola voli, kuliah dan aku suka tidur di dalam angkot. Baru kemarin rasanya menjadi remaja sampai-sampai setiap bertemu dengan orang lain aku selalu menyapa dengan sapaan Kak meski orang itu –setelah kuteliti- ternyata lebih muda😀

25 tahun. Tak sanggup rasanya jika harus menuliskan semuanya. Semua yang telah diberikan oleh Allah sebagai kado terindah. Keluarga, guru, dan sahabat. Kesehatan, rezki, dan terkabulnya doa. Begitu banyak dan aku hanya bisa bersyukur. Berdoa semoga dengan usiaku yang tersisa ini aku bisa semakin istiqamah. Mengisinya dengan kebaikan dan amal shaleh. Semoga kelak saat aku harus kembali, aku kembali dalam husnul khatimah, aamiin.

Well, 25 tahun dan aku masih tetap menunggu ‘angkot’ itu ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s