My Diary

Mendadak Seksi dan Tegar

“Afwan…” Terdengar suara seorang laki-laki di depan pintu. Aku terkejut. Cepat-cepat aku berlari menyambar jilbab besarku di dalam kamar.

“Iya, kenapa?” Kataku dari balik pintu.

“Saya ke sini bersama siswa bimbel yang baru. Dia mau masuk asrama.” Kata laki-aki itu yang entah bagaimana rupanya. Dia salah satu pengurus bimbel untuk ikhwan.

“Oh iya.” Jawabku lagi. Kutunggu laki-laki itu pergi dari depan pintu. Samar-samar kudengar laki-laki itu menyuruh dua wanita untuk menungguku membuka pintu.

Pelan-pelan kutarik gagang pintu. Kulihat dua wanita sudah berdiri dengan sedikit kikuk. Sembari tersenyum, kupersilahkan keduanya masuk.

“Jadi yang mau masuk asrama adik bedua ya?” Tanyaku saat sudah duduk melantai di depan mereka.

“Bukan, tapi cuman adik saya saja.” Salah satu dari mereka, yang terlihat lebih modis menunjuk yang satunya lagi.

“Oh begitu. Namanya siapa dek?” Kutanya gadis yang satunya, yang sedari tadi diam saja.

“Rini…” jawabnya singkat.

Setelah serah terima Rini dari kakaknya ke padaku, kakaknya yang seorang mahasiswa semester akhir di salah satu perguruan tinggi di Makassar akhirnya pergi dan menitipkan Rini di asrama selama kurang lebih satu setengah bulan.

Kupersilahkan gadis pendiam itu –setidaknya itulah yang aku tangkap pada pertemuan pertama kami- masuk ke dalam kamar sembari membawa barang-barangnya yang tidak banyak, hanya ada sebuah tas ransel dan tas selempang. Tidak seperti teman-temannya yang sudah lebih dulu tinggal di asrama, semuanya membawa travel bag atau paling tidak sebuah tas besar.

Kuajak ia berbincang tentang asal daerah dan jurusan yang akan ia pilih nanti. Kutanyakan juga tentang siapa yang telah merekomendasikan bimbingan belajar Al-insan kepadanya, secara bimbingan belajar ini masih baru, masih belum banyak yang mengenal.

Rini bercerita singkat bahwa yang menyarankan bimbel di Al-insan adalah teman kakaknya yang tadi mengantar mereka. Aku bergumam sembari mengangguk-ngguk kecil. Menghadapi orang pendiam seperti Rini membuatku sedikit bingung. Apalagi aku belum mengenalnya, aku tidak mau sampai salah mengangkat topik obrolan. Tidak lama, suara adzan ashar terdengar dari masjid kompleks. Aku segera membangunkan adik-adik yang lain di kamar yang satunya lagi.

“Itu siapa kak?” tanya Nur saat mendapati wajah baru di asrama.

“Namanya Rini. Nanti juga kamu tahu. Sekarang, siap-siap shalat dulu.”

Semua bersiap shalat berjama’ah. Satu persatu menatap wajah Rini dengan keheranan. Mereka semua penasaran siapa gadis baru itu. Sementara Rini hanya bisa tersenyum datar dengan sedikit kikuk. Ia merasa asing.

“Hem, sudah lihat ada yang baru kan?” Tanyaku tersenyum saat mengumpulkan semua adik-adik. Shalat ashar berjama’ah baru saja usai. Kami duduk memebentuk lingkaran.

“Iya kak.” Semua menjawab dengan penasaran.

“Namanya Rini, asal dari Bone. Biar lebih jelas, Rini akan memperkenalkan dirinya pada kalian. Ayo Rini, silakan!” Aku mempersilahkan Rini memperkenalkan dirinya. Dengan masih kaku, ia menyebutkan nama lengkap dan asal daerahnya. Semua mendengarkan dengan sangat antusias.

“Ada yang mau bertanya?” Usulku. Semua saling berlomba mengajuan pertanyaan. Ada yang menanyakan hobi ada juga yang menanyakan makanan pantangan. Rini menjawab dengan pendek, ia hobi membaca dan tidak punya makanan pantangan.

“Ada lagi yang ingin bertanya? Awas kalau nanyanya nomor sepatu, itu semua pertanyaan kakak buat kalian kemarin. Yang kreatif sedikit dong…, hehehe…”

“Hahaha….” Semua tertawa geli.

“Kalau nggak ada lagi yang bertanya, biar kakak yang tanya. Nggak usah tegang Rin, pertanyaannya gampang kok…” Aku menepuk pangkuan Rini, yang lain tertawa kecil. Semetara Rini hanya menarik bibirnya tipis.

“Rini nggak suka sifat yang seperti apa? Atau nggak suka kalau diapakan?”

“Aku nggak suka dicuekin.” Jawab Rini singkat. Semua bergumam menyebut huruf O. Mulut mereka terlihat manyun dan kepala mereka mengangguk-angguk persis boneka berleher per yang sering ditaruh di atas dasbor mobil. Aku menahan tawa.

Setelah Rini memperkenalkan diri, giliran yang lain yang memperkenalkan diri mereka. Siang itu hanya ada Anty, Nur, Riva, Husna, Ririn, dan Riris. Mereka bergantian menyebutkan nama lengkap dan asal daerah mereka pada Rini, gadis pendiam yang hobi membaca itu.

“Ada yang mau main game?” Tawarku. Di hari senin sampai jum’at, sore sehabis salat ashar adik-adik kembali belajar besama dengan tentor mereka, tapi karena ini hari minggu, maka mereka libur. Sebagian memanfaatkan waktu libur untuk berkunjung ke rumah keluarga mereka, sebagian lagi hanya tinggal di asrama.

“Mau…” Jawab mereka antusias.

“Kalau begitu dekatkan lutut kalian satu sama lain. Kita akan main game yang judulnya…, em judulnya apa ya? Judulnya…, suka-suka deh.” Aku tertawa kecil disusul tawa mereka yang renyah.

“Kakak akan menyebutkan satu kata. Setelah itu akan menepuk lutut orang di samping kakak bisa samping kanan atau kiri. Orang yang kakak tepuk lututnya harus mengucapkan satu kata juga yang terlintas di otaknya saat mendengar kata yang kakak sebutkan. Dan setelah menyebutkan satu kata harus menepuk lutut orang setelahnya. Begitu seterusnya sampai ada yang tidak bisa mengucapkan kata apa pun. Siapa yang tidak bisa atau terlalu lama berfikir akan dianggap ‘mati’ dan keluar dari permaianan ini. Jadi intinya game ini akan menguji spontanitas kalian. Bagaimana? Paham?”

“Contohin dulu kak.” Pinta mereka.

“Jadi misalnya gini, kakak bilang putih lalu menepuk lutut Anti, dan Anti langsung bilang salju kemudan menepuk lutut Rifa, nah Rifa bilang dingin kemudian menepuk lutut di sebelahnya lagi. Begitu seterusnya.”

“Oh…” Semua bergumam paham. Wajah mereka menampakkan ketertarikan yang begitu besar. Mereka sudah tak tahan untuk segera bermain.

Permainan pun dimulai. Aku menjadi orang pertama meyebutkan kata pertama. Saking grogi dan terkejutnya, adik-adik banyak yang tidak bisa menyebutkan kata apapun. Ada juga yang terlalu lama berfikir. Pemaianan tidak pernah berjalan satu putaran penuh. Semua tertawa geli saat mendengar kata-kata spontan yang keluar dari mulut teman-teman mereka.

Kali ini, Anti yang memulai kata pertama. “Putih.” Ia menepuk lutut Nur yang duduk di sampingnya.

“Saya.” Seketka itu juga Nur melontarkan kata yang terlintas di kepalanya. Semua tertawa tak terkecuali Nur. Ia bahkan sampai menunduk memijati perutnya yang sakit. Ia sendiri tidak menyangka kalau yang ia sebutkan adalah dirinya sendiri.

“Oh iya, kakak lupa ngasih tahu peraturan yang lain. Dalam game ini pesertanya dilarang narsis ya…” Kataku tetawa kecil. Semua tertawa terbahak.

“Hahaha, itu karena Anti selalu bilang kalau aku itu putih, makanya pas dengar kata putih yang teringat ya diriku sendri.” Nur masih tertawa geli. Adikku yang satu itu memang berkulit putih. Di asrama dialah yang kulitnya paling cerah, bahkan kakaknya sendiri pun kalah, xixixi😀

Permainan kembali berlanjut. Kali ini semua lebih serius. Satu persatu gugur bahkan aku pun ikut gugur saat Rifa mengejutkanku dengan kata Korea.  Aku terkejut karena kukira permainan akan kandas sebelum sampai padaku, hehehe.

Permainan semakin seru ketika pesertanya semakin sedikit sampai akhirnya tersisa dua peserta, Anti dan Rifa. Anti menjadi orang pertama yang menentukan kata. Dia terlihat diam sejenak. Berfikir kata apa yang harus ia sebutkan sehingga lawannya tak bisa mengucapkan kata apa pun. Anti dan Rifa terlihat menarik nafas sebelum akhirnya Anti mengucapkan satu kata pamungkas…

“Seksi.”

Rifa tertegun, wajahnya amat terkejut, bola matanya bergerak-gerak bingung. Dia tidak bisa mengucapkan kata apapun.

“Dan pemenangnya adalah…., Mba Bro…” Kataku saat mengukuhkan Anti sebagai pemenangnya. Ia tertawa sembari bergaya layaknya seorang pemenang. Siang itu ia mengenakan sebuah kaos bertuliskan Mba Bro.

Semua tersenyum senang. Mereka malah menagih game yang lain.

“Jangan. Main gamenya seminggu sekali aja. Nanti kalau kakak mainkan semua gemanya besok-besok kita main apa dong? Hehehe…”

Semua kembali tertawa riuh. Rini yang tadinya hanya diam, kini mulai bersuara. Yang tadinya merasa asing sekarang mulai merasa akrab. Rini mulai bisa membaur sementra yang lain sudah mulai bisa menerima kehadiran Rini di tengah-tengah mereka.

Sejak saat itu, kata Seksi dan Tegar tak lepas dari bibir Anti. Dia kerap kali mendendangkan dua kata itu. Kenapa Tegar? Karena dia tak jarang menangis saat ibunya menelpon. Ibunya selalu mengatakan pada Anti agar anak gadisnya itu bisa tegar di Makassar, jauh dari keuarganya di Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s