Cerpen

It’s You – Bahagiamu Bahagiaku

Keduanya adalah seorang wanita yang menempuh kuliah di Universitas yang sama. Persahabatan mereka dimulai saat mereka sama-sama aktif dalam Lembaga Dakwah Kampus. Seiring berjalannya waktu mereka semakin akrab satu sama lain. Bahkan setelah sarjana mereka menerjunkan diri di pekerjaan dan di departmen yang sama. Mereka berdua aktif di sebuah bimbingan belajar berbasis islami yang tentu saja menejemen dan pesertanya dipisah antara laki-laki dan perempuan.

Keduanya memegang peranan penting, Nia (sebut saja begitu) menjadi Direktur dan Aisyah (sebut juga begitu) menjadi sekretaris di departmen akhwat. Intensitas pertemuan yang tinggi membuat keduanya semakin dekat, semakin megagumi satu sama lain, dan saling mencintai sebagai saudara. Suatu hari keduanya sedang mengobrol serius tentang program bimbingan belajar asuhannya, tiba-tiba Aisyah mengusulkan sesuatu pada Nia.

“Kamu menikah saja bagaimana?” Aisyah tersenyum.

“Kita kan lagi ngebahas kerjaan Ukh, kenapa tiba-tiba ngomongin menikah?” Nia balas tersenyum.

“Karena itu. Ini ada hubungannya sama kerjaan kita.” Aisyah nampak tersenyum lebar.

“Hubungannya di mana ukh?” Nia terheran-heran.

“Begini. Selama ini kan, kalau kita rapat dengan department sebelah (tim ikhwan) selalu aja gontok-gontokan dengan ikhwannya. Nah, kalau kamu nikah sama Direktur sebelah kan kita jadi gak bakal gontok-gontokan lagi. Malah bisa jadi rapatnya bakal adem ayem, hehehe…” Aisyah tertawa kecil. Selama ini, ketika rapat dengan pihak ikhwannya mereka terkadang berbeda pendapat. Meski dibatasi hijab tetap saja tidak membantu meredakan ego masing-masing.

“MasyaAllah…, begitu toh, hehehe. Ukhti ada-ada saja. Lagi pula, dia belum tentu jodoh saya kan?” Nia ikut tertawa kecil.

“Tapi kan bisa diusahakan Ukh. Nanti tinggal minta sama Ummu, xixixi…” Aisyah lagi-lagi tertawa kecil. Ia benar-benar berharap sahabatnya itu bisa menikah dengan sang Direktur sebelah. Menurutnya, keduanya jika dipasangakan akan menjadi pasangan yang saling menyempurnakan. Lebih dari itu, mereka sama-sama direktur di bimbingan belajar mereka sehingga mendiskusikan tentang program mereka akan lebih muda.

Waktu berlalu begitu saja. Obrolan mereka tempo hari terlupa tanpa bekas. Nia sibuk dengan tugasnya, begitupun dengan Aisyah. Suatu hari, saat usai tarbiyah, Aisyah dan Murabbiyahnya terlibat perbincangan yang serius.

“Bagaimana Aisyah?”

“Saya harus membicarakannya dulu dengan orang tua saya Ummu.” Asiyah menjawab bijak. Ia tidak mungkin memutuskan hal besar tanpa melibatkan kedua orang tuanya.

“Baiklah. Ummu akan menunggu jawabanmu.”

Sehari berselang. Aisyah sudah mendapatkan persetujuan dari orang tuanya perihal dirinya yang akan ta’aruf dengan seorang ikhwan. Dia pun menanyakan perihal tersebut pada sahabatnya, Nia. Nia begitu senang mendengar hal itu karena itu berarti Aisyah sudah merasa siap menikah dan jika ta’aruf ini berjalan lancar, maka sahabatnya itu akan menikah dalam waktu dekat.

Sore itu Aisyah terlihat sedikit murung. Ia baru saja pulang dan segera menghampiri Nia.

“Loh, abis ta’aruf kok mukanya murung?” goda Nia.

“Sebenarnya bukan dia yang aku harapkan.” Aisyah nampak lesu.

“Maksud ukhti, ukthi punya seseorang yang ukhti sukai?” tanya Nia tak percaya.

“Bukan ukh. Bukan itu maksudnya. Tadinya aku berharap ikhwan itu akan ta’aruf dengan akhwat yang lain.”

“Loh, kok gitu?” Nia penasaran.

“Iya. Soalnya ikhwan itu Direktur sebelah, Ukh…” Aisyah nampak semakin lesu.

Mendengar kalimat sahabatnya, Nia tersenyum lebar. Ia malah menahan tawa.

“Ukhti kok malah senyam-senyum sih? Aku kan maunya dia nikah sama ukhti.” Aisyah menatap sahabatnya.

“Yang mengatur jodoh kan Allah ukh. Allah juga yang tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Iya kan? Terus, ukhti nggak nolak kan?”

“Ya nggak. Abisnya, aku nggak punya alasan yang syar’i untuk menolak, hehehe…” Aisyah mulai memperlihatkan senyumnya. Meski ia ingin sekali sang ikhwan menikah dengan sang sahabat tapi Allah lebih ingin dialah yang menikah dengan laki-laki itu. Ya, karena Allah Maha Tahu segalanya.

Nia tersenyum bahagia. Ia memeluk sahabatnya erat. Aisyah pun begitu. Ia balas memeluk sahabatnya.

Ukhti, tak perlu cemas. Bahagia ukhti adalah bahagiaku juga, Nia membatin.

***

Beberapa bulan pun berlalu. Kini bukan lagi Nia yang mewakili akhwat berbicara saat rapat dengan tim ikhwan. Aisyah lah yang telah mengambil alih. Dengan begitu rapat akan berjalan lancar tanpa hambatan apalagi gontok-gontokkan karena di malam sebelumnya Aisyah dan sang Direktur sebelah sudah rapat lebih dulu ^_^

Selesai

_Nurhudayanti Saleh_

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s