My Diary

Mendadak Kenal

Senyum malu-malu terus terukir dari setiap bibir yang menatapku. Ada canggung kulihat di sana. Siang ini adalah hari pertamaku menginjakkan kaki di asrama Al-insan. Asramanya terletak di sebuah kompleks berkonsep minimalis. Saking mininya, hanya ada dua kamar dan satu kamar mandi dalam asrama. Sebenarnya ini bukan asrama tapi rumah yang disewa untuk dijadikan asrama sampai bimbel berakhir. Ya, paling tidak asrama ini bersih dan cukup untuk sepuluh wanita cantik. Dan yang paling penting lagi asrama ini hanya untuk para ladies. Berbeda dengan bimbingan belajar lain yang pesertanya berbaur antara perempuan dan laki-laki. Astaqfirullah…

Kutatap lagi wajah-wajah itu. Masih canggung. Padahal sebelumnya kudengar mereka saling bercerita akrab meski baru pertama kali bertemu. Hem, awal yang bagus. Aku tidak perlu susah payah mengakrabkan mereka. Aku melebarkan senyum sekali lagi, tanda akan memulai ritual siang ini. Ritual yang selalu dilakukan saat seseorang belum saling mengenal.

“Sudah kenalan?” kutatap mereka dari kanan ke kiri. Mereka duduk membentuk lingkaran.

“Sudah kak?” jawab mereka serempak.

“Sudah cerita-cerita?” lanjutku lagi.

“Sudah kak.” mereka kembali kompak menjawab.

“Hem, berarti sudah tidak perlu kakak kenalkan ya. Kalau begitu, karena sudah saling kenal, kakak mau tes aja deh. Tes sejauh mana kalian sudah saling mengenal.” aku tersenyum misterius.

Mendengar kata tes, adik-adik yang berbeda tujuh atau delapan tahun denganku itu terlihat kaget.

“Ya kakak…” mereka mengeluh tidak siap. Aku hanya tersenyum.

“Loh kan tadi katanya sudah saling kenal? Nah sekarang, kakak akan membagikan kertas kosong. Jadi semua harus puya pulpen. Sudah ada pulpennya?” tanyaku bersemangat.

“Belum kak.” semua menjawab sembari bergerak cepat mengambil pulen masing-masing. Saat kembali duduk kudengar mereka saling menanyakan nama lengkap. Mereka pikir aku akan menanyakan hal itu.

“Silakan tanya-tanya nama lengkap temannya ya. Kakak nggak bakal nanyain itu kok.” Aku tersenyum menahan tawa.

“Yaaa…” semua kembali protes. Ada juga yang tertawa geli menertawai tingkah mereka sendiri. Mereka kembali duduk rapi. Wajah mereka begitu penasaran menanti instruksi tentang apa yang harus mereka tuliskan di atas kertas kosong itu.

“Sekarang, tulis nama lengkap kalian masing-masing di baris pertama.” Instruksiku. Mereka dengan semangat menggebu-gebu menuliskan nama mereka.

“Sudah tulis namanya?”

“Sudah kak.”

“Kalau begitu geser dua kali ke sebalah kanan.” Perintahku lagi. Semua mengikuti instruksi dengan baik. Wajah mereka semakin penasarsan.

“Nah, sekarang baca nama yang ada di kertas yang kalian pegang. Sudah itu coba perhatikan orangnya dengan seksama.” Kataku lagi. Mereka saling menatap dan tersenyum satu sama lain. Ada yang memperhatikan berapa banyak jerawat di wajah temannya, ada juga yang memperhatikan berapa ukuran pinggang temannya, dan lain sebagainya.

“Terus tulis hobi teman kalian yang namanya tertera di kertas. Jangan tanya temannya ya! Isi sendiri. Kan tadi katanya sudah saling kenal hehehe…” aku tertawa kecil. Apalagi saat melihat mereka garuk-garuk kepala kebingungan. Dengan asal-asalan, mereka mengisi baris kedua. Ada juga yang mencuri-curi bertanya langsung pada temannya yang bersangkutan. Aku diam saja. Aku ingin tahu seberapa jujur mereka.

Setelah semua menebak hobi temannya. Aku kembali memberi instruksi untuk menggeser kertas sekali lagi ke sebelah kanan. Di baris ketiga mereka harus mengisi nomor sepatu teman yang namanya tertulis di atas kertas.

“Sudah ya. Sekarang geser lagi.” kataku menatap mereka satu persatu. Kudapati salah satu dari mereka masih menulis. “Tulisnya nomor sepatu ya dek, bukan nomor telepon…” lanjutku membuat semua tertawa geli.

Begitu juga saat mengisi makanan pantangan di baris keempat, kertas sudah terlebih dulu digeser sekali ke sebelah kanan. Mereka kembali terlihat antusias.

“Ayuk, kertasnya di kumpul!” aku meminta semua kertas yang berada di tangan Anti, Niar, Zakia, Husna, Aliah, Ririn, Riris, Riva, dan Nur. Mereka nampak tertawa. Takut-takut kalau yang mereka tulis tidak sesuai dengan si pemilik nama.

“Sekarang, kita akan membaca satu persatu. Dari situ kakak bisa tahu apa benar kalian sudah saling mengenal atau belum.” Aku mengambil satu persatu kertas yang di atasnya sudah terpampang berbagai jenis tulisan tangan. Kubaca nama yang tertera di atas kertas terebut. Kemudian membaca hobi, nomor sepatu, dan makanan pantangan yang dituliskan oleh temannya. Mereka mendengar sembari tertawa geli. Tebakan mereka banyak yang benar tapi lebih banyak yang salah.

Ada yang menulis kalau hobi Anti, remaja yang berasal dari Manukwari itu adalah ketawa dan sepertinya itu benar karena saat aku mengkonfirmasi, dia terus saja tertawa. Aku geleng-geleng kepala. Ada juga yang menulis kalau makanan pantangan Ririn, gadis remaja yang hobi menyanyi itu adalah bakso padahal Ririn nggak punya makanan pantangan apalagi yang namanya bakso. Ada yang menulis kalau hobi Nur adalah membaca padahal adik kandungku yang satu itu paling malas membaca. Dia pasti ketiduran saat membaca apalagi kalau bukunya sampai berates-ratus halaman. Hem, ternyata buah jatuh takkan jauh dari batangnya. Adik kakak sama aja😀

“Nah sekarang semua sudah saling kenal kan? Ternyata teman kalian ada yang pantang makan telur, udang, mi, bersantan, dan pedas, Jadi, besok kalau masak usahakan masak yang bisa dimakan semua yang ada di asrama. Misal sayur tumis kangkung dan tempe goreng. Semua suka tempe kan? Atau ada yang pantang sama tempe?”

“Tidak ada kak.”

“Syukurlah. Kalau kakak pribadi suka banget sama tempe. Kalau di meja ada tempe dan ikan, kakak bakal milih tempe. Kalau di atas meja ada tempe dan ayam goreng, kakak milih…”

“Tempe…” semua menjawab bersamaan.

“Ayam goreng…” kataku sembari tersenyum. Semua tertawa geli.

“Yaa…, kirain…”

“Hehehe tetep ya. Kakak memang suka tempe tapi lebih suka ayam goreng…”

Semua kembali tertawa. Siang itu begitu riuh penuh tawa dan canda. Yang tadinya malu-malu kini mulai lebih berani mengekspresikan diri. Yang tadinya cuma diam saja akhirnya tersenyum dan tetawa. Yang tadinya tidak kenal akhirnya kenal dan tahu sedikit banyak tentang teman baru mereka. Seperti pepatah, tak kenal maka ta’aruf (berkenalan) ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s