My Diary

Mendadak Jadi Ketua

Kuambil satu lembar kertas dari buku harianku. Kulipat-lipat menjadi persegi empat yang kecil-kecil kemudian kusobek dengan rapi. Siang ini matahari bersinar cerah. Sepertiya hujan enggan turun menyapa. Kertas persegi keci itu kugulung satu perstu. Sebelumnya salah satu kertas sudah kutulisi sebuah kata. Kata yang sepertinya akan menjadi ketakutan bagi semua penghuni asrama Al-insan😀

“Lagi apa Dek?” Sapaku menghampiri remaja-remaja cantik itu di dalam kamar.

“Nggak lagi ngapa-ngapain Kak.” Kata mereka mau-malu saat kudapati mereka sedang mengambil foto, merekam momen kebersamaan di antara mereka saat ini.

“Hem kalau gitu, Kakak ajak main game ya. Mau?” Kataku mengambil tempat di samping kanan Niar, remaja yang terlihat begitu manja.

“Mau…!!!” sorak mereka kegirangan. Ah, Remaja. Giliran dikasih tes suaranya kayak kerupuk lempem, tapi pas dikasih game, suaranya mirip spiker bervolume full. Sama kayak saya waktu masih remaja😀

Aku tersenyum sumringah. “Sekarang di tangan Kakak ada gulungan kertas kosong kecuali satu. Yang satu itu ada tulisannya. Tulisannya adalah KETUA. Jadi sekarang kita akan menentukan siapa yang akan menjadi ketua.” Kutatap satu persatu wajah di hadapanku. Mereka nampak terkejut bahkan ada yang terlihat sangat takut.

“Atau sebelum kita main gamenya, apa ada yang ingin sekali menjadi ketua? Kalau ada berarti kita tidak perlu memainkan gamenya.” Kataku lagi. Semua menggeleng mantap. Tidak ada satu pun yang berani mengajukan diri menjadi seorang ketua. Hem, saya pun sebenarnya tidak berani karena seorang ketua adalah pemimpin sedang pemimpin memiliki tanggungjawab yang sangat besar saking besarnya, tak ada seorang Sahabat pun yang mengajukan diri menggantikan Rasulullah untuk memimpin umat islam dahulu.

“Atau ada yang tidak ingin sekali menjadi ketua?” tanyaku lagi. Kali ini hanya ada satu yang mengangkat tangannya dengan sangat mantap. Niar.

“Saya Kak. Saya tidak mau jadi ketua!” Akunya dengan wajah takut-takut.

“Hem, biasanya…, yang tidak ingin sekali menjadi ketua dialah yang akhirnya menjadi ketua loh…” Kataku sembari tersenyum. Niar menggeleng. Dia bergumam enggan mengaminkan pernyataanku. Dia benar-benar tidak ingin menjadi seorang ketua. Yang lain tertawa kecil sembari membenarkan dan menambah dosis ketakutan dalam diri remaja berdarah Mandar itu.

“Nah sekarang ambil satu gulungan kertas. Tapi jangan dibuka dulu ya. Kita bukanya sama-sama.” Aku mengulurkan tangan di depan adik-adik yang kini duduk membentuk lingkaran. Mereka mengambil gulungan kertas yang berada di dalam telapak tanganku.

“Sekarang, geser sekali lagi gulungan kertas di tangan kalian ke sebelah kanan.” Aku menatap wajah mereka yang semakin gugup. Mereka benar-benar tidak bisa menebak gulungan kertas mana yang di dalamnya ada tulisan KETUA. Apakah gulunga kertas yang ada di tangan mereka atau di tangan temannya yang lain. Jantung mereka berdegup kencang.

“Dalam hitungan ketiga, buka gulungan kertasnya. Satu, dua, tiga…!!!”

Anti, Nur, Riva, Ririn, Husna, Riris, Aliah, Niar, dan Zakia membuka dan segera melihat apakah kertas yang mereka pegang ada tulisannya atau kosong sama sekali. Tidak lama berselang Niar histeris penuh keterkejutan.

“Huaaaaa…., saya ketuanya! Saya yang menjadi ketua! Saya nggak mau…!!!” Niar berontak di tempatnya. Kami yang melihatnya tetawa geli. Ternyata pernyataan yang tadi aku lontarkan benar-benar menjadi kenyataan. Niar, yang tadinya begitu tidak ingin menjadi ketua, malah dialah yang mendapatkan kertas keramat itu.

“Nah kan benar. Dan satu hal, yang memilih itu bukan Kakak tapi Allah. Karena kertasnya sudah digeser sekali. Jadi sejak awal Allah ingin Niar yang menjadi ketuanya.” Aku tersenyum. Yang lain juga ikut tersenyum. Niar masih tak bisa terima.

“Tapi kak…” Niar menghentikan kalimatnya. Nampaknya ia segan untuk melanjutkan. Takut-takut kalau aku akan marah.

“Tidak perlu cemas. Jadi ketua itu nggak susah kok. Ketua fungsinya untuk mewakili teman-temannya yang lain. Misal kalau kakak lagi pantau dari jauh, cukup smsnya ke Niar aja tidak perlu ke kalian semua. Kan mahal smsnya, hehehe….”

Semua tertawa geli atau mungkin juga menertawakan kartu seluler yang aku gunakan😀

“Atau kalau di antara kalian ada yang komplen bisa diwakilkan oleh Niar. Soalnya kalau semuanya langsung datang mengadu atau protes ini itu, bisa-bisa jadinya kayak demo. Kakak kan takut juga kalau begitu. Takut dikeroyok.”

Semua kembali tertawa. Kulihat Niar yang sudah mulai menerima peran barunya. Ia mengangguk-anggukan kepala pertanda ia sudah paham dengan tugas-tugasnya sebagai ketua. Sesuatu yang tadinya begitu ia hindari.

“Nah, Niar. Siap jadi ketua?”

Niar tersenyum. “Iya Kak…” Katanya sembari tertawa kecil.

Hem, benarlah sebuah ungkapan. Jangan kamu terlalu mencintai sesuatu karena suatu saat kamu akan membencinya. Begitu sebaliknya, jangan terlalu membenci sesuatu karena suatu saat kamu akan mencintainya (mengerjakannya). Yang baik itu seperti kata Vetti Fera; yang sedang-sedang saja😀

Rasulullah bersabda:

Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya Radiyallahu’anhum ia berkata: Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda: “Makanlah, minumlah, berpakainlah, dan barsedakahlah tanpa berlebih-lebihan dan sombong”. (HR. Abu Daud, Ahmad dan dinilai mu’allaq oleh Bukhari).

Nah… ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s